Showing posts with label kartun. Show all posts
Showing posts with label kartun. Show all posts

2013-07-03

Resensi komik : 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik


 Resensi Buku 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik
Jika dalam dunia kesusasteraan dikenal istilah memparafrasekan puisi menjadi karangan prosa. Maka buku ini bolehlah jika kita sebut 'memparafrasekan' karangan serius menjadi sebuah komik - tepatnya jalinan komik strip.

Adalah penerbit Cendana Art Media yang berinisiatif menerbitkan buku berjudul 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik. Yang tak lain merupakan adaptasi dari hasil penelitian ilmiah yang juga telah diterbitkan dengan judul yang sama.

Di mata saya, Cendana Art Media merupakan penerbit favorit karena konsen mengeluarkan komik-komik buatan asli Indonesia, penyegar dahaga di tengah gempuran komik jepang yang mengepung dari segala penjuru, untuk semua kalangan usia. Terutama seri komik 1001, yang asli mengundang ngakak- tak sebatas senyum saja, karena lucu dan segar banget.

Termasuk juga dalam buku 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik ini. Seusai tuntas membaca buku ini, saya menangkap beban berat kolaborasi dua komikus muda berbakat - Kurnia (Koel) H Winata dan Kickers Arsyad - dalam menerjemahkan kandungan buku 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia karangan Ali Akbar, peneliti Sosial Budaya dan Dosen Arkeologi Universitas Indonesia. Sehingga, humornya nyaris gagal membangkitkan sunggingan senyum saya.

Ya, saya gagal paham. Humor-humor yang berusaha dibuatnya terasa tidak orisinil, kecuali di beberapa bagian saja. Terasa sekali idenya tidak spontan. Mungkin ini disebabkan karena proses pengerjaannya yang terlalu panjang, sehingga spontanitasnya menguap si tengah jalan. Di mana komik ini digarap berdua, yakni Kickers Arsyad dan Kurnia H Winata (story board) serta ada dua komikus kondang di belakangnya yakni Ismail (Sukribo) selaku supervisor dan Beng Rahadian selaku editor dari Cendana Art Media. Komposisi dahsyat sebenarnya.

Mungkin ini resikonya menterjemahkan karangan orang lain. Sehingga, imajinasi terkungkung oleh 'pakem' yang secara alamiah muncul oleh definisi dan pembicaraan yang ada dalam buku induknya.

Atau bisa juga saya keliru, terlalu berharap buku ini dapat memantik tawa melalui humor segar nan spontan. Sehingga, hasil kajian serius survey tentang ciri negatif orang indonesia yang mungkin saja bisa lucu secara verbal, namun kurang 'nendang' dari segi penggarapan ide komik sebagai sebuah sequential art.

Bisa jadi pula, desakan penerbit yang hanya mengizinkan satu sub ide tuntas dalam satu halaman saja. Sehingga, duo komikus ini harus benar-benar jungkir balik memeras ide dan memangkas gambar sepadat mungkin. Dan hasilnya, sekali lagi saya gagal paham untuk mencerna maksud setiap panel komik stripnya. Kecuali, Saya musti balik ke bagian kiri atas untuk membaca judul dari setiap #chapternya barulah menganguk tanda mengerti, apa yang ingin disampaikan oleh komikus.

Atau kemungkinan terakhir, saya musti baca buku induknya dulu, 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia baru bisa nyambung dengan maksud buku ini. Atau memang buku ini hanya menjadi ilustrasi buku induk yang dijual terpisah? Haha-ha.. Saya pasti salah.

Okelah, mungkin sekali lagi saya yang salah karena berharap kelucuan spontan dari buku ini - sebagaimana khasnya buku-buku komik terbitan Cendana Art Media sebelumnya. Karena, buku ini bagus dari segi misi. Yakni ingin menunjukkan 9 ciri negatif orang indonesia #dalam format komik. Yang memuat kritik sosial untuk kita tertawakan bersama. Tawa getir tentunya. Karena boleh jadi, kita menjadi salah satu yang tersindir di dalamnya.

Ada tentang keramahan kita sebagai orang Indonesia terhadap bule yang datang berkunjung ternyata ada maunya. Atau tentang betapa pendidikan korupsi yang tanpa sadar sudah berlangsung bahkan kepada anak tetangga kita sendiri. Semuanya miris terasa.

Semuanya digambarkan dengan kartun yang bersih dan rapi, khas sekali finishing ala Sukribo, komik strip yang muncul setiap pekan di harian Kompas.
 Resensi 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik
 Resensi 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik
 Resensi 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik
 Resensi 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik

Jika memang dari ke semua sifat itu, yakni : ramah, malas, tidak disiplin, korupsi, emosional, individualis, suka meniru, rendah diri, boros, percaya tahayul, bodoh, pengoceh, munafik, sombong dan kreatif, ada pada diri anda, maka SELAMAT! berarti anda adalah manusia Indonesia tulen..

Hampir kelupaan, di akhir komik, terselip empat halaman komik tambahan, tentang behind the scene pembuatan komik ini, dari masing-masing perspektif mereka berdua. Di sinilah saya melihat 'karya asli' mereka yang asli dan spontan, walau masih berupa sketsa kasar saja.

Oh ya, saya baru sadar ada 15 ciri yang dibicarakan dalam kumpulan komik strip ini. Tapi mengapa diberi judul 9 ciri saja ya? Ah, sekali lagi saya gagal paham pemirsa..

Selamat membaca!

2012-04-13

Siapa Bilang Buat Komik itu Gampang?

Saya upload lagi koleksi kartun saya. Sebenarnya, komik (?) singkat ini dibut untuk dimuat dalam kompilasi komik anak-anak INK studio Palembang. Tapi karena sayanya telat (biasa sok sibuk, sok banyak kerjaan :( ) jadinya, deadline terlampaui.

Hem, silakan dinikmati saja deh.. Soalnya, membuat komik itu ternyata sulit juga. Terutama untuk saya yang pemula, bellum pernah bikin komik panjang sekalipun..

Kalau ada saran, kritik atau pengen sharing silakan di bagian komentar saja ya..
Doain juga biar saya istiqomah belajar buat komik..
Amin!

>





2012-04-12

Kartun BBM : Siswa Cerdas

Yak, kartun BBM lagi. Mungkin kalo naskah humornya, teman-teman sudah pernah membacanya di tempat lain. Tapi kalo versi kartunnya, hanya ada di sini. Kalo, ada yang nemu di tempat lain, berarti copas dari sini..

Selamat menikmati!

Kartun BBM : Tujuh Gombalan Ajaib

Kalo selama ini kita mengenal adanya 7 Keajaiban Dunia, 7 Keajaiban Rezeki nah, untuk Kartun BBM edisi sekarang, judulnya Tujuh Gombalan Ajaib. Lumayan untuk meredakan stress..

Semoga bermanfaat dan semoga menginspirasi... :)

Kartun BBM : 7 Gombalan Ajaib

2012-04-10

Kartun BBM : Siapa Paling Hebat?

Kartun BBM merupakan kartun yang saya buat berdasarkan humor dari broadcast BBM (Blackberry Messanger). BBM memang bentuk layanan chat yang luar biasa menurut saya. Karena, tidak hanya tulisan yang bisa dikirim, menyisipkan emoticon, foto hingga dokumen bisa dikirim via handheld BB.

Nah, daripada kartun-kartun tadi hilang begitu saja dari memori BB, lebih baik saya abadikan dalam bentuk kartun BBM. Kepengennya sih, bisa buat banyak-banyak terus dibukukan. Tolong diaminkan ya.. :)

Selamat menikmati!

2011-10-06

Resensi : "Curhat Tita"

Banyak alternatif buku untuk pelepas penat setelah sibuk beraktivitas. Dan di antara buku-buku yang ada, banyak pula buku alternatif yang berbeda dan unik.

Salah satunya, adalah Curhat Tita yang dibuat oleh Tita Larasati. Dari covernya, Tita mencoba mengusung genre baru, Graphic Diary. Ya, semacam  jurnal bergambar yang menceritakan hal-hal sepele dalam kehidupannya.

Hampir tak ada gambar sempurna yang bisa kita temui di dalam buku ini. Itupun kalau kita memberikan aturan bahwa gambar sempurna adalah yang memiliki satu tarikan garis dominan saja. Tidak terjadi pengulangan garis dari ilustrasi yang terbentuk dan distorsi yang tak perlu.

Karena sesungguhnya, gambar yang dimuat dalam buku setipis 88 halaman ini, adalah hasil seleksi dari sekian banyak coretan sketsa kasar yang dibuatnya saat waktu-waktu perlu dibuangnya. Ia mengaku, selama tinggal di Belanda, waktu yang ia miliki banyak terbuang dalam bentuk kerja : Menunggu! (Killing Time at Heinekenplein)

Menurut penuturannya di bagian selimut bukunya, saat awal-awal tinggal di Jerman (ia sempat magang di Jerman selama satu tahun) ia rutin mengabari keluarga di Indonesia dengan cara mengirimkan coretan sketsa di kertas berukuran A4 melalui mesin faks. Dan tak dinyana, keluarga di Indonesia kemudian mengcopy dan disebarkan ke saudara-saudara dan teman-teman lain. Ketika itulah ia tahu, bahwa curhat dan catatan hariannya juga telah menjadi milik orang lain.

Keseluruhan gambar yang terangkum dalam Curhat Tita ini menggunakan bahasa Inggris, entah apa alasannya. Mungkin ia lebih nyaman mengungkapkan ekspresi hatinya dengan bahasa inggris, karena kosakata bahasa inggris yang cenderung lebih singkat dan straight ke makna sesungguhnya. Salah satunya dalam fragmen : "Things to do when you're a tourist in Amsterdam', ia menganjurkan untuk tak sungkan melebur dengan aktivitas masyarakat yang ditemui. Kalau kebetulan melintas daerah esek-esek (red light district - Ia menyebutkan sedemikian) jangan lupa sambil menetang kaleng bir, atau singgahlah ke toko kopi dan pesanlah minuman atau yang agak unik, berjalan keliling sambil membawa tas segitiga poster museum. Maksudnya mungkin biar kita nggak terlihat aneh.  Dan nasihat paling penting, bawalah peta agar tidak tersesat!

Tita Larasati, merupakan jebolan Desain Produk Industri ITB. Pada awal 1998, ia pergi ke Belanda untuk melanjutkan studi. Setelah mendapatkan gelasr doktor dari Universitas Teknologi Delft, di awal 2007 ia kembali ke Indonesia. Selama tinggal di Belanda, kegemarannya pada komik membuatnya terlibat dalam beberapa acara, pameran dan workshop.

Buku Curhat Tita ini bukanlah buku baru, karena dirilis pada di tahun 2008. Dan karena buku yang saya dapatkan ini merupakan cetakan pertama, jadi saya kurang tahu dan pula kurang informasi, sudah berapa kali mengalami cetak ulang. Kalaupun memang hanya sekali dicetak, yah apa boleh buat berarti karya eksperimental ini kurang disenangi oleh pasar yang terlalu disesaki oleh manga dan kawan-kawan.

Sebagai sebuah karya eksperimen dan berada di luar jalur arus utama yang ada, resiko seperti ini harus diterima. Biasalah, resiko bisnis yang mempertimbangkan selera pasar. Paling tidak bila sebuah karya tak mampu memenuhi selera pasar, ia akan mudah mengambil ceruk sebagai medium ekspresi berkesenian.

Gambar imut dan maha sederhana yang ia buat sebagai tokoh utama dalam setiap ceritanya, merupakan representasi dirinya baik secara fisik maupun cerita yang dialaminya. Muka bulat tomat, dengan dua titik saja yang menandai mata dan hidung yang baru muncul bila ia sedang melihat ke samping serta baju kemeja kotak-kotak, berhasil mewujudkan citra dirinya sepenuhnya.

Saya sendiri mengenal seorang Tita Larasati dari milis komik alternatif. Dan menjadi istimewa di mata saya, karena ia membuat komik yang berbeda dengan mainstream yang ada. Dan itu aku suka! Satu-satunya kekurangan yang ada pada buku Curhat Tita ini adalah kualitas lem covernya yang buruk, sehingga baru baca dua kali saja, covernya sudah renggang mau lepas. Salam komik!


2011-10-05

Resensi "Hidup Itu Indah"

Edan! Maut! Nekat! Gila!

Entah idiom apalagi yang bisa saya sampirkan untuk Komik Opini bertajuk 'Hidup Itu Indah' terbitan Cendana Art Media. Terus terang saja, baru kali ini saya membaca buku yang mampu mengulek-ulek perasaan saya jadi gemas, geram, tersinggung atau malah latah ikut-ikutan untuk memberi label 'sesat' atau yang lebih halus sedikit 'mbeling' untuk pengarangnya!
Awalnya, saya tertarik untuk membaca buku ini karena dipromosikan oleh Mas Beng Rahadian, 'bapaknya' Abdul Selotif di wall Facebook. Beliau ini salah satu kartunis favorit saya. Saya kirain ini karya Mas Beng, tapi ternyata cuma sebatas editornya saja.

Trus, baru terakhir-terakhir ini saya berkesempatan memesannya via bukabuku.com. Penyebabnya, lewat Comical Magz edisi September, terpampang headline 'Aji Prasetyo : Komikus yang Dikafirkan'. Waduh! Saya jadi penasaran, apa yang menyebabkannya mendapat labelisasi seperti itu.

Diawali dengan komik singkat tentang Obituari untuk sahabatnya, buku ini diawali dengan Bab I yang bertajuk Hidup Itu Indah. Saya lahap komik dan narasi opininya dengan bergairah. Semuanya menceritakan tentang aspek sosial, kisah pertemanan, dan kisah-kisah terpinggirkan lainnya. Kenapa bergairah? Karena gambarnya bagus-bagus, tanpa ada rasa manga sama sekali. Berasa lokalnya. Tulisannya pun enak banget dibaca, khas tulisan pemerhati sosial.

Oya, buku ini diberi klasifikasi komik opini. Pas sekali, karena isinya, ya komik - ya opini. Disebut komik yang menyampaikan opini komikusnya. Atau benar-benar opini yang menjauhi bahasa gambar, berupa tulisan artikel. Tapi semuanya tetap menyenangkan untuk dibaca dengan pikiran terbuka.

Kenapa harus terbuka? Karena, begitu anda memasuki Bab II Komoditi itu Bernama Agama, mulailah emosi pembaca dimain-mainkan oleh ide-ide 'liar' sang pengarang, yang ternyata tidak berprofesi murni sebagai komikus.

Semuanya dapet giliran untuk dihujat - tak perlu lagi memakai bahasa halus 'disentil' misalnya. Karena, Aji sendiri tak sungkan membiarkan kalimat-kalimat khas garis keras, dipakai dalam dialog ataupun narasi komiknya. Sebut saja radikal, teroris, bidah dan kafir dan sejenisnya.

Orang yang mempunyai pemikiran semacam FPI atau aktivis muslim fanatik, pastilah akan tertampar keras dengannya. Bahkan, beberapa opini yang diangkatnya, menjungkirbalikkan kemapanan berpikir sekaligus menyerang secara frontal kaum agamawan (Diwakili dalam opini Setan Menggugat atau yang ini Down to Earth Yuk?), politisi (Adalah Tema yang Membosankan) atau bahkan orang media sendiri (Suatu Siang di Depan Televisi; de Reality Show)

Benar-benar harus bisa menerima perbedaan pendapat bila ingin membaca buku ini. Kalau tidak, saya sarankan jangan baca! Masih banyak buku lain yang bisa memberi manfaat untuk Anda.

Tapi ya dasar manusia, semakin dilarang semakin besar keingintahuannya. Ya sudah, silahkan tanggung sendiri akibatnya!

Saya tidak berada dalam posisi untuk mengatakan karya Aji Prasetyo ini salah atau benar. Walau, di bagian hati kecil saya ada beberapa fragmen dan cerita yang benar-benar menyinggung secara frontal. Tapi okelah, saya anggap itu bagian dari kebebasan berpendapat.

Bahwa buku Hidup Itu Indah terlalu nekat (bukan hanya berani) saya jawab IYA! Wilayah yang dibahasnya jelas menyerempet wilayah kritis yang bisa saja 'membahayakan' jiwanya. Oh tidak, saya tidak mengancam. Tapi pilihan Aji untuk mengangkat radikalisasi agama Islam tentu sudah pasti akan menyinggung kelompok dan kalangan tertentu.

Sebenarnya banyak tema yang dibahas oleh Aji secara indah, diluar tema-tema sensitif di atas. Ada tentang Potret pendidikan anak miskin, benturan budaya Barat-Arab-Lokal. Tentang Perang Jawa (Diponegoro) tentang sinetron dan lainnya. Namun tetap saja, kegeraman seorang Aji terhadap aliran Islam garis keras tertentu yang dengan mudahnya mengkafirkan, membidahkan, menghalalkan darah muslim yang tidak sepaham terasa kuat sekali meledak-ledak di sini. Semoga ini sebatas opini yang diharapkan menjadi perhatian semua pihak. Bukan sekedar muntahan kemarahan yang dijiwai oleh kebencian.

Sekali lagi, karya Aji Prasetyo ini anggap saja sebagai sebuah hasil kreativitas, tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Apalagi sampai main vonis. Bersikap elegan tentu lebih baik. Kalau tidak suka, jangan teruskan membacanya. Kalau merasa ada yang perlu diklarifikasi, silahkan langsung ke pengarang. Punya kemampuan menganalisis dan punya teman bisa menggambar komik? Oh, itu malah keren bila mampu mengcounternya dengan buku dan medium yang sama. Saya malah bersedia berkolaborasi (*Promosi gratisan he-he..) Dengan demikian makin banyak karya-karya cerdas yang bisa disandingkan secara sehat dan tak perlu maen bakar atau maen gontok-gontokan.

Menjelang akhir bukunya, Aji Prasetyo cukup cerdas untuk menetralisir emosi pembacanya dengan menghadirkan kisah 'Boneng and The Gang' di bagian akhir. Tidak dalam bentuk komik ataupun kartun, melainkan mirip sebuah cerpen. Salut untuk keberanian seorang Aji dalam beropini!!

Palembang, 05 Oktober 2011