2017-04-02

Senyum Kemenangan Fathir!


Namanya Muhammad Fathir Maulana, usianya baru 5 tahun. Nama panggilannya Fathir, sedangkan nama 'aku'-nya Atil - karena lidahnya masih cadel. Ia anak kedua saya. Dibanding dengan kakak perempuannya, kulit Fathir lebih hitam, hidungnya mancung.

Sepintas ada muka-muka orang India. Kata isteri sih, buyut jauh dari makde (neneknya-red), ada yang menikah dengan orang India. Jadi mungkin itu gen resesif yang muncul di Fathir.

Ok. Demikian perkenalan singkatnya.

Tanpa hendak membandingkan kasih sayang orangtua kepada anaknya - apalagi, katanya seorang Ayah akan lebih menyukai anak laki-laki, faktanya punya anak lelaki memang melahirkan energi kasih yang lebih besar. Hal itulah yang saya rasakan.

Di samping itu, Fathir telah memberikan banyak pelajaran kepada saya. Salah satunya :

Jangan Remehkan Tekad Kuat Anak-Anak!

Jika banyak motivator yang memberikan ceramahnya menggunakan analogi kegigihan seorang anak belajar berjalan : meskipun berulang kali jatuh, namun tetap semangat.

Maka, di depan mata, 'motivasi' itu berbentuk pelajaran hidup yang menakjubkan dari anak sendiri. Penasaran?

Begini cerita lengkapnya.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya Selasa (28/3/2017), saat tengah asyik bekerja di rumah, Fathir tiba-tiba pulang dari main membawa sepeda roda empatnya. Langsung teriak dari halaman, "Abiii!! Paske loda sepida Atil. Atil nak cak Kak Indi".

Saya refleks menoleh. Langsung paham dengan perkataannya yang berarti, ia meminta lepaskan roda kiri-kanannya, pengen bersepeda roda dua kayak kakak Rendi, anak tetangga sebelah rumah.

"Sebentar ya, Abi lagi kerja. Tunggu, satu berita lagi", kata Saya.

Belum lima menit, ia kembali ngoceh-ngoceh, "Abii, ipaske loda sepida Atil." (1)

Kali ini, ia datang menyeret toolbox saya.  Ia tahu alat-alat mekanik ada dalam kotak kecil berwarna hitam hijau itu.

Akhirnya, saya pun bangkit dari tempat duduk dan mulai menghampirinya. "Memang Fathir sudah berani?"

"Blani!"(2), jawabnya mantap.

"Lepas satu roda saja dulu ya, nanti kalo sudah bisa, baru lepas semua", kata saya lagi.

"Idak! Lepaslah galo-galo. Atil pengen cak Kakak Indi", (3) ulangnya.

Malas berdebat dan tak ingin mematahkan semangatnya, maka saya pun lepaskan satu-persatu roda-roda sampingnya. Sambil bergumam dalam hati, paling-paling nanti juga ia ribut minta dipasangkan lagi.

Tak sampai sepuluh menit, sepeda itu pun siap dengan dua rodanya.

"Skalang, Abi lewangi Atil. Dolong Atil dali belakang", (4) ucapnya memberi perintah untuk menemaninya bermain sepeda dan mendorong dari belakang.

Ho-ho, boleh juga anak ini. Tapi saya tak mau langsung 'kalah', Saya pun menawar, "Sebentar ya, Abi upload satu-dua berita dulu..", sahut saya, sambil langsung kembali ke kursi kerja.

Ia pun menunggu sambil duduk manis di dekat sepedanya. Tapi itu tidak lama, jeda sepeminuman teh, si Fathir memberikan komando lagi.

"Abii.., cepetlah !!", katanya sambil bersedekap dan memandang ke arah saya. Serius sekali mimiknya. Kerutan kening ia tekuk dalam-dalam hingga kedua alis nyaris tertaut. Inilah jurus andalan Fathir, jika keinginannya belum terpenuhi.

"Yo-yo, sudah ini. Ayo kita berangkat".

Maka, jadilah dua beranak ini, di bawah terik matahari yang mulai menyengat, bermain sepeda. Saya mendorong melalui sadelnya sambil menjaga keseimbangan dan ia mulai mengayuh.

Karena terbiasa dengan bantuan dua roda kecil, di kanan-kiri sepeda, maka ia pun sesekali oleng. Matanya lebih sering melihat ke belakang. Mewaspadai jika saya kabur dan tidak memeganginya.

Meski begitu ia terus mengayuh. Tak terhitung lagi, sudah berapa kali pedal sepeda mendarat di tulang keringnya. Ia hanya meringis kecil, terus mendorong pedal lagi. Semangat sekali.

Dua puluh menit saya mandi keringat, karena harus ikut lari-larian. Sementara, muka Fathir juga sudah memerah. Saya yang menyerah duluan. "Fathir, pulang dulu yuk. Abi mo kerja lagi"

"Idak. Atil masih nak maen sepida", (5) jawabnya tanpa menoleh lagi ke saya.

Ya sudah, saya pun ngeloyor pulang. Cari minum, terus ngejoglok lagi di depan komputer. Maklumlah, saya bekerja sebagai admin web sekaligus editor di salah satu portal berita lokal. Jadi memungkinkan untuk bekerja secara remote, alias dari rumah.

Balik lagi ke cerita Fathir.

Tak lama, Fathir pulang sambil menuntun sepedanya. Mukanya memerah, dibanjiri keringat. Begitupun juga dengan bajunya, basah. Kakinya kotor penuh debu. Betisnya banyak garis-garis hitam, bekas terkena rantai sepeda. Sementara dua sikunya lecet, ada bekas darah yang mengering. Rupanya ia terjatuh. Saya diam tidak berkomentar.

Senyum kemenangan Fathir, meski dua luka lecet hiasi dua sikunya
Fathir segera mengambil air galon, dan meminumnya. Setelah itu ia cabut lagi. "Abi, Atil nak maen lagi". (6)

"Mau Abi temani?"

"Idak usah. Abi lagi gawe. Atil dewekan bae". (7)


Wuelah, keren nih anak saya. Pengertian banget ya..

Dan begitulah, tanpa menyerah ia terus belajar mengayuh pedal sepeda. Bergantian kaki kiri dan kanannya, menyanggah tubuh mungilnya, mencari titik keseimbangan.

Menjelang sore, ia latihan bersama kakaknya, yang baru pulang dari sekolah siangnya. Ia tambah semangat sementara kakaknya juga ikut mengiring sambil bersepeda pula.

Dan inilah yang saya sebut tekad baja seorang anak. Saat pulang, kakaknya dengan sumringah memberi tahu kami bahwa Fathir sudah bisa bersepeda.

Saya dan isteri melongo, saling berpandangan tak percaya. Sementara di belakang, mengiring Fathir sambil senyam-senyum penuh arti. Bak seorang tentara yang baru pulang dari medan perang dengan membawa kemenangan.

"Atil la pacak Abi, Atil la biso besepida Umi", (8) ujarnya dengan mata berbinar.

"Alhamdulillah, selamat ya", ucap kami bersamaan penuh syukur. Ya kesyukuran atas sebuah kemandirian yang ditunjukkan oleh Fathir.

Inilah inspirasi saya : Fathir

Pelajaran berharga dari Fathir

Sepertinya sepele, anak belajar bersepeda lalu bisa. Namun bagi saya ini sangat luar biasa!

Bagaimana tidak, "hanya" butuh waktu satu hari saja bagi Fathir untuk belajar bersepeda roda dua. Tekad dan keberanian yang sangat patut dicontoh.

Dan dari senyum kemenangan yang menghias bibirnya, seolah merupakan sebentuk deklarasi atas kemenangannya dalam memenangkan tindakan inisiatif, mengalahkan rasa takut dan berhasil menggugurkan keraguan banyak orang.

Berikut selengkapnya poin penting yang bisa saya simpulkan :

Pertama, ia datang kepada saya minta dilepaskan roda samping sepedanya. Padahal, kami tidak pernah sekalipun meminta ia untuk melepasnya. Ini mengajarkan kepada saya tentang niat, inisiatif dan antusiasme.

Kedua, pelajaran berikutnya adalah berani. Atau kata orang dewasa, disebut sebagai tindakan "Action!". Andai saja, ia mengenal kata takut dan mengalasankan resiko jatuh dari sepeda, yang bisa menyebabkan memar dan luka di kaki. Bisa saja ia akan mundur dan lebih baik mengambil aman.

Ketiga, tentang usaha dan proses. Memang, bukan proses instan jika pada hari itu Fathir bisa "langsung" bersepeda. Karena, sudah enam bulan lebih ia memakai sepedanya saat masih beroda empat. Jadi, mustahil seseorang bisa menguasai suatu bidang tanpa mempelajarinya dengan tekun. Soal berhasil atau tidak pada hari-H, tentu akan sangat tergantung dengan keulatan pada saat belajar.

Gagal? Itu biasa. Jatuh dari sepeda? Sudah pasti. Menyerah? Malulah sama anak kecil..  


Sepeda Fathir
Gambar di atas, merupakan sepeda Fathir, hasil "modifikasi" dari sepeda kakaknya. Semula ini jenisnya sepeda anak perempuan. Berkelir merah jambu, ada keranjang di depannya, dan ada box pula di belakangnya. Setelah dilangsir ke adiknya beberapa tahun kemudian, sepeda itu dirombak total menjadi warna biru, segala aksesoris berbau perempuan dilepas dan rodanya pun diganti dengan ban pejal.

Jadi lebih macho!

Meski demikian, tidak dipungkiri, perubahan itu tak mampu menutupi kesan butut pada sepeda itu. Wajarlah, setelah dua tahun di tangan kakaknya, baru diwariskan ke Fathir.

Sabar ya Nak, tunggu genapkan usiamu masuk sekolah nanti. Abi akan menghadiahkan sepeda baru untuk mu. Abi sudah lihat di Elevenia, ada sepeda anak yang bagus, harganya sekitar 800-ribuan. Mudah-mudahan ada rezekinya nanti untuk anak hebat seperti kamu.

Sepeda keren

Hadiah yang tentunya sangat engkau idam-idamkan. Yang dulu, sempat menjadi keinginan, namun kemudian engkau 'mengalah' untuk menerima lengseran saja dari kakakmu. Mengingat saat itu keuangan lagi pas-pasan, sehingga sepeda pun tidak masuk ke dalam prioritas belanja.

Dan Abi kira engkau pantas mendapatkannya. Karena Abi menyayangimu. Lebih dari sekedar karena engkau adalah darah daging Abi, tapi engkau telah mengajarkan tentang pelajaran hidup yang sangat penting; tentang tekad, keberanian dan langsung action!

Sesuatu yang - entah mengapa, di dunia orang dewasa menjadi hal yang begitu rumit. Menjadi mahal. Karena untuk mendapatkannya secara konsisten, harus diberikan pelatihan berbayar dan dilakukan berulang-ulang untuk mengubah mindset-nya.

My Lovely Family

Terima kasih Nak. Abi sayang Fathir. Sebagaimana Abi menyayangi Umi dan Kakakmu Nayla.

-----

Glosarium :
1. Abi, lepaskan roda sepeda Fathir
2. Berani!
3. Tidak mau! Lepaskan semuanya saja. Fathir pengen kayak Kakak Rindi
4. Sekarang, temani Fathir main sepeda. Dorong Fathir dari belakang!
5. Tidak mau. Fathir masih ingin main sepeda.
6. Abi, Fathir mau main lagi
7. Tidak usah. Abi lagi kerja. Fathir main sendirian saja
8. Fathir sudah bisa Abi. Fathir sudah bisa bersepeda Umi

-----
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Cerita Hepi Elevenia


2017-03-25

Gegasnya Metamorfosa Teknologi dan Hebatnya Generasi Muda Tanah Air



Masih segar dalam ingatan saya, saat baru memasuki dunia kerja di tahun 2009 lalu, paparan teknologi informasi yang dipicu gelombang Teknologi 3G begitu terasa. Euforianya yang gegap gempita, seperti menyeret langkah kaki ini untuk ikut merasakan hal yang sama.

Tapi kini, di tahun 2017 atau tepatnya sejak kuartal ketiga 2016 lalu, loncatan itu terasa lebih jauh lagi. Tatkala para operator telekomunikasi mulai melakukan ujicoba sekaligus memperkenalkan teknologi 4,5 G mereka. Teknologi yang digadang-gadang memberikan banyak kemudahan.

Meski "ter-ngangap" melihat betapa gegasnya perkembangan teknologi ini berlintasan di depan mata kita. Namun, syukurlah tidak sampai membuat kita tergagap. Sejak satelit Palapa mengangkasa beberapa dekade silam, maka Indonesia telah membuka tabir lompatan teknologi, menjadi sejajar dengan dunia luar. Tak ada lagi yang menyangsikan kemampuan Indonesia, baik sebagai bangsa maupun dari skill individu.

Saya tertarik menulis tentang perkembangan dunia teknologi informasi, karena dari sini banyak muncul telenta muda yang mumpuni di bidangnya. Bahkan bidang-bidang yang satu dasawarsa sebelumnya, tidak dikenal sama sekali.

Sejarah Perkembangan Teknologi Seluler Tanah Air

Tak dipungkiri, perkembangan teknologi mutakhir di dasawarsa terakhir, tak lepas dari perkembangan teknologi informasi yang dimulai dari perpindahan besar-besaran dari data analog pada akhir tahun 1970-an menjadi data digital. Khususnya bagi teknologi seluler.

GSM sebagai teknologi carrier dan menjadi inti penting dalam teknologi informasi, mulai dikembangkan pemerintah di penghujung tahun 1993 melalui PT Telkom yang membuka era Sistem Telekomunikasi Bergerak Selular (STBS) di Pulau Batam dan Bintan, sebagai pilot project.

Andai saja pemerintah tidak segera tanggap untuk melakukan langkah intervensi-investasi strategis tersebut, mungkin sekarang, Indonesia tidak akan mampu menyejajarkan langkah dengan bangsa-bangsa lain di dunia teknologi informasi.

Tak dipungkiri, dulu para 'tetua' negri ini banyak yang memandang sebelah mata terhadap keputusan untuk mewujudkannya, mengingat saat itu adalah era gurih-gurihnya berbisnis telpon rumah dan telpon berbasis satelit.

Selengkapnya tentang evolusi teknologi seluler di tanah air ini, bisa dilihat dalam infografik di bawah ini.

Infografis Perkembangan Teknologi Seluler di Indonesia

Teknologi Membantu Memperbaiki Kualitas Kehidupan

Harus diakui, kemajuan teknologi telah membantu memperbaiki kualitas kehidupan. Sesuatu yang dulu mustahil, kini nyata dan riil. Lebih dari itu, teknologi membuat semuanya menjadi mudah dan murah.

Termasuk pula, teknologi informasi telah memungkinkan setiap orang bisa saling terhubung, walau berbeda tempat dan juga waktu. Transfer data dalam ukuran jumbo menjadi hal yang biasa. Mulai dari transfer dokumen hingga finansial.

Sebagai contoh di bidang pemerintahan, dikenal yang namanya e-Government. Terus terang saja , masalah terbesar dalam pelayanan publik di negara ini adalah berbelitnya birokrasi dan biaya yang "mahal". Mahal di sini adalah waktu yang terbuang, banyaknya kertas dokumen yang harus diisi dan bolehlah jika hendak disebut : mahal karena adanya pungli sistemik yang dilakukan para oknum!

Namun kini, sedikit demi sedikit semangat untuk memperbaiki tersebut sudah terus diwujudkan oleh pemerintah. Selain ada KPK yang mengawasi di tingkat atas, kini juga sudah ada Tim Saber Pungli yang menyapu di lini bawah.

Sementara dari infrastruktur pelayanan, e-government sudah dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir. Seperti e-filling SPT Pajak, e-parking, pembayaran STNK di mal, nomor antrian yang bisa diambil sejak jauh hari sehingga tidak banyak waktu yang terbuang percuma dan sebagainya.

Selain yang sifatnya pelayanan kepada masyarakat yang dikenal sebagai G2C (Government to Citizen), e-government juga diterapkan dalam bentuk G2B (Government to Business) dan G2G (Government to Government).

Selain pemerintah, pihak swasta juga memanfaatkan sepenuhnya perkembangan teknologi informasi ini. Terutama kalangan perbankan. Karena, harus diakui, ekonomi dan bisnis menjadi urat nadi bagi keberlangsungan suatu negara. Tanpa teknologi dan infrastruktur yang mumpuni, tentu akan menjadi hal yang mustahil untuk mewujudkan kemajuan di bidang ekonomi tersebut.

Dalam dunia perbankan, kini hampir setiap lapisan masyarakat menikmati apa yang disebut sebagai e-banking. Kemudahan untuk menarik uang, mengecek saldo dan mentransfer uang tersebut ke rekening yang lain hanya dalam hitungan menit saja. Seiring dengan semakin kuatnya teknologi seluler, beriring dengan teknologi enkripsi yang semakin baik.

Kemudahan dalam melakukan transaksi, seperti e-commerce, juga memungkinkan arus perputaran uang secara daring menjadi lebih cepat, dan tentu saja akan mempengaruhi laju perekonomian bangsa ke arah yang lebih baik.

Dan tentu saja, masih banyak bentuk kebaikan yang dihasilkan dari loncatan kemajuan teknologi ini di berbagai bidang.

Mereka Generasi Muda Tanah Air yang Hebat!

Lalu bagaimana dengan skill individu anak muda di bidang teknologi?

Sungguh, saya tak henti-hentinya merasa kagum dengan mereka para anak muda tanah air. Di tengah gegap gempita teknologi dan hiruk-pikuk dunia politik, mereka tetap berkarya. Skill mereka makin terasah dengan adanya teknologi informasi.

Kehadiran teknologi informasi, mendorong mereka untuk lebih mengeksplor kemampuan. Dunia terbuka lebar, kesempatan untuk belajar dan mengenal banyak mitra di luar negeri, menjadikan mereka expert di bidang masing-masing.

Siapa saja mereka? Di bawah ini, saya kumpulkan 5 anak muda yang sukses memanfaatkan perkembangan teknologi.

1. Nadiem Makarim, Pendiri Gojek yang Fenomenal

Siapa yang tak kenal jika disebut Gojek?


Ojek online berbasis aplikasi ini, kini nilai kapitalisasinya sudah berada di angka Rp 7,2 Triliun. Dan hebatnya lagi, startup ini asli buatan anak negeri, yang bernama Nadiem Makarim. Bersama dengan Michaelangelo Maron, Nadiem mendirikan perusahaan teknologi PT Gojek Indonesia pada 2011 silam. Keduanya jeli melihat fenomena lokal yang ada di tengah masyarakat dan memberinya sentuhan teknologi.

Dan kini, siapa sangka, driver mitra Gojek sudah tembus 200 ribu partner pengemudi motor dan mobil, menjalin kerjasama dengan 35 ribu merchant Go Food serta 3.000 penyedia layanan on demand lainnya. Aplikasinya sendiri, sudah didownload lebih dari 20 juta kali.

2. Nixia, Gamer Cewek Berpenghasilan Ratusan Juta


Monica Carolina a.k.a Nixia
Cantik dan manis. Namun gahar saat menyelesaikan tantangan kompetisi game. Dialah Monica Carolina alias Nixia yang menjadi ratu gamer. Namanya menghias aneka kompetisi, baik di dalam maupun di luar. Setidaknya, ada dua puluhan kompetisi yang ia menangkan sejak terjun total sebagai gamer profesional tahun 2009 silam.

Setidaknya saat ini, penghasilannya sudah mencapai ratusan juta rupiah per bulannya. Jumlah itu ia dapatkan dari hadiah perlombaan maupun dari brand-brand teknologi ternama yang menjadi sponsornya. Sebut saja, mereka mendapatkan gaji US$ 10 juta atau setara Rp130 juta yang dibayar setiap tiga bulan.

Dahsyat!

3. Eka Lesmana, Mantan Pengangon Bebek Sukses Jadi Blogger Jutawan


Eka Lesmana sempat menjadi pemberitaan
Namanya Eko Purwanto. Namun, sapaan akrabnya adalah Eka Lesmana. Ia menjadi fenomena di antara para blogger publisher yang mencari dolar melalui blog. Sempat bekerja meng-angon bebek milik pamannya, lalu kemudian pernah pula bekerja sebagai pelayan toko. Kini, ia menjadi blogger yang paling dicari untuk dimintai wejangan terkait internet marketing.

Penghasilannya sudah menyentuh 4 digit dolar. Atau kalau dirupiahkan, bisa ratusan juta rupiah per bulannya! Semuanya didapat dari keahlian meracik konten blognya sehingga senantiasa berada dalam posisi teratas mesin pencari Google. Dan dari situ, setiap iklan yang diklik ia akan mendapatkan dolar.

4. Alva Jonathan, 'Tukang Kulik' Hardware Harumkan Nama Indonesia di Pentas Dunia Overclocking


Profesi yang satu ini bener-bener asing di telinga orang awam. Bahasa teknisnya, overclocking itu tindakan untuk meningkatkan kemampuan sebuah komponen dalam satuan clock rate. Ini semacam bentuk 'pemaksaan' bagi sebuah hardware  untuk bekerja di atas kecepatan default pabrikan.

Biasanya, overclocking dijalankan untuk CPU atau GPU saja. Tapi dalam kompetisi bertajuk Galax Overclocking Carnival (GOC) 2016, yang berlangsung di Wuhan, China pada Desember 2016 lalu itu, komponen yang akan 'disiksa' adalah kartu grafis Nvidia varian GTX 1060 Galax.

Normalnya, clock speed kartu tersebut sebesar1620 MHz dan boost clock-nya dijaga pada 1847 MHz saja.

Tapi, di tangan Alva, kartu grafis itu didongkrak hingga memiliki clock 3 GHz atau naik sekitar dua kali lipat! Aje gile bener kan.. Nama Indonesia pun berkibar di antara 11 overclocker lainnya dan untuk itu ia diganjar hadiah 3000 Yuan atau setara Rp57 juta.

5. Irvan Pahlevi, Programmer Asal Jambi yang Diakui Dunia

Irvan Pahlevi (paling kanan) bersanding dengan pendiri Google Larry Page
(paling kiri) dan Jan Koum (Whatsapp).
Nama Irvan Pahlevi mungkin jarang terdengar. Namun, mahasiswa asal Jambi ini ternyata bersanding dengan nama beken Larry Page - salah seorang pendiri Google, dalam sebuah ajang kompetisi Aplikasi skala internasional yang akan digelar di Nigeria, Afrika Barat, Juni 2016 lalu.

Tak hanya menjadi juri, Irvan juga didapuk sebagai mentor dalam acara tersebut!

Dalam kesehariannya, Irvan adalah seorang programmer multi platform. Seperti aplikasi android, aplikasi Iphone, aplikasi komputer dan website. Kliennya pun lebih banyak yang datang dari luar negeri.

Atas hubungan klien inilah, ia pun diundang untuk menjadi juri oleh salah satu partnernya Itmed Technologies yang ternyata berasal dari Nigeria, untuk event bertajuk Akua Ebom App Chalenge. 

Kamu pun Bisa!

Hayo, siapa yang tidak ngiler lihat mereka, yang usianya masih duapuluhan mampu mengeruk kekayaan dari ranah teknologi informasi sesuai dengan minat masing-masing.

Tak mengapa, apapun keahliannya, di era internet of thing ini, kamu bisa menjadi mahir di bidang yang diinginkan. Bagaimana caranya? Sok, disimak beberapa tips di bawah ini :

1. Kenali potensi diri.

Era teknologi informasi, adalah era keterbukaan. Filosofinya kamu harus bisa terbuka terhadap diri sendiri. Jujurlah apa yang menjadi konsen kamu, kenali potensi diri. Tak harus meniru orang lain, apalagi mengekor.

2. Sesuaikan dengan teknologi yang ada.

Jangan kuatir. Kamu tidak terlahir di jaman batu. Semuanya sudah tersedia. Tinggal kamu gali dan temukan akses ke sumber ilmunya. Apalagi, teknologi sudah menyelusup ke seluruh relung kehidupan. Jadi, kamu tinggal mencari bentuk teknologi yang sesuai dengan minat dan potensi.

3. Belajarlah dengan keras!

Tak ada cara lebih cepat untuk menaikkan taraf kehidupan kecuali dengan belajar. Apalagi saat ini sumber untuk mempelajari sesuatu ilmu sangat berlimpah. Namun, jika ingin menjadi lebih mahir lagi, kamu bisa pilih tempat belajar yang asyik, fleksibel dan tentu saja bisa menambah skill kamu.

Jika ingin belajar tentang web programming, web master, digital marketing hingga desain grafis, salah satu tempat yang saya rekomendasikan adalah Dumet School. 

4. Action!

Jika ilmu sudah didapat, jangan lupa segera action. Tak perlu menunggu sempurna, banyak praktek kamu akan bertemu dengan kasus yang lebih rumit. Jika perlu ikuti kompetisi untuk menguji kemampuan kamu.

5. Jangan lupa bersyukur dan berbagi

Last but not least. Apapun pencapaian kamu, jangan lupa bersyukur dan berbagi. Inilah rahasia beberapa orang kenalan saya yang saat ini tengah berada di puncak kesuksesan. Lakukan tindak syukur setiap pagi dan menjelang tidur. Bahwa masih diberi kesempatan untuk belajar dan mengembangkan pengetahuan.

Berbagilah jika ada kelapangan rezeki. Tak harus selalu uang, berbagi ilmu juga sangat dianjurkan. Mereka yang tak pelit berbagi ilmu, maka ilmunya malah makin bertambah dan kemahirannya juga akan semakin berkembang.

Nah, apakah kamu siap menjadi bagian dari perkembangan teknologi? Hayuk, silahkan monggo.. (*)

2017-03-03

Dua Tahun Riaubook.com, Siap Menjadi Pustaka Riau untuk Dunia

Big data era (Foto: net)
Kita hidup dalam era informasi. Suatu era di mana terpaan data yang datang begitu deras, massif dan terstruktur. Ia seringkali menggenang hingga menutupi mata nalar dan menyumbat nafas pengetahuan. Padahal tak jarang data-data tersebut sampah.

Namun jika dipilah lebih jauh, tidak semuanya adalah sampah. Ada saja data bermanfaat yang bersifat jawaban yang berkelindan di dalamnya. Kita harus pintar dalam memilah, jangan sampai menjadi fatalis, membuang semuanya. Hingga, melenyapkan seluruhnya, dari mudharat hingga ke manfaat, tanpa tedeng aling-aling.

Ya, kita dituntut pintar dalam memilih informasi. Lebih dari itu, kita pun harus jauh lebih cerdas menyeleksi media yang menyediakan sajian data dan informasi tersebut. Syaratnya adalah, berita langsung diambil dari narasumber dan memenuhi prinsip cover both side ataupun jika mengutip dari media lain, tidak melakukan pemelintiran berita.

Lebih lagi, media pun harus menjaga kredibilitasnya agar tidak menjadi media abal-abal yang doyan menyajikan berita hoax demi mengejar rating. Ya, pemberitaan Hoax telah menjadi momok paling menyebalkan bagi netizen.

Media Online dari Riau

Adalah Riaubook.com yang mencoba tumbuh dari semangat kearifan lokal. Media ini, tengah berkecembah, membentuk akar yang kuat. Menegaskan posisi sebagai penyedia informasi peristiwa bernilai faktualitas di tanah bertuah.

Tak selamanya kelokalan itu bernada miring, bak mengibaratkan katak dalam tempurung. Justru saat ini, semakin mampu menunjukkan identitas kelokalan, semakin ia dicari oleh banyak orang.

Baik mereka yang berasal dan tinggal di sana, maupun perantau asal Riau yang tinggal di kota lain, hingga pihak-pihak ketiga yang ingin mengetahui perkembangan Riau secara langsung dan berasal dari dalam.

Tentu kita tidak akan melupakan asas proximity dalam dunia kewartawanan. Asas kedekatan. Orang Riau akan merasakan hal berbeda jika ada satu berita dengan tema sama, tapi yang satu di Jakarta, misalkan dan yang satunya di Pekanbaru.

Sebagai contoh, kebakaran ribuan los di Pasar Tanah Abang mungkin besar secara nasional, tetapi tidak berpengaruh bagi orang daerah. Tetapi, kebakaran satu los saja di Pasar Tengku Kasim di Pekan Baru, akan menjadi berita besar bagi media lokal.

Kehadiran Riaubook.com sebagai media penyaji informasi dan berita Riau, memberikan khazanah luar biasa dalam hal jurnalistik kedaerahan. Ia menjadi perekam peristiwa kekinian dari berbagai aspek kehidupan. Dan melampaui batas dan jarak, dari kota hingga ke desa. Di 12 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Riau.

Perekaman peristiwa dan dokumentasi faktual ini, jika digarap serius dan mumpuni, akan menjadikan Riaubook.com menjadi semacam kepustakaan online besar tentang Riau yang bisa dijangkau dari seluruh dunia, di manapun kita berada. Membukukan peristiwa, mendokumentasikannya dalam timeline online. Eloklah, jika Riaubook disebut dengan Pustaka Riau untuk Dunia.

Infografik Riaubook.com Facts
Para netizen menjadi punya pilihan untuk mendapatkan informasi yang layak. Dilihat dari keredaksian lokal, sudut pandang kekinian, serta perspektif 'orang dalam' yang tentu saja berbeda dengan media nasional lain saat mencoba mengendus peristiwa yang sama.

Inilah pula, yang digadang-gadang sebagai penerjemahan kearifan lokal dalam bentuk media online. Think global, act local. 

Selamat Ulang Tahun yang Ke-2


Baiklah, secara khusus saya mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-2 bagi Riaubook.com. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat - apalagi, di dalam ranah media online, denyut kehidupannya harus dijalani detik demi detik. Bayangkan, waktu dua tahun itu setara dengan 63,07 juta detik. Wow!

Menjalani sebuah perusahaan media, bukanlah hal yang mudah. Kata wartawan senior teman saya, usaha media itu seperti membakar duit saja. Untung belum kelihatan, modal sudah habis banyak.

Jika tidak punya niat kuat, nekat bermodal dan hubungan yang baik dengan para stake holder, baik ke atas (pemerintah) ke bawah (masyarakat) sebagai mitra, maka mustahillah bisa menjalankannya hingga mampu memasuki tahun ke-3 ini.

Idealisme menjadi pertaruhan dalam membangun entitas perusahaan media ini. Hendaklah ia dapat bertemu dengan keinginan bersama untuk kemajuan pembangunan daerah dengan kesehatan perusahaan dalam neraca keuangan yang baik.

Lima Hal Menarik Tentang Pemberitaan Riaubook.com

Sebelum meloncat jauh untuk menjadi pustaka Riau yang mendunia, redaksi Riaubook tentunya telah terlebih dahulu memberikan yang terbaik dari segi pemberitaan dan kualitas penyajiannya

Apakah ada kriteria khusus untuk menilai sebuah media, apakah termasuk baik ataukah buruk?

Tentu saja jawabannya ada dan banyak pula kriterianya. Tapi di sini, biarlah mata awam saya saja yang menilainya. Di tengah gempuran data dan informasi - seperti yang saya sampaikan di awal tulisan ini, Riaubook.com tetap mencoba memberikan sajian informasi yang jernih.

Maka inilah lima hal yang menarik versi saya tentang pemberitaan Riaubook.com :

1. Berpihak kepada pembangunan (Agent of Development)

Sumber: Riaubook.com
Seperti apapun sebuah media didirikan, bagi saya, menjadi mutlak baginya adalah untuk menjadi bagian dari pembangunan. Mengapa ini penting menurut saya? Karena, media sebagai corong suara publik, haruslah menjadi pendukung utama bagi berjalannya pembangunan.

Indonesia ini sangat luas. Tiap Provinsinya menyimpan kekayaan masing-masing. Media menjadi mitra strategis pemerintah yang sedang berkuasa untuk menyampaikan kemajuan pembangunan, sekaligus menerima umpan balik yang mengkritisinya.

2. Kritis dan Berimbang (The 4th Pillar of Democracy)

Sumber: tjahjokumolo.com
Keutamaan media selanjutnya adalah pada sikap kritis dan berimbang. Meski tetap harus mendukung pembangunan, namun fungsi sebagai social control tetaplah harus dipegang.

Media kredibel tetap mampu menjalankan fungsinya sebagai pilar ke empat dalam kehidupan demokrasi, setelah eksekutif, legistlatif dan yudikatif.

Contoh berita menarik yang saya ambil dari laman Riaubook.com adalah tentang janji-janji gubernur Riau yang belum terlaksana, yang saya capture di bawah ini.

Sumber: Riaubook.com
Sepertinya terlihat kontras antara poin pertama dengan yang kedua. Namun di sinilah cantiknya fungsi sebuah media massa. Di satu sisi mendukung pembangunan di sisi yang lain tetap pada khittah media, menjadi alat kontrol sosial. Tentu dalam kerangka yang konstruktif.

3. Berpihak kepada kemaslahatan masyarakat luas

Sebagai media yang lahir dari rahim masyarakat, sudah sepatutnya sebuah media juga berkontribusi dalam memberikan kemaslahatan bersama. Utamanya yang terkait dengan pembangunan, sektor pelayanan publik, pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial dan lainnya.

Sumber: Riaubook.com
Seperti pada cuplikan berita di atas, Riaubook mengangkat kejadian yang cukup memprihatinkan. Kurang dari 20% saja perusahaan yang membayar pajak. Selebihnya masih ogah. Ini tentu tidak mendukung kebijakan Pak Jokowi dengan amnesti pajak yang baru lalu. Jika pajak tersendat, dari mana pemerintah dapat mengimbangi belanja negara?

Peran yang dimainkan dalam fungsi kemaslahatan bersama ini, sedikit banyak berpengaruh dalam menaikkan 'ranking' di hati masyarakat. Bahwa media online berita Riau memang benar mempunyai niat yang baik, visi yang mulia serta misi yang terukur, dalam hal keberpihakan kepada masyarakat.

Ini ditandai dengan posisi Alexa Riaubook.com dalam aspek lokal semakin naik, menjadi posisi empat untuk media lokal di Riau (lihat infografik di atas).

Ya, dalam pandangan saya, media dalam hal ini, tidaklah harus netral. Ia harus berpihak. Terutama berpihak kepada kebenaran, berpihak kepada masyarakat luas, berpihak kepada Hak Asasi Manusia dan lainnya. Riaubook, saya kira tidaklah sembarangan dalam mengambil sikap terhadap fenomena sosial yang ada.

4. Aspek kelokalan terwakili bagi 12 kabupaten/kota (Proximity)

Menu pemberitaan daerah yang ada di Riaubook.com
Ada 12 Kabupaten/Kota yang ada di Riau. Yakni, Kabupaten Kampar, Indragiri Hulu, Bengkalis, Indragiri Hilir, Pelalawan, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Siak, Kuantan Singingi, Kepulauan Meranti, Kota Pekanbaru dan Kota Dumai.

Riaubook memberikan kanal tersendiri yang ada di bagian menu. Sehingga, pengunjung bisa memilih berita per daerah yang dikehendaki selain arus berita utama yang ada pada timeline situs berita Riau tersebut. Setidaknya, hingga saat ini Riaubook memiliki 6 wartawan aktif untuk Kota Pekanbaru, Sembilan kontributor daerah dan 1 Koordinator Liputan (Korlip) di Jakarta.

5. Memberi ruang pemberitaan yang sama (Egality)

Satu lagi yang menurut saya menarik adalah Riaubook memberikan ruang pemberitaan yang sama untuk semua kalangan. Baik pemerintah maupun swasta, nasional maupun internasional, sipil maupun militer, pehobi maupun komunitas, bisnis maupun komunitas dan lainnya.

Ini akan menunjukkan asas keterbukaan dan keberimbangan. Bahwa, Riaubook tidak berat sebelah. Mengakomodir semua kalangan. Sehingga, keberadaan Riaubook akan menjadi oase bagi eksistensi media yang sehat. Di tengah banalitas para netizen dengan berita hoax, bohong dan tak bergizi lainnya.

Demikian sedikit urun saran dan pandangan saya terkait dengan situs media online Riaubook ini. Tentu saja, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh tim redaksi Riaubook.

Namun demikian, sepenuh hati Saya sangat mendukung gagasan orisinil tentang Pustaka Riau untuk Dunia. Pustaka dalam bentuk media online yang menjadi lebih mudah diakses dari mana saja, dan menjadikannya sebagai media egaliter yang menyejajarkan pembaca.

Salam! (*)


2016-06-21

Download Lagu Selamat Ulang Tahun mp3 Lengkap

Selamat Ulang Tahun mp3

Berulang tahun merupakan momen istimewa bagi setiap orang. Baik anak-anak, remaja, orang dewasa hingga kakek nenek tetap memandang momentum hari ulang tahun adalah istimewa. Tak heran jika kemudian, banyak yang mencari tempat download lagu selamat ulang tahun untuk disimpan dan dinyanyikan secara bersama-sama.
Selamat Ulang Tahun mp3

Jika semula kita hanya akan menemukan mp3 lagu anak selamat ulang tahun saja. Namun, seiring dengan banyaknya penyanyi dan band yang lahir di era 90-an, maka semakin banyak pula lagu selamat ulang tahun yang diciptakan untuk orang dewasa.

Selamat Ulang Tahun mp3

Lagu apa sajakah itu? Di bawah ini saya rangkum beberapa judul lagu selamat ulang tahun yang bisa di download :

Lagu Anak
1. Download Lagu Anak Selamat Ulang Tahun 
2. Download Lagu Anak Selamat Ulang Tahun - Trio Kwek-Kwek
3. Download Lagu Anak Selamat Ulang Tahun - Nia Daniati+Melisa

Lagu Dewasa
4. Download Lagu Selamat Ulang Tahun - Jamrud
5. Download Lagu Selamat Ulang Tahun - Dewi Lestari  
6. Download Lagu Selamat Ulang Tahun - Evie Tamala
7. Download Lagu Selamat Ulang Tahun - Dewa 19
8. Download Lagu Kado Ulang Tahun - Elite
9. Download Lagu Selamat Ulang Tahun - Gigi
10. Download Lagu Selamat Ulang Tahun - Samantha
11. Download Lagu Selamat Ulang Tahun - Niagara

12. Download Lagu Selamat Ulang Tahun Cinta - Tasha Manshahar & Syed Shamim (Malay)

Instrumentalia (Segera Diupload)

Nah, demikian kumpulan lagu selamat ulang tahun mp3 yang bisa didownload. Selamat berbahagia! (*)

2016-05-18

Innalilahi, Deddy Dores Meninggal Dunia

 

Innalillahi wainna illaihi raajiun..
Kabar duka datang lagi dari dunia selebritis tanah air. Deddy Dores menghembuskan nafas terakhirnya Selasa (17/5) malam pukul 23.45 WIB akibat serangan jantung di RS Bintaro Jakarta Selatan.

Deddy Dores dipastikan meninggal dunia, setelah berita tentang kematiannya beredar di broadcast Whatsapp. Kabar tersebut muncul dan menyebar dengan cepat di media sosial dan kalangan netizen. Antara lain dari twitter dengan akun JK Records. "Rest in peace Deddy Dores.. #ripdeddydores #deddydores," tulis @jkrecord.

Ungkapan serupa juga disampaikan oleh musisi senior Indra Lesmana melalui akun twitternya @indralesmana, "Baru saja mendapat kabar duka.. RIP Deddy Dores," tulisnya.



Ungkapan bela sungkawa juga tertera di laman Facebook resmi God Bless. "Telah meninggal dunia, musisi, pencipta lagu, dan salah satu personil awal dari God Bless, Deddy Dores, pada pukul 23.45 malam tadi di rumah sakit International Bintaro. Jenazah akan disemayamkan di rumah duka Jl. Kasuari 11 no.18, Bintaro Jaya sektor 9, dan rencananya akan dimakamkan di Sumedang, Jawa Barat," tulis pengelola akun itu.

Deddy Dores memang sempat bergabung dalam band God Bless dan tercatat sebagai personel peertama band tersebut.

Sebagaimana dikutip dari laman Liputan6.com, musisi kelahiran Surabaya 28 November 1950 ini dikenal sebagai penyanyi dan penulis lagu slow rock. Kepopuleran Deddy Dores antara lain didapat ketika merilis album Hilangnya Seorang Gadis. Album yang dirilis pada 1971 silam itu langsung mengangkat namanya.



Di tahun 90-an Deddy mengorbitkan salah satu penyanyi muda paling berbakat yang pernah dimiliki Indonesia, yaitu Nike Ardilla. Tak cuma mengorbitkan, Deddy juga menjadi rekan duet Nike dalam beberapa lagu. Album Seberkas Sinar (1990) dan Bintang Kehidupan (1992) membuat pamor Nike mencapai puncak.

Namun, kematian sang penyanyi membuat langkahnya menjadikan Nike Ardilla kian terkenal terhenti. Semenjak kematian Nike, Deddy Dores mulai jarang muncul di layar kaca. (*)

2016-02-15

Kisah Teladan Hujan Sang Penjual Koran


Teladan Hujan Sang Penjual Koran
Ilustrasi (Foto: Tribun Lampung)
Kisah Hikmah - Pagi itu, sepulang dari mencari sarapan, aku lihat penjaja koran berteduh di emperan toko. Sejak subuh hujan turun cukup deras, yang membuatnya tidak bisa menjajakan korannya. Terbayang di benakku, tidak ada satu rupiah pun uang yang akan ia peroleh kalau hari terus hujan. Namun, kegalauan yang kurasakan ternyata tidak tampak sedikitpun di wajah Penjual Koran Sang Teladan itu.

Hujan masih terus turun. Kami membisu.

Si penjaja koran pun tetap duduk di emperan toko sambil tangannya memegang sesuatu. Tampaknya seperti sebuah buku. Kuperhatikan dari kejauhan, lembar demi lembar ia baca. Awalnya aku tidak tahu apa yang sedang ia baca. Namun saat kudekati, ternyata Al-Quran yang dibacanya.

Kudekati dan kusapa dia, "Assalamu 'alaikum Pak.."

“Waalaikum salam", ia menoleh sambil menorehkan senyum.

“Bagaimana jualan korannya Pak", tanyaku.

“Alhamdulillah, sudah satu yang terjual,” ucapnya dengan senyum yang belum lepas.

“Wah susah juga ya kalau hujan begini," ku coba membuka cerita.

“Insya Allah ada rizkinya.”

“Terus, kalau hujannya sampai sore?”

“Itu artinya rizki saya bukan jualan koran, tapi banyak berdoa.”

“Kenapa?”

“Karena kata Nabi, saat hujan adalah saat mustajab untuk berdoa. Punya kesempatan berdoa, juga rizki namanya,” ucapnya penuh arti. Tak kulihat segurat jumawa pun dari wajahnya. Sedikit orang yang mampu punya keyakinan seperti ini dalam kondisi sulit.

“Lantas, kalau tidak dapat uang?”, aku terus bertanya.

"Berarti, rizki saya bersabar".

Jleb! Masuk sekali ucapannya ini, menohok kalbu. Aku kejar lagi dengan pertanyaan, “Kalau tidak ada yang dimakan"?

“Berarti rizki saya berpuasa"

“Kenapa Mas bisa berpikir seperti itu?”

“Allah yang di atas, yang memberi  rizki. Apa saja rizki yang diberikan-Nya dan saya mensyukuri. Selama jualan koran, meskipun tidak laku, dan sekalipun harus puasa, tapi saya belum pernah kelaparan," katanya dengan mantap menutup pembicaraan.

Ternyata hujan pagi itu reda. Dan ia pun permisi bersiap-siap untuk berjualan. Ia pamit sambil memasukkan Al Quran ke dalam tas gendongnya.

Tinggallah, Aku termenung menatap punggungnya yang berlalu dari hadapan. Tanpa kusadari kacamataku mulai berembun. Tersaput oleh kucuran tangis. Aku terenyuh. Seakan muncul cermin besar di hadapan sendiri menyimak kalimat tausiah yang diucapkan seorang loper koran.

Ya Tuhan, begitu besarnya Imannya kepada Mu. Rasanya badan ini menciut kerdil. Ada penyesalan di dalam hati. Kenapa kalau hujan aku masih resah-gelisah. Khawatir tidak dapat uang. Khawatir rumahku terendam banjir. Khawatir tidak dapat hadir di undangan.

Khawatir akan penyakit yang berada dalam tubuh. Khawatir akan masa depan anak. Khawatir akan kalah gugatan di pengadilan. Khawatir tidak dapat klien. Khawatir tidak dapat bertemu kawan seprofesi. Dan selaksa kekhawatiran lainnya yang hadir di muka, seakan mencemoohku.

Kembali baru kusadari, rizki bukan semata uang. Bisa bersabar, berpuasa, berdoa, beribadah kesalehan sosial lain apapun itu, adalah juga rizki dari Allah SWT. Rizki hidayah dan bisa bersyukur adalah jauh lebih bermakna daripada pekerjaan dan uang.

Dari apapun juga. 
Copas dari Grup WA (*)

Tag: Teladan Hujan Sang Penjual Koran

2016-02-01

Hasan Al Bashri dan Kuli Pengangkut Air


Kisah Hasan Al Bahri dan Kuli Pengangkut Air

Alkisah, diriwayatkan dalam beberapa kali perjumpaan, Hasan Al Bashri melihat kelakuan seorang kuli pengangkut air yang tak henti-hentinya mengucapkan tahmid (ucapan alhamdulillahirabbil alaammin, red) dan istighfar.

Apa pun yang tengah dikerjakan sang kuli tersebut, bibirnya seakan tak pernah berhenti mengucapkannya. Saat mengangkat wadah air ke bahunya, bibirnya berucap kedua kalimat yang baik itu.

Begitu pula saat memuat air, menuangkannya, memanggul wadah kosong hingga jeda istirahat di antara pekerjaannya, bibirnya senantiasa bergetar melantunkan kalimat tahmid dan istighfar.
Hasan Al Bashri sering mengamatinya dari jauh. Karena merasa tertarik, ia lalu mencari tahu tentang orang tersebut dan berniat mendatangi tempatnya beristirahat. Hingga tibalah saat sang kuli beristirahat. Sang imam lantas menyongsongkan tubuhnya, duduk di samping sang kuli dan bersandar di sebuah pohon.

Rupanya, kuli tadi tidak pernah melihat wajah Hasan Al Bashri dan tidak pernah bertemu langsung. Hanya nama besarnya saja yang sering terdengar. Maka setelah mengucapkan salam, sang imam tak sabar lagi menyampaikan maksud dan tujuannya.

“Aku sering melihat engkau senantiasa berucap kata-kata tahmid dan istighfar itu. Kalau boleh tahu sejak kapan engkau selalu mengucapkan dua kalimat tersebut?,” tanya Hasan Al-Basri.

“Sudah lama”, jawab sang kuli pengangkut air sambil menyeka peluh yang membasahi dahinya.

“Kenapa engkau selalu mengucapkan dua kalimat tersebut?,” tanya Hasan Al-Basri.

Sang kuli  menarik nafas sejenak dan menjawab, “Karena kita selalu berada dalam dua keadaan, kala kita mendapatkan nikmat, seperti nikmat Iman, nikmat Islam dan nikmat kesehatan, kita harus bersyukur kepada Allah.

Namun kala kita berada dalam kondisi lalai, banyak melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat dan menimbulkan kemudharatan, kita harus meminta ampun kepada-Nya,” jawab sang kuli.

Sang Imam menganguk-anguk tanda setuju dengan pendapat sang kuli, “Lalu apa faidahnya jika engkau mengucapkan dua kalimat tersebut?,” tanya Hasan Al-Basri lagi.

“Doa-doaku selalu dikabulkan”, ujarnya tersenyum penuh arti. Namun sesaat kemudian, alisnya turun tanda masih menyimpan kesedihan. “Tapi ada satu doaku yang belum Allah kabulkan,” katanya perlahan.

“Boleh aku tahu doa apa itu?”, ujar sang Imam tambah penasaran.

“Allah belum mengabulkan doaku untuk bertemu dengan ulama yang sangat aku kagumi,” jawabnya dengan wajah tertunduk.

“Siapakah ulama itu?” selidik Imam Hasan Al Bashri. Siapakah gerangan Imam yang menjadi bagian dari doa Sang Kuli.

Lelaki pemanggul air itu terdiam sesaat dalam tunduknya lalu berujar pelan, “Aku ingin bertemu dengan Hasan Al-Basri”

Tertegun sejenak karena kagum, Hasan Al-Basri kemudian memeluk sang kuli  dan berkata, “Sekarang Allah telah mengabulkan doamu, akulah Hasan Al-Basri itu,” ujar Imam Hasan sembari tersenyum lebar.

Sang kuli pun terkejut dan melepaskan pelukan sang imam dan menatap wajah di hadapannya dalam-dalam. Wajah yang bersih, teduh dan memancarkan kedamaian. Mengapa ia tidak memperhatikan lawan bicaranya sejak semula?

Bukankah wajah-wajah teduh seperti inilah wajah khas ulama. Dan kini, di hadapannya duduk sosok Imam yang telah lama dikaguminya. Lantas bibirnya lanjut mengucap puji syukur karena Allah telah mengabulkan doanya. Subhanallah..

Saudaraku, kisah yang berangkat dari kisah hidup Hasan Al Bashri ini mengajarkan kepada kita akan pentingnya untuk senantiasa mawas diri. Baik dalam niat, perkataan dan perbuatan. Saat menerima rizki, sudah sepatutnya kita selalu berucap syukur. Begitupun saat menyadari ada jeda waktu kita yang terlalaikan, maka kalimat istighfar hendaklah tak surut bergumam di bibir ini dan membenarkannya dalam hati. Wallahualam bishawab. (*)

2016-01-11

Qishas Ukasyah kepada Rasulullah Saw


Mencintai Rasulullah

Dalam suatu majelis, menjelang akhir hidup beliau, dalam keadaan badan kurang sehat Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan manusia."

Sahabat membisu, tak ada yang menjawab. Rasulullah Saw lantas mengulangi pertanyaannya. Hingga berdirilah salah seorang sahabat bernama Ukasyah, yang berdiri.

"Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa".
Rasulullah SAW berkata: "Sampaikanlah wahai Ukasyah".

Maka Ukasyah pun mulai bercerita, "Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, suatu ketika engkau menunggang kuda. Lalu engkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. Tetapi cambuk tersebut tidak kena pada belakang kuda, tapi justru terkena pada dadaku, karena ketika itu aku berdiri di belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah".

Mendengar itu, Rasulullah SAW berkata: "Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama."

Dengan suara yang agak tinggi, Ukasyah berkata: "Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah."

Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak marah pd Ukasyah. "Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah. Bukankah Baginda sedang sakit..!?"

Ukasyah tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah SAW lalu meminta Bilal mengambil cambuk di rumah anaknya Fatimah. Bilal pun segera berangkat dan meminta cambuk itu dari Fatimah, kemudian Fatimah bertanya: "Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?"
Bilal menjawab dengan nada sedih: "Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untuk memukul Rasulullah"

Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata, "Kenapa Ukasyah hendak pukul ayahku? Ia sedang sakit, kalau mau mukul, pukullah aku anaknya".

Bilal menjawab: "Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua". Bilal kemudian membawa cambuk tersebut ke Masjid lalu diberikan kepada Ukasyah.

Setelah mengambil cambuk, Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah. Tiba-tiba Abu bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ya Ukasyah! Kalau kamu hendak memukul, pukullah aku. Aku orang yang pertama beriman dengan apa yang Rasulullah SAW sampaikan. Akulah sahabatnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku".

Rasulullah SAW: "Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".

Kemudian Umar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata, "Ukasyah! Kalau engkau mau mukul, pukullah aku. Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya, itu dulu. Sekarang tidak boleh ada seorangpun yang boleh menyakiti Rasulullah Muhammad. Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah, maka langkahi dulu mayatku!"

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW, "Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".

Seterusnya berturut-turut berdirilah Ali bin Abi Thalib dan dua cucu kesayangan Rasulullah Saw, Hasan dan Husain mencoba membujuk Ukasyah menawarkan pengganti diri Rasulullah Saw. Namun, diingatkan bahwa urusan tersebut antara Ia dan Ukasyah.

Setiba di hadapan Rasulullah, Uksayah berkata, "Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah"

Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah. Tanpa berlama-lama dalam keadaan lemah, Rasulullah membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yang sangat indah, sedang beberapa batu terikat di perut Rasulullah pertanda Rasulullah sedang menahan lapar.

Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW, cambuk di tangannya ia buang jauh-jauh, kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW seerat-eratnya. Sambil menangis sejadi-jadinya, Ukasyah berkata, "Ya Rasulullah, ampuni aku, maafkan aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu.

Seumur hidupku aku bercita-cita dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka. Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah."

Rasulullah SAW dengan senyum berkata, "Wahai sahabat-sahabatku semua, kalau kalian ingin melihat ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah!"

Semua sahabat meneteskan air mata. Kemudian para sahabat bergantian memeluk Rasulullah SAW dan mencium Ukasyah. Allahumma shalli ala Muhammad.. (*)

2015-11-29

Mastaho’tum

Apa itu Mastatho'tum

Banyak jalan kita mendapatkan kebaikan. Begitu juga saat saya menemukan istilah Mastatho'tum, justru dari seorang Mas Dian Tegal. Internet Marketer yang berpenghasilan ratusan juta tiap bulannya. Dan berikut hakikat istilah apa itu Mastatho'tum.

Adalah Syaikh DR Abdullah Al Azzam, salah seorang ulama pejuang yang sangat disegani. Ia yang mampu mengobarkan semangat juang bagi para mujahidin Afghanistan semasa perjuangan melawan Uni Sovyet.

Suatu hari ia ditanya oleh seorang muridnya, “Ya Syaikh, apakah yang dimaksud dengan mastatho’tum?”

Sang murid menanyakan kata yang terdapat di dalam Al Quran, tepatnya di di Surat At Taghabun ayat 16, yang berbunyi fattaqullaha mastatho’tum. “Bertakwalah kepada Allah sebatas kemampuanmu”.

Apakah yang dimaksud dengan “Sebatas kemampuan” tersebut?

Sang Syaikh lalu mengumpulkan dan membawa murid-muridnya ke lapangan. Ia kemudian meminta semua muridnya untuk berlari mengelilingi lapangan semampu mereka. Tidak ditentukan berapa putaran, hanya diminta berlari saja seusai kemampuan fisik murid-muridnya.

Apa itu Mastatho'tum


Titik dan waktu keberangkatan sama, akan tetapi waktu akhir dan jumlah putaran setiap murid berbeda.

Satu putaran, para murid masih mampu menghela nafas lari. Memasuki putaran kedua, sebagian mulai terlihat kelelahan. Nafas mulai memburu tak karuan. Di putaran ketiga, lebih dari separuh para muridnya mengancungkan tangan tanda menyerah lalu menyingkir ke pinggiran lapangan.

Sebagian kecil masih terus berlari dan di putaran kelima, sudah tidak ada lagi yang sanggup berlari. Menepi kelelahan. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga, semampu mereka.

Setelah semua muridnya menyerah, duduk mengaso di pinggir lapangan. Sang Syaikh tanpa banyak bicara, mulai berlari mengelilingi lapangan. Para murid saling berpandang keheranan. Semua murid kaget dan tidak tega melihat gurunya yang sudah tua itu kepayahan.

Satu putaran, sang syaikh masih berseri-seri. Dua putaran mulai pucat pasi. Tiga putaran mulai kehilangan kendali. Menuju putaran yang ke-4 sang syaikh makin tampak kelelahan, raut mukanya memerah, keringat bertetesan, nafas tersengal-sengal tidak beraturan. Sesekali ia berjalan perlahan, namun beliau tetap berusaha.

Ia terus berlari sekuat tenaga, dari cepat, melambat, melambat lagi, hingga kemudian beliau pun terhuyung tanpa penyangga. Energinya terkuras habis tak tersisa. Beliau jatuh pingsan, tak sadarkan diri.
Para murid lantas berlarian menghambur ke arah sang syaikh yang terkapar di tanah. Mereka lantas ramai-ramai menggotongnya ke tempat yang lebih teduh dan berusaha memberikan pertolongan seadanya.

Tak lama, setelah beliau siuman dan terbangun, ia disodori minum dan seteguk air segar membasahi kerongkongannya. Baru kemudian, murid lainnya bertanya, “Syaikh, apa yang hendak engkau ajarkan kepada kami?”

Setelah mengatur nafas, ia lalu berkata “Muridku, inilah yang dinamakan titik mastatho’tum. Titik di mana saat kita berusaha semaksimal tenaga sampai Allah sendiri yang menghentikan perjuangan kita,” jawab Sang Syaikh dengan mantap.

* * *

Inilah bentuk ikhtiar tertinggi yang dilakukan seorang mahluk untuk memenuhi panggilan Tuhannya. Seseorang melakukan suatu usaha dengan sekuat tenaga dengan kemampuan yang ia miliki sampai titik terendah.

Hakikatnya mastatho'tum ialah memotivasi diri seseorang untuk berusaha atau berikhtiar dengan segala kesanggupannya hingga Allah mengakhiri usaha mereka sesuai dengan kesanggupan yang seseorang miliki. Dengan tujuan agar seseorang tidak menyerah di tengah jalan atau malas dalam berusaha apalagi sampai berputus asa dari Rahmat Allah Ta'alla.

Jangan mudah mengambil kesimpulan bahwa di sanalah batas kemampuan kita. Padahal itu hanyalah sebentuk penutupan (execuse) terhadap kelemahan diri. Berjuang sampai titik akhir, itulah yang dikehendaki dari setiap ikhtiar kita.

Wallahualam. (*)

2015-11-22

Apakah Sudah Penuh?

Seorang guru besar masuk ke dalam ruangan kuliah sambil menenteng sebuah toples gelas ukuran besar. Di letakkannya toples tersebut di atas meja di hadapan para mahasiswanya.

Sang Guru memberi isyarat kepada para mahasiswanya untuk melihat apa yang ia kerjakan. Lantas, diraihnya kantong plastik yang ia bawa bersama dengan toples tadi dan mengeluarkan beberapa bola tenis dari dalamnya. Lalu, sang guru mengisinya dengan bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya: "Apakah sudah penuh?"


Para mahasiswa mengernyitkan kening dan dengan sedikit angukan kepala mereka menjawab, “Ya sudah penuh”.
Lalu sang guru mengeluarkan kelereng dari laci mejanya dan memasukkannya ke dalam toples tadi. Dengan sedikit bantuan dan goncangan, kelereng-kelerang tersebut mengisi sela-sela bola tenis hingga kelihatan tidak muat lagi. Beliau bertanya : "Apakah Sudah penuh?"

Kali ini, audiens menjawab agak lebih yakin : "Ya sudah penuh!".

Sang guru melanjutkan eksperimennya dengan menuangkan pasir pantai yang ia bawa ke dalam toples yang sama. Pasir pun mengisi ruang-ruang kosong yang ada di antara bola tenis dengan kelereng sehingga tidak bisa muat lagi.

Dan seluruh audiens pun mengangukkan kepala, bersepakat kalau toples gelas memang sudah penuh dan tidak ada yang bisa dimasukkan lagi ke dalamnya.

Namun, rupanya sang guru masih menyimpan eksperimen pemungkasnya. Ia menuangkan secangkir air kopi ke dalam toples tadi yang sudah penuh dengan bola, kelereng dan pasir itu.

Sesaat suasana mendadak senyap. Sang Guru kemudian menjelaskan bahwa, "Hidup kita kapasitasnya terbatas seperti toples. Masing-masing dari kita berbeda ukuran toplesnya.

Bola tenis adalah hal-hal besar dalam hidup kita, yakni tanggung-jawab terhadap Tuhan, orang tua, istri/suami, anak-anak, serta makan, tempat tinggal dan kesehatan. Sedangkan Kelereng adalah hal-hal yang penting, seperti pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar sarjana, dan sebagainya.

Sementara pasir adalah simbol dari perkara lain dalam hidup, seperti olah raga, nyanyi, rekreasi, Facebook, BBM, WA, nonton film, model baju, model kendaraan dan lainnya.

Perhatikan! Jika kita isi hidup kita dengan mendahulukan pasir hingga penuh, maka kelereng dan bola tenis tidak akan bisa masuk. Berarti, hidup kita hanya berisikan hal-hal kecil. Hidup kita habis dengan rekreasi dan hobi, sementara untuk beribadah kepada Tuhan dan keluarga terabaikan.

Jika kita isi dengan mendahulukan bola tenis, lalu kelereng dan seterusnya seperti yang kita lakukan tadi, maka hidup kita akan lengkap, berisikan mulai dari hal-hal yang besar dan penting hingga hal-hal yang menjadi pelengkap.

Karenanya, kita harus mampu mengelola hidup secara cerdas dan bijak. Tahu menempatkan mana yang prioritas dan mana yang menjadi pelengkap. Jika tidak, maka hidup bukan saja tdk lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali", urai sang guru panjang lebar.

Tiba-tiba ada tangan yang teracung, “Wahai guru, lantas apa makna dari secangkir air kopi yang dituangkan terakhir tadi?”

Sang guru besar tersenyum penuh arti dan berucap, "Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, jangan lupa masih bisa disempurnakan dengan bersilaturahim sambil minum kopi, dengan tetangga, teman, sahabat yang hebat. Jangan lupakan sahabat lama. Saling bertegur sapa, saling senyum bila berpapasan. Betapa indahnya hidup ini! (*)