Showing posts with label kartun. Show all posts
Showing posts with label kartun. Show all posts

2013-07-03

Resensi komik : 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik


 Resensi Buku 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik
Jika dalam dunia kesusasteraan dikenal istilah memparafrasekan puisi menjadi karangan prosa. Maka buku ini bolehlah jika kita sebut 'memparafrasekan' karangan serius menjadi sebuah komik - tepatnya jalinan komik strip.

Adalah penerbit Cendana Art Media yang berinisiatif menerbitkan buku berjudul 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik. Yang tak lain merupakan adaptasi dari hasil penelitian ilmiah yang juga telah diterbitkan dengan judul yang sama.

Di mata saya, Cendana Art Media merupakan penerbit favorit karena konsen mengeluarkan komik-komik buatan asli Indonesia, penyegar dahaga di tengah gempuran komik jepang yang mengepung dari segala penjuru, untuk semua kalangan usia. Terutama seri komik 1001, yang asli mengundang ngakak- tak sebatas senyum saja, karena lucu dan segar banget.

Termasuk juga dalam buku 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik ini. Seusai tuntas membaca buku ini, saya menangkap beban berat kolaborasi dua komikus muda berbakat - Kurnia (Koel) H Winata dan Kickers Arsyad - dalam menerjemahkan kandungan buku 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia karangan Ali Akbar, peneliti Sosial Budaya dan Dosen Arkeologi Universitas Indonesia. Sehingga, humornya nyaris gagal membangkitkan sunggingan senyum saya.

Ya, saya gagal paham. Humor-humor yang berusaha dibuatnya terasa tidak orisinil, kecuali di beberapa bagian saja. Terasa sekali idenya tidak spontan. Mungkin ini disebabkan karena proses pengerjaannya yang terlalu panjang, sehingga spontanitasnya menguap si tengah jalan. Di mana komik ini digarap berdua, yakni Kickers Arsyad dan Kurnia H Winata (story board) serta ada dua komikus kondang di belakangnya yakni Ismail (Sukribo) selaku supervisor dan Beng Rahadian selaku editor dari Cendana Art Media. Komposisi dahsyat sebenarnya.

Mungkin ini resikonya menterjemahkan karangan orang lain. Sehingga, imajinasi terkungkung oleh 'pakem' yang secara alamiah muncul oleh definisi dan pembicaraan yang ada dalam buku induknya.

Atau bisa juga saya keliru, terlalu berharap buku ini dapat memantik tawa melalui humor segar nan spontan. Sehingga, hasil kajian serius survey tentang ciri negatif orang indonesia yang mungkin saja bisa lucu secara verbal, namun kurang 'nendang' dari segi penggarapan ide komik sebagai sebuah sequential art.

Bisa jadi pula, desakan penerbit yang hanya mengizinkan satu sub ide tuntas dalam satu halaman saja. Sehingga, duo komikus ini harus benar-benar jungkir balik memeras ide dan memangkas gambar sepadat mungkin. Dan hasilnya, sekali lagi saya gagal paham untuk mencerna maksud setiap panel komik stripnya. Kecuali, Saya musti balik ke bagian kiri atas untuk membaca judul dari setiap #chapternya barulah menganguk tanda mengerti, apa yang ingin disampaikan oleh komikus.

Atau kemungkinan terakhir, saya musti baca buku induknya dulu, 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia baru bisa nyambung dengan maksud buku ini. Atau memang buku ini hanya menjadi ilustrasi buku induk yang dijual terpisah? Haha-ha.. Saya pasti salah.

Okelah, mungkin sekali lagi saya yang salah karena berharap kelucuan spontan dari buku ini - sebagaimana khasnya buku-buku komik terbitan Cendana Art Media sebelumnya. Karena, buku ini bagus dari segi misi. Yakni ingin menunjukkan 9 ciri negatif orang indonesia #dalam format komik. Yang memuat kritik sosial untuk kita tertawakan bersama. Tawa getir tentunya. Karena boleh jadi, kita menjadi salah satu yang tersindir di dalamnya.

Ada tentang keramahan kita sebagai orang Indonesia terhadap bule yang datang berkunjung ternyata ada maunya. Atau tentang betapa pendidikan korupsi yang tanpa sadar sudah berlangsung bahkan kepada anak tetangga kita sendiri. Semuanya miris terasa.

Semuanya digambarkan dengan kartun yang bersih dan rapi, khas sekali finishing ala Sukribo, komik strip yang muncul setiap pekan di harian Kompas.
 Resensi 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik
 Resensi 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik
 Resensi 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik
 Resensi 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik

Jika memang dari ke semua sifat itu, yakni : ramah, malas, tidak disiplin, korupsi, emosional, individualis, suka meniru, rendah diri, boros, percaya tahayul, bodoh, pengoceh, munafik, sombong dan kreatif, ada pada diri anda, maka SELAMAT! berarti anda adalah manusia Indonesia tulen..

Hampir kelupaan, di akhir komik, terselip empat halaman komik tambahan, tentang behind the scene pembuatan komik ini, dari masing-masing perspektif mereka berdua. Di sinilah saya melihat 'karya asli' mereka yang asli dan spontan, walau masih berupa sketsa kasar saja.

Oh ya, saya baru sadar ada 15 ciri yang dibicarakan dalam kumpulan komik strip ini. Tapi mengapa diberi judul 9 ciri saja ya? Ah, sekali lagi saya gagal paham pemirsa..

Selamat membaca!

2012-04-13

Siapa Bilang Buat Komik itu Gampang?

Saya upload lagi koleksi kartun saya. Sebenarnya, komik (?) singkat ini dibut untuk dimuat dalam kompilasi komik anak-anak INK studio Palembang. Tapi karena sayanya telat (biasa sok sibuk, sok banyak kerjaan :( ) jadinya, deadline terlampaui.

Hem, silakan dinikmati saja deh.. Soalnya, membuat komik itu ternyata sulit juga. Terutama untuk saya yang pemula, bellum pernah bikin komik panjang sekalipun..

Kalau ada saran, kritik atau pengen sharing silakan di bagian komentar saja ya..
Doain juga biar saya istiqomah belajar buat komik..
Amin!

>





2012-04-12

Kartun BBM : Siswa Cerdas

Yak, kartun BBM lagi. Mungkin kalo naskah humornya, teman-teman sudah pernah membacanya di tempat lain. Tapi kalo versi kartunnya, hanya ada di sini. Kalo, ada yang nemu di tempat lain, berarti copas dari sini..

Selamat menikmati!

Kartun BBM : Tujuh Gombalan Ajaib

Kalo selama ini kita mengenal adanya 7 Keajaiban Dunia, 7 Keajaiban Rezeki nah, untuk Kartun BBM edisi sekarang, judulnya Tujuh Gombalan Ajaib. Lumayan untuk meredakan stress..

Semoga bermanfaat dan semoga menginspirasi... :)

Kartun BBM : 7 Gombalan Ajaib

2012-04-10

Kartun BBM : Siapa Paling Hebat?

Kartun BBM merupakan kartun yang saya buat berdasarkan humor dari broadcast BBM (Blackberry Messanger). BBM memang bentuk layanan chat yang luar biasa menurut saya. Karena, tidak hanya tulisan yang bisa dikirim, menyisipkan emoticon, foto hingga dokumen bisa dikirim via handheld BB.

Nah, daripada kartun-kartun tadi hilang begitu saja dari memori BB, lebih baik saya abadikan dalam bentuk kartun BBM. Kepengennya sih, bisa buat banyak-banyak terus dibukukan. Tolong diaminkan ya.. :)

Selamat menikmati!

2011-10-06

Resensi : "Curhat Tita"

Banyak alternatif buku untuk pelepas penat setelah sibuk beraktivitas. Dan di antara buku-buku yang ada, banyak pula buku alternatif yang berbeda dan unik.

Salah satunya, adalah Curhat Tita yang dibuat oleh Tita Larasati. Dari covernya, Tita mencoba mengusung genre baru, Graphic Diary. Ya, semacam  jurnal bergambar yang menceritakan hal-hal sepele dalam kehidupannya.

Hampir tak ada gambar sempurna yang bisa kita temui di dalam buku ini. Itupun kalau kita memberikan aturan bahwa gambar sempurna adalah yang memiliki satu tarikan garis dominan saja. Tidak terjadi pengulangan garis dari ilustrasi yang terbentuk dan distorsi yang tak perlu.

Karena sesungguhnya, gambar yang dimuat dalam buku setipis 88 halaman ini, adalah hasil seleksi dari sekian banyak coretan sketsa kasar yang dibuatnya saat waktu-waktu perlu dibuangnya. Ia mengaku, selama tinggal di Belanda, waktu yang ia miliki banyak terbuang dalam bentuk kerja : Menunggu! (Killing Time at Heinekenplein)

Menurut penuturannya di bagian selimut bukunya, saat awal-awal tinggal di Jerman (ia sempat magang di Jerman selama satu tahun) ia rutin mengabari keluarga di Indonesia dengan cara mengirimkan coretan sketsa di kertas berukuran A4 melalui mesin faks. Dan tak dinyana, keluarga di Indonesia kemudian mengcopy dan disebarkan ke saudara-saudara dan teman-teman lain. Ketika itulah ia tahu, bahwa curhat dan catatan hariannya juga telah menjadi milik orang lain.

Keseluruhan gambar yang terangkum dalam Curhat Tita ini menggunakan bahasa Inggris, entah apa alasannya. Mungkin ia lebih nyaman mengungkapkan ekspresi hatinya dengan bahasa inggris, karena kosakata bahasa inggris yang cenderung lebih singkat dan straight ke makna sesungguhnya. Salah satunya dalam fragmen : "Things to do when you're a tourist in Amsterdam', ia menganjurkan untuk tak sungkan melebur dengan aktivitas masyarakat yang ditemui. Kalau kebetulan melintas daerah esek-esek (red light district - Ia menyebutkan sedemikian) jangan lupa sambil menetang kaleng bir, atau singgahlah ke toko kopi dan pesanlah minuman atau yang agak unik, berjalan keliling sambil membawa tas segitiga poster museum. Maksudnya mungkin biar kita nggak terlihat aneh.  Dan nasihat paling penting, bawalah peta agar tidak tersesat!

Tita Larasati, merupakan jebolan Desain Produk Industri ITB. Pada awal 1998, ia pergi ke Belanda untuk melanjutkan studi. Setelah mendapatkan gelasr doktor dari Universitas Teknologi Delft, di awal 2007 ia kembali ke Indonesia. Selama tinggal di Belanda, kegemarannya pada komik membuatnya terlibat dalam beberapa acara, pameran dan workshop.

Buku Curhat Tita ini bukanlah buku baru, karena dirilis pada di tahun 2008. Dan karena buku yang saya dapatkan ini merupakan cetakan pertama, jadi saya kurang tahu dan pula kurang informasi, sudah berapa kali mengalami cetak ulang. Kalaupun memang hanya sekali dicetak, yah apa boleh buat berarti karya eksperimental ini kurang disenangi oleh pasar yang terlalu disesaki oleh manga dan kawan-kawan.

Sebagai sebuah karya eksperimen dan berada di luar jalur arus utama yang ada, resiko seperti ini harus diterima. Biasalah, resiko bisnis yang mempertimbangkan selera pasar. Paling tidak bila sebuah karya tak mampu memenuhi selera pasar, ia akan mudah mengambil ceruk sebagai medium ekspresi berkesenian.

Gambar imut dan maha sederhana yang ia buat sebagai tokoh utama dalam setiap ceritanya, merupakan representasi dirinya baik secara fisik maupun cerita yang dialaminya. Muka bulat tomat, dengan dua titik saja yang menandai mata dan hidung yang baru muncul bila ia sedang melihat ke samping serta baju kemeja kotak-kotak, berhasil mewujudkan citra dirinya sepenuhnya.

Saya sendiri mengenal seorang Tita Larasati dari milis komik alternatif. Dan menjadi istimewa di mata saya, karena ia membuat komik yang berbeda dengan mainstream yang ada. Dan itu aku suka! Satu-satunya kekurangan yang ada pada buku Curhat Tita ini adalah kualitas lem covernya yang buruk, sehingga baru baca dua kali saja, covernya sudah renggang mau lepas. Salam komik!


2011-10-05

Resensi "Hidup Itu Indah"

Edan! Maut! Nekat! Gila!

Entah idiom apalagi yang bisa saya sampirkan untuk Komik Opini bertajuk 'Hidup Itu Indah' terbitan Cendana Art Media. Terus terang saja, baru kali ini saya membaca buku yang mampu mengulek-ulek perasaan saya jadi gemas, geram, tersinggung atau malah latah ikut-ikutan untuk memberi label 'sesat' atau yang lebih halus sedikit 'mbeling' untuk pengarangnya!
Awalnya, saya tertarik untuk membaca buku ini karena dipromosikan oleh Mas Beng Rahadian, 'bapaknya' Abdul Selotif di wall Facebook. Beliau ini salah satu kartunis favorit saya. Saya kirain ini karya Mas Beng, tapi ternyata cuma sebatas editornya saja.

Trus, baru terakhir-terakhir ini saya berkesempatan memesannya via bukabuku.com. Penyebabnya, lewat Comical Magz edisi September, terpampang headline 'Aji Prasetyo : Komikus yang Dikafirkan'. Waduh! Saya jadi penasaran, apa yang menyebabkannya mendapat labelisasi seperti itu.

Diawali dengan komik singkat tentang Obituari untuk sahabatnya, buku ini diawali dengan Bab I yang bertajuk Hidup Itu Indah. Saya lahap komik dan narasi opininya dengan bergairah. Semuanya menceritakan tentang aspek sosial, kisah pertemanan, dan kisah-kisah terpinggirkan lainnya. Kenapa bergairah? Karena gambarnya bagus-bagus, tanpa ada rasa manga sama sekali. Berasa lokalnya. Tulisannya pun enak banget dibaca, khas tulisan pemerhati sosial.

Oya, buku ini diberi klasifikasi komik opini. Pas sekali, karena isinya, ya komik - ya opini. Disebut komik yang menyampaikan opini komikusnya. Atau benar-benar opini yang menjauhi bahasa gambar, berupa tulisan artikel. Tapi semuanya tetap menyenangkan untuk dibaca dengan pikiran terbuka.

Kenapa harus terbuka? Karena, begitu anda memasuki Bab II Komoditi itu Bernama Agama, mulailah emosi pembaca dimain-mainkan oleh ide-ide 'liar' sang pengarang, yang ternyata tidak berprofesi murni sebagai komikus.

Semuanya dapet giliran untuk dihujat - tak perlu lagi memakai bahasa halus 'disentil' misalnya. Karena, Aji sendiri tak sungkan membiarkan kalimat-kalimat khas garis keras, dipakai dalam dialog ataupun narasi komiknya. Sebut saja radikal, teroris, bidah dan kafir dan sejenisnya.

Orang yang mempunyai pemikiran semacam FPI atau aktivis muslim fanatik, pastilah akan tertampar keras dengannya. Bahkan, beberapa opini yang diangkatnya, menjungkirbalikkan kemapanan berpikir sekaligus menyerang secara frontal kaum agamawan (Diwakili dalam opini Setan Menggugat atau yang ini Down to Earth Yuk?), politisi (Adalah Tema yang Membosankan) atau bahkan orang media sendiri (Suatu Siang di Depan Televisi; de Reality Show)

Benar-benar harus bisa menerima perbedaan pendapat bila ingin membaca buku ini. Kalau tidak, saya sarankan jangan baca! Masih banyak buku lain yang bisa memberi manfaat untuk Anda.

Tapi ya dasar manusia, semakin dilarang semakin besar keingintahuannya. Ya sudah, silahkan tanggung sendiri akibatnya!

Saya tidak berada dalam posisi untuk mengatakan karya Aji Prasetyo ini salah atau benar. Walau, di bagian hati kecil saya ada beberapa fragmen dan cerita yang benar-benar menyinggung secara frontal. Tapi okelah, saya anggap itu bagian dari kebebasan berpendapat.

Bahwa buku Hidup Itu Indah terlalu nekat (bukan hanya berani) saya jawab IYA! Wilayah yang dibahasnya jelas menyerempet wilayah kritis yang bisa saja 'membahayakan' jiwanya. Oh tidak, saya tidak mengancam. Tapi pilihan Aji untuk mengangkat radikalisasi agama Islam tentu sudah pasti akan menyinggung kelompok dan kalangan tertentu.

Sebenarnya banyak tema yang dibahas oleh Aji secara indah, diluar tema-tema sensitif di atas. Ada tentang Potret pendidikan anak miskin, benturan budaya Barat-Arab-Lokal. Tentang Perang Jawa (Diponegoro) tentang sinetron dan lainnya. Namun tetap saja, kegeraman seorang Aji terhadap aliran Islam garis keras tertentu yang dengan mudahnya mengkafirkan, membidahkan, menghalalkan darah muslim yang tidak sepaham terasa kuat sekali meledak-ledak di sini. Semoga ini sebatas opini yang diharapkan menjadi perhatian semua pihak. Bukan sekedar muntahan kemarahan yang dijiwai oleh kebencian.

Sekali lagi, karya Aji Prasetyo ini anggap saja sebagai sebuah hasil kreativitas, tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Apalagi sampai main vonis. Bersikap elegan tentu lebih baik. Kalau tidak suka, jangan teruskan membacanya. Kalau merasa ada yang perlu diklarifikasi, silahkan langsung ke pengarang. Punya kemampuan menganalisis dan punya teman bisa menggambar komik? Oh, itu malah keren bila mampu mengcounternya dengan buku dan medium yang sama. Saya malah bersedia berkolaborasi (*Promosi gratisan he-he..) Dengan demikian makin banyak karya-karya cerdas yang bisa disandingkan secara sehat dan tak perlu maen bakar atau maen gontok-gontokan.

Menjelang akhir bukunya, Aji Prasetyo cukup cerdas untuk menetralisir emosi pembacanya dengan menghadirkan kisah 'Boneng and The Gang' di bagian akhir. Tidak dalam bentuk komik ataupun kartun, melainkan mirip sebuah cerpen. Salut untuk keberanian seorang Aji dalam beropini!!

Palembang, 05 Oktober 2011

2010-08-03

Ketika Benny&Mice berpisah...

Sedih!

Begitu yang saya rasakan, begitu tahu bahwa 'duet duo snobber' Benny&Mice bubar! Nggak percaya, kalo dua kartunis ini akhirnya pecah kongsi dan memilih jalur berkartun masing-masing. Saya mengikuti kartunnya yang nongol di Kompas setiap hari Minggu. Namun saya tidak tahu apa yang menjadi penyebab, "Robohnya Kartun Kami" ini...

Ketika saya coba tanya di milis komik alternatif, memang dibenarkan oleh moderatornya. Cuma, ia keberatan untuk memberikan alasan mengapa keduanya bisa bubar..

Duh sedih, asli saya sedih banget. Karena keduanya bisa berdiri kokoh di tengah arus manga-isasi karakter-karakter kartun dan komik tanah air.  

Semuanya bermula dari kartun mereka tertanggal 27/6 yang lalu : 


Ternyata bersambung ke edisi Minggu (4/7). Saya sudah curiga, karena serial Benny&Mice tidak pernah memuat sequel seperti ini. Walau demikian, saya berharap tidak ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi...

Ternyata perkiraan saya salah, telah terjadi sesuatu dalam hubungan pertemanan mereka. Dan minggu-minggu selanjutnya, adalah edisi kesedihan bagi Mice, dan juga pembacanya seperti saya..


Akhirnya, Mice mulai berani bersolo-kartun. Judulnya Mice Cartoon. Dan seperti statemennya, ia akan memuat cerita dalam keluarga kecilnya. Walau sebenarnya, ketika masih berduet, ada beberapa edisi yang telah memuat cerita tentang keluarga Mice ini.
Percaya atau nggak, kartun yang tampil setiap minggu itu, dikerjakan sendiri-sendiri. Namun, idenya digarap bersama. Bener-bener hebat ya? Walau dibuat oleh tangan dan orang yang berbeda, namun taste yang dihasilkan sama!
Selamat berjuang Mice!

2009-12-22

Apa sih beda kartun dan karikatur?




Saya dulu sering diminta oleh teman-teman untuk dibuatkan ilustrasi untuk pamflet kegiatan mereka. Mereka sering asal menyebut. "Tolong buatin karikatur, gih" Awalnya, saya bengong. Lha karikatur, mana saya bisa. Kalo kartun sih, bisa dikit-dikit. Akhirnya, saya paham yang dimaksud adalah ilustrasi kartun. Sekedar pemanis dan lucu-lucuan saja.

Sampai saya bekerja sekarang pun, saya masih sering menemui bentuk salah kaprah ini.
Parahnya lagi, kadang yang ngomong ketinggian, "Enak pake animasi aja, biar halamannya lebih hidup."

Kening saya berkerut, "Lha kok animasi dipake untuk halaman, emang udah ada teknologi epaper?"
Ada-ada aja, padahal maksudnya, minta buatin ilustrasi kartun berwarna. Getho..

Ngemeng-ngemeng tentang kartun, Saya pernah ngisi semacam pelatihan menulis untuk FLP Sumsel . Agak melenceng, karena bahasannya ya tentang cara membuat kartun. Tapi saya pikir ini mungkin sesi hiburan, biar nggak jenuh dihantem dengan sesi pelatihan menulis melulu.

Materi tentang Beda Kartun dan Karikatur ini bisa kamu Download versi PDF-nya.

Definisi
Secara etimologis, kata karikatur berasal dari bahasa Italia, Caricare. Yang artinya melebih-lebihkan (exagregate). Kata caricare itu sendiri dipengaruhi oleh kata carattere, juga bahasa Italia, yang berarti karakter dan kata cara (Bahasa Spanyol) yang berarti wajah. Sedangkan dalam Encyclopedie Internasional, karikatur didefinisikan sebagai sebuah "satire" dalam bentuk gambar atau patung (Sumadiria : 2005). Dan dalam Encyclopedie Britaninica, karikatur didefinisikan sebagai penggambaran seseorang, suatu tipe, atau suatu kegiatan dalam keadaan terdistorsi — biasanya suatu penyajian yang diam dan dibuat berlebih-lebihan dari gambar-gambar binatang, burung, sayur-sayuran yang menggantikan bagian-bagian benda hidup atau yang ada persamaannya dengan kegiatan binatang.



Paling tidak, sebuah karikatur mesti dilukiskan dengan mengandung dua cirri : (1) adanya satire dan (2) adanya distorsi. "Satire" di sini diartikan sebagai sebuah ironi, suatu tragedi-komedi atau suatu parodi (Sibarani : 2001). Karena itu, di dalamnya dapat mengandung sesuatu yang janggal, "absurd", yang bisa menertawakan, tapi bisa juga memprihatinkan atau menyedihkan.

Dengan melihat ciri-ciri itu, ternyata Leonardo da Vinci dan Albrecht Durer telah memulainya sejak sekitar tahun 1550. Tentu saja, mereka memulainya dalam bentuk lukisan pada umumnya (baca: "fine art"), bukan seperti "coretan-coretan-seadanya" alias karikatur pada saat ini. Di Indonesia, Bung Karno termasuk salah seorang karikaturis pada zaman Belanda dulu. Dalam beberapa karikaturnya itu, ia biasa mencantumkan nama samarannya, Soemini.

Sedangkan istilah kartun berasal dari kata cartone (bahasa Italia). Istilah ini pada mulanya berarti sketsa corat-coret yang dibuat para seniman pada zaman Renaissance, sebelum mereka membuat karya seni berupa patung, lukisan, gambar rancang arsitekur, dan sebagainya. Gambar-gambar berupa coretan-coretan yang cuma berfungsi sebagai penghias halaman atau pemanis tulisan atau artikel dan tak mengandung peranan sosial politis di dalamnya disebut dengan sketsa. Adapun gambar yang merupakan hiasan untuk perlengkapan atau penunjang cerita dalam sebuah buku atau penulisan, maka lazimnya disebut dengan gambar ilustrasi. Keduanya bukan karikatur. Namun kedua jenis gambar ini bisa saja dibuat menjadi karikatur.

Dengan melihat apa yang dituliskan di atas, maka dapat dibedakan antara sebuah karikatur dengan sebuah gambar kartun yang selama ini banyak orang salah kaprah dalam membedakan keduanya—termasuk beda peristilahan antara karikaturis dengan kartunis. Begitu pula dengan anggapan keliru yang telah umum bahwa karikatur hanya ada dalam persuratkabaran. Padahal dapat dikatakan: sebuah karikatur sudah pasti sebuah kartun, sedangkan kartun belum tentu merupakan sebuah karikatur. Lantas apa bedanya?


Sifat Kartun dan Karikatur
Tentang sifat karikatur, Sibarani (2001) membagi karikatur menjadi tiga macam :

1. Karikatur orang-pribadi, yaitu menggambarkan seseorang (biasanya tokoh yang dikenal) dengan mengekspos ciri-cirinya dalam bentuk wajah ataupun kebiasaannya — tanpa objek lain atau situasi di sekelilingnya – secara karikatural.


2. Karikatur sosial, Karikatur sosial, sudah tentu karikatur jenis ini mengemukakan dan menggambarkan persoalan-persoalan masyarakat yang menyinggung rasa keadilan sosial.


3. Karikatur politik, adalah karikatur yang menggambarkan suatu situasi politik sedemikian rupa agar kita dapat melihatnyo dari segi humor dengan menampilkan para tokoh politik di atas panggung dan mementaskannya dengan lucu.

Sedangkan untuk kartun dalam penggunaannya dalam sebuah media massa, dibagi menjadi tiga kelompok (Wijana : 2003) :

1. Kartun editorial (editorial cartoon), yang digunakan sebagai visualisasi tajuk rencana surat kabar atau majalah. Kartun ini biasanya membicarakan masalah politik atau peristiwa aktual sehingga sering disebut kartun politik (Political cartoon). Contoh untuk jenis ini dapat dillihat dalam gambar 2 dan 3.

2. Kartun murni (gag cartoon), yang dimaksudkan sekedar gambar lucu atau olok-olok tanpa bermaksud menqulas suatu permasalahan atau peristiwa aktual. (Lihat gambar 4)

3. Kartun komik (comic cartoon), merupakan susunan gambar biasanya terdiri dad tiga sampai enam kotak. Isinya adalah komentar humoristic tentang suatu peristiwa atau masalah aktual. (Lihat Gambar 5)

Berdasarkan definisi di atas, baik kartun ataupun karikatur, masing-masing memiliki titik satiris. Bedanya, dalam gambar kartun, titik satiris itu tak ditekankan sebagai sesuatu yang dominan seperti halnya dalam karikatur. Kartun lebih mengutamakan humor ketimbang "satire". Kartun juga tak mengandung unsur distorsi. Kalaupun ada unsur distorsi, unsur itu bukan sesuatu yang diutamakan. Yang jelas, keduanya banyak dijumpai di suratkabar yang sama sekalipun.



Etika karikatur
Satu hal yang tak patut dilupakan, betapapun, dunia karikatur memiliki kode etik yang banyak tak diketahui orang termasuk oleh para karikaturis. Seorang karikaturis memang memiliki kebebasan mengemukakan temanya dengan gaya satiris humor yang khas, selama karikaturnya itu tidak vulgar atau amoral atau mengetengahkan cacat fisik manusia dan tidak pula kotor atau jorok. Selain itu, karikatur yang baik adalah karikatur yang paling hemat kata, bahkan kalau bisa tanpa kata sama sekali. Sebab karikatur berbeda dengan poster yang bisa saja (bahkan lazim) boros kata-kata.

Seorang karikaturis dapat mempengaruhi banyak orang dengan pesan dan kesan yang dimuat dalam karikaturnya, ia memiliki "kekuatan" dalam karikatur yang dibuatnya. David Low, karikaturis Inggris, sampai sekarang masih dikenal banyak orang sebagai seorang karikaturis yang (konon) pernah membuat Hitler tak bisa tidur akibat karikatur yang dibuatnya pada waktu Perang Dunia II berlangsung.

Thomas Nast, karikaturis dart Amerika Serikat, pernah dengan karikaturnya menjatuhkan seorang calon kuat presiden Amerika Serikat yang memiliki amoralitas mencolok mater pada masa kampanye.

Atau contoh dari dalam negeri, adalah ketika majalah Tempo (edisi November 2008) mengangkat permasalahan Aburizal Bakrie dan Lumpur Lapindo sebagai pembahasan utamanya. Yang menjadi permasalahan adalah pemuatan karikatur Aburizal pada bagioan cover yang diceritakan membasuh mukanya yang belepotan Lumpur. Naasnya, Lumpur yang digambarkan mencair membentuk sederetan angka 666. Yang bagi sebagian orang disebut sebagai angka setan!

Begitulah dampak yang tajam dari sebuah karikatur, kadang-kadang mengundang orang, badan atau instansi bertindak emosional, bahkan menggunakan segala kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki, untuk menanggapi sebuah kritik sosial dalam gambar. Sehingga sangat masuk akal bila kemudian dikatakan bahwa kartun (politik) menjadi sesuatu yang unik, multifungsi dan heterogen. Jean Romnicianu (1996) dalam sebuah pengantarnya mengemukakan bahwa seni karikatur adalah seni yang sulit, kejam, berbahaya, sekaligus bermanfaat.

Sulit, karena jenis seni ini menuntut sang seniman untuk mencari cacat dan kebutaan suatu masyarakat yang notabene dia sendiri sebagai bagian dari masyarakat itu. Sebelum meledek orang lain harus bisa meledek diri dan semua orang tahu justru itulah yang paling sulit.

Kejam, karena tawa (menertawakan orang lain) itu tak pernah menjadi tawa yang balk hati. Kalau dipikir-pikir, orang hanya menertawakan sesuatu yang melukai dirinya sendiri atau orang lain. Seolah-olah tawa bukan manifestasi dari kesenangan belaka, tapi juga merupakan pertahanan melawan kepedihan.

Berbahaya, karena meledek orang lain adalah cara terbaik mencari musuh bebuyutan. Namun, kartun dapat bermanfaat karena kartun merupakan cara terbaik, yang cepat ditangkap, yang paling terbaca, untuk melihat sesuatu yang abnormal. Selain itu, kartun juga berguna sebagai pengungkap kebenaran yang tak kenal ampun.

Dalam pengertian lain, kartun sangatlah ditentukan oleh siapa yang berdiri di belakangnya. Karena pada satu saat kartun dapat menjadi penyejuk, pembela kebenaran, dan penegak keadilan, tapi pada saat yang lain bisa menjadi alat propaganda yang menyakitkan. Tentu kita masih ingat dengan kartun Nabi Muhammad SAW yang diterbitkan oleh harian Denmark Jyyland-Posten lalu?

Sangat tidak mirip dan lagi sangat-sangat menghinakan! Mereka tentu sangat tidak menduga akan munculnya gelombang reaksi sedemikian dahsyatnya di seluruh dunia. Ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwasanya menuangkan ide sebagai bagian dari pengekspresian karya dalam bentuk apapun, termasuk kartun dan karikatur, perlu dibatasi oleh nilai-nilai kesopanan dan ahlak. Khususnya akhlak ketimuran yang kita miliki saat ini.

Kerawanan SARA (Suku, Agama, Ras, Antar-Golongan) mengingatkan karikaturis Indonesia supaya dalam penyajiannya tidak kelewat tajam, menyesatkan dan menyakitkan hati. Jika Anda karikaturis pemula, usahakanlah membuat karya seni itu lebih luwes, bijaksana dan punya dampak positif bagi si pembaca, si penerima atau siapa saja demi kelanggengan pertumbuhan karikatur Indonesia. Seperti yang disampaikan oleh Sudarta (1987) dalam Sumadiria (2005), sebuah karikatur barulah disebut efektif apabila karikatur itu telah menjalankan fungsinya, yaitu karikatur harus membuat senyum untuk semua. Senyum untuk yang dikritik agar tidak marah, senyum untuk masyarakat yang merasa terwakili aspirasinya dan senyum untuk sang karikaturis karena tidak terjadi apa-apa.

-----
Referensi
1. Sibarani, Augustin. 2001. Karikatur don Politik. Isai, Garba Budaya & Media Lintas inti Nusantara. Cet. I. Jakarta
2. Sumadiria, A.S. Haris. 2005. Jurnalistik Indonesia. Simbiosa Rekatama Media. Cet. I. Bandung
3. Banjarnahor, Gundar. 1994. Wartawan Freelance. Jakarta
4. Wijana, I Dewa Putu. 2003. Kartun : Studi tentang Permainan Bahasa. Penerbit Ombak. Jogjakarta
-----

Download versi PDF


2009-07-23

Download komik Beny-Mice dan Sukribo

Related Topic :


Lagi kepengen berbagi koleksi neh..



Kenal dengan kedua komik strip di atas? Bagi yang maniak kartun, pasti sudah akrab banget dengan tokoh Beny and Mice serta Sukribo ini. Yup, karakter yang lucu, ancur,  jayus dan usil banget serta nyelekit abis!


Walau nggak sampai tertawa, minimal mereka yang tidak punya selera humor sekalipun akan tersenyum, sambil berkata dalam hati : "Ada-ada saja..." atau " Lebayy.."
Nah bagi yang berminat, klik aja link download komik Beny & Mice di bawah ini. Tenang saja gratis.. Dan saya nggak bermaksud memberikan sesuatu dengan tujuan komersil. Apalagi komik-komik yang belum keluar edisi koleksinya. Jadi, kepada Mas Mail (Pembuat Sukribo) dan Mas Beny serta Mas Mice mohon maaf bila ngerasa hak ciptanya dilanggar. (Khan belum resmi dijual?) Saya hanya ingin berbagi saja.. Toh setiap minggu kan komiknya sudah di-publish secara luas lewat epaper kompas. Ya nggak?
Jadi, Piss man..
Berikut link download komik Beny& Mice serta Link download komik Sukribonya dari edisi Juni 2008 - Juli 2009. Selamat menikmati...

1. Beny & Mice (3,38 MB)
2. Sukribo (2,04 MB)

------
New Update (4shared)
3. New Update Beny & Mice (1.1 MB)
Referensi :
http://epaper.kompas.com -- edisi Minggu

2009-04-24

Hei, Jangan ribut!!

        Tadinya karikatur di atas mo diterbitkan di Beritapagihari Minggu (26/4). Tapi nggak jadi karena udah nggak ada space halaman lagi. Intinya, saya muak saja dengan perilaku elit parpol yang begitu 'rakus'nya berbagi kekuasaan dengan label koalisi. Lupa kalau mereka itu makan dari suara rakyat. Lupa kalau rakyat yang mereka elus pas kampanye, sekarang lagi kesusahan. Demi membayar uang sekolah anaknya saja, tetangga saya harus rela melego karpet satu-satunya...