Showing posts with label Arsip lomba. Show all posts
Showing posts with label Arsip lomba. Show all posts

2014-04-07

Sambut Brazil 2014

Demam bola akan segera datang. Menjelang kick off World Cup 2014 nanti di bulan Juni akan berulang demam bola. Gegap gempita seakan sudah mulai terdengar, hendak menghangatkan langit di setiap negara peserta. Tak hanya negara peserta, seluruh penggemar bola di pelosok dunia tak akan melewatkan perhelatan akbar ini.

Semua supporter klub akan bersatu membela negara masing-masing. Sedangkan warga negara yang tidak masuk ke dalam 32 negara peserta, akan terhibur dengan pentas bintang sepakbola terbaik sekolong jagat! Inilah olahraga yang mampu melintas batas, melupakan konflik yang ada dan paling populer. Tak heran jika setiap bangsa mulai mengenal dan gembira Sambut Brazil 2014 yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014 ini.
Semua berlomba men-demam-kan diri dengan sepakbola. Mulai dari anak SD hingga orangtua. Di ujung pantai hingga ke puncak gunung. Semuanya akan merasakan euforia World Cup 2014 yang bakal diselenggarakan di 12 kota yang ada di Brazil ini. Uniknya, semua orang punya cara Sambut Brazil 2014.

Dan yang paling paten, FIFASTRA dan SPEKTRA juga punya gawean besar-besaran nan futuristik bertajuk SAMBA 2014 atau Sambut Brazil 2014. Dari namanya saja, program ini ditujukan untuk memeriahkan kedatangan musim bola World Cup 2014 nanti. Bukan program sekedar program, tapi ini program yang luar biasa. Terutama bagi para pencinta bola.

Kamu berminat? Yuk simak informasinya bareng Bepe dibawa ya :)) Itung-itung nemaninya latihan nge-juggling bola.

Apa itu Sambut Brazil 2014
SAMBA 2014 atau Sambut Brazil 2014 merupakan program promo undian berhadiah bagi yang mengajukan kredit kendaraan motor Honda, baik baru maupun seken berkualitas serta kredit barang elektronik/ perabot rumah tangga melalui FIFASTRA dan SPEKTRA.

 Program inipun merupakan persembahan atas pencapaian selama 25 tahun FIFASTRA dan SPEKTRA lho.. Jadi semacam syukuran.
Tak hanya memeriahkan, namun melalui program Sambut Brazil 2014 ini FIFASTRA dan SPEKTRA juga akan memberikan hadiah yang sangat mewah. Mau tau?

Sekarang aja udah sepuluh orang yang ketiban rezeki bakal diberangkatkan ke Brazil. Masih ada kesempatan untuk menang di periode kedua ini. (Lihat Tabel di bawah)
Sambut Brazil 2014 Periode Undian
Mau tau caranya ikut Sambut Brazil 2014 dari FIFASTRA dan SPEKTRA ini? Gampang banget!
Sistem pengundian program SAMBA 2014 ini menggunakan poin. Poin-poinnya itu dihitung berdasarkan kriteria berikut ini :

Kemudian, poin-poin itu akan dihitung secara kumulatif menggunakan sistem komputerisasi, bukan menggunakan bukti fisik seperti voucher ataupun kupon.

Kita lihat simulasi perhitungan poinnya secara sederhana : Pakde Zaki jauh-jauh hari sebelumnya, pernah kredit motor di FIFASTRA. Yakni sebelum adanya periode program SAMBA 2014 ini. Lalu, karena anaknya butuh sepeda motor untuk pergi-pulang ke kampus, Pakde Zaki kemudian mengambil kredit motor lagi.

Karena nggak mau ribet, Pakde Zaki mengambil motor Honda Baru tipe Matic, Honda Beat di FIFASTRA. Maka, total poin yang ia terima adalah sebesar 11 poin. Hitungannya, 1 poin kredit baru + 5 poin konsumen lama + 5 poin kredit tipe matic. Paham?

Setiap peserta undian akan dikirimkan SMS Notifikasi dari FIFASTRA & SPEKTRA sebagai tanda keikutsertaan undian SAMBA 2014.
Keterangan lengkap tentang mekanisme undian, langsung aja ke situs resminya Sambut Brazil 2014 di sini atau datangi saja lokasi FIFASTRA dan SPEKTRA terdekat.



Kamu tau nggak, FIFASTRA udah punya 2.000an cabang lho yang tersebar di seluruh penjuru tanah air. Prosesnya juga cepat, nggak lebih dari 90 menit. Makanya, ayo Buruan...
Siapa tau kamu yang berikutnya akan ke Brazil.. Yuhuuuuu, ayo segera Sambut Brazil di Tahun 2014 ini

2012-11-26

Terios, Di Antara Para Petualang dan Harumnya Kopi

Mobil Sahabat Petualang
Foto :  id.carmal.com
Namanya Terios.
Dilahirkan kembar dari rahim Daihatsu, satu Terios TX-AT dan satu lagi bernama Terios MT. Tak ada perbedaan berarti di antara mereka. Kecuali, yang satu mengusung Transmisi Otomatis sedangkan yang lainnya dengan Transmisi Manual.

Keduanya ditakdirkan ‘turun ke bumi’ sebagai mobil SUV (Sport Utility Vehicle). Yakni kelas mobil sport-lapangan, setangguh mesin jip senyaman sedan, dengan 7 kursi penumpang di dalamnya.

Oktober lalu, ia didaulat menemani para petualang dalam mengarungi wilayah Sumatera yang selama ini dikenal sebagai coffee paradise, surganya kopi. Lebih-lebih kopi Luwak yang aromanya sudah tercium hingga ke mancanegara.
Terios Mobil Sahabat Petualang Sejati
Tim Terios 7-Wonders
Foto : daihatsu.co.id
Terios merasa tertantang untuk membuktikan ketangguhannya dalam menempuh aneka medan yang terbentang sejauh 3.657 km, sejak Jakarta hingga ke Titik Nol, di Sabang Nanggroe Aceh Darussalam.

Antara petualang dan kopi, keduanya sama-sama cermin jiwa maskulin. Pemberani, tangguh, maskulin namun tetap memberikan rasa aman dan hangat. Terios terpanggil, karena kesemua sifat itu ada padanya. Maka selama 14 hari ia setia menemani tim Terios 7-Wonder.

Aneka medan bisa ia lalui. Mulai dari jalan panjang nan mulus, ia sukai karena bisa berakselerasi optimum hingga menyentuh angka 120 km/h. Bersua dengan jalan light off road, penuh tanjakan terjal dan tikungan pendek tidak menjadi masalah. Dengan dukungan mesin 3SZ-VE DOHC VVT-i 1.499 cc dan ruang kosong di bawah bodi mobil (Ground Clearance) cukup tinggi, Terios tak menemukan kendala yang berarti dalam menaklukkan setiap tantangan medan yang ada. Benar-benar membuktikan bahwa dia adalah Mobil Sahabat Petualang sejati !

Berjumpa dengan para petani kopi, penggiling biji kopi, Terios mulai memahami, mengapa Kopi menjadi pelengkap istimewa di setiap petualangan, di setiap kegiatan outdoor lainnya. Selain karena ia merupakan salah satu komoditas terbaik yang dimiliki Indonesia, juga sifat dasarnya yang memberikan kehangatan dan kedekatan.

Dan semakin istimewa cara penyajian suatu kopi, semakin istimewa pula rasa yang diberikan olehnya.
Kopi juga mencerminkan sifat petualang. Hanya biji kopi terbaik yang diolah untuk dijadikan kopi yang nikmat. Apatah lagi kopi Luwak yang merupakan hasil sortiran terbaik oleh Musang Luwak (Paradoxurus hermaphroditus) secara alami. Begitu pun, petualang sejati merupakan hasil seleksi alam terhadap ketangguhan sang Petualang.

Terios 7-Wonder
Terios Mobil Sahabat Petualang Sejati
Pelepasan di VLC Sunter Jakarta
Foto : daihatsu.co.id
Aroma petualang terasa memenuhi langit imajinasi, saat pedal gas diinjak pertama kali meninggalkanVLC Sunter,  Jakarta pada Rabu (10/10) menuju Pulau Sumatera, merintis jejak cerita Sumatera Coffe Paradise. Hari itu, tim petualang yang terdiri dari sepuluh orang akan merekam keindahan Pulau Sumatera bersama tiga unit Daihatsu Terios TX-AT (2 unit) dan Terios MT (1 Unit).

Peta petualangan mereka adalah mengunjungi 7 spot kopi yang terkenal di Pulau Sumatera, yakni :
1. Kopi Luwak – Liwa, Lampung  Tercium hingga ke Mancanegara
2. Kopi Lahat – Secangkir Kopi Lambang Persahabatan
3. Kopi Pagaralam – Produsen Terbesar di Pulau Sumatera
4. Kopi Empatlawang – Wujud Robusta, Aroma Arabica
5. Kopi Curup – Menari Bersama Terios
6. Kopi Mandailing Natal – Desa Kopi yang Hilang
7. Kopi Gayo – Kopi Legendaris Takengon

Tak hanya bangga bisa ikut menemani petualangan dalam menggali keindahan alam serta menemukan surga kopi di Pulau Sumatera, Terios pun angkat empat ban (maksudnya empat jarinya :) red). Karena di sela aksi petualangannya, Tim Terios 7-Wonders juga menyempatkan berbagi kepedulian dengan masyarakat sekitar dalam bentuk bantuan dana CSR (Corporate Social Responsibility) dan Hewan Kurban, yakni :

1. Penyerahan dana CSR bagi lima Posyandu dan lima UMKM di Bumi Rafflesia, Bengkulu
2. Penyerahan dana CSR bagi dua Posyandu dan lima UMKM di Medan senilai Rp 200 juta
3. Penyerahan 3 ekor Sapi Kurban di Masjid Raya Banda Aceh

Terios Mobil Sahabat Petualang
Penyerahan plakat di Tugu "Nol" Kilometer, Sabang NAD
Foto : Daihatsu.co.id
Dan perjalanan Tim Terios 7-wonders, dinyatakan finish saat berhasil menjejak di tugu Nol kilometer, di Sabang ujung Pulau Weh, Nanggroe Aceh Darussalam. Total jarak tempuh sepanjang 3.657 km selama 15 hari. Tepat pukul 12.48 WIB, Rabu (24/10).

7-Wonders of Terios
Terios, hampir-hampir tak menemui kendala di mesin sama sekali. Hanya bodi yang sedikit penyok dan kaca lampu pecah akibat menerabas semak belukar saat slip di jalan off-road antara Mandailing Natal – Tarutung, Sumatera Utara.

Performa petualang nan maskulin, berhasil dibuktikan oleh Terios. Dan inilah bagian lain Terios 7-Wonders, mengapa SUV Terios mampu melibas aneka medan dalam rentang jarak 3.657 km selama 15 hari tanpa kendala yang berarti sedikitpun :

1. The Only 7-Seater SUV
Inilah SUV pertama yang beredar di Indonesia yang memiliki 7 kursi, dibagi menjadi 3 baris. Kehadiran baris kursi belakang tak mengurangi kelegaan bagi penumpang  yang menempati kursi di baris nomor dua.  Kursi penumpang baris kedua juga dapat diatur maju mundur secara terpisah sesuai kebutuhan. Kursi dapat juga dapat dilipat dengan mudah dengan hanya menarik satu tuas saja. Sementara kursi baris ketiga, jika tidak sedang ingin digunakan dapat dilipat terpisah (50:50) untuk memaksimalkan ruang kargo.

2. Easy Access Entertainment – Audio Steering Switch
Hiburan musik yang menemani petualangan terasa matang dengan kehadiran audio steering switch yang ada di setir. Sehingga memberikan kemudahan dalam mengakses dan mengendalikan musik yang diputar.

3. Tough Style – Macho Styling
Baik bodi maupun sasis, telah teruji dengan baik selama perjalanan. Tampilannya yang sepenuh hati maskulin, memberikan efek tangguh dalam menaklukkan medan yang tidak terduga sekalipun.

4. City Cruiser
Dengan jarak bodi terendah dengan permukaan tanah (ground clereance) yang cukup tinggi, membuat Terios mampu meliuk bak penari, ketika memapas permukaan jalan yang tidak rata dan kurang bersahabat.

5. Easy Handling – Electric Power Steering
Dengan kehadiran teknologi full electric power steering, mengemudikan Terios menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tak perlu banyak-banyak menguras tenaga dan memelintir pinggang untuk sekedar membelok tajam.

6. Optimal Comfort – Comfort Suspension
Menganut sistem suspensi 5-link di roda belakang, Terios cukup empuk melibas tikungan. Penyempurnaan coil spring, shock absorber  depan-belakang, serta perubahan posisi lengan ayun belakang membuatnya lebih mudah dijinakkan. Sehingga kenyamanan optimal begitu mudah didapatkan.

7. Excellent Strenght – Reliable Engine 1.5 DOHC VVT-i 
Tanpa kendala sama sekali, saat melahap rute lebih dari 3.600 km, menjadi pujian tersendiri bagi ketangguhan mesinnya yang berjenis DOHC (Double Over-Head Camshaft) dan VVT-i (Variable Valve Timing-intelligent) merupakan jenis mesin yang diklaim semakin efisien dan bertenaga, ramah lingkungan serta hemat bahan bakar.
Yakni mampu mengoptimalkan torsi mesin pada setiap kecepatan dan kondisi pengemudian. Itulah sebabnya, dengan kapasitas 1.499 cc, Terios sanggup menghasilkan tenaga 109 HP di 5.500 rpm dan torsi 145Nm di 4.000 rpm.

Terios telah membuktikan dirinya Mobil Sahabat Petualang!

-----------------
*) Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Terios-7 Wonders. Laporan lengkap dapat disimak di laman blog Terios 7-Wonders di SINI 

2012-10-18

Jadilah PLN yang Tangguh di Segala Cuaca

Memasuki tahun 2012, musim kemarau masih menyelimuti sebagian besar Pulau Sumatera. Namun, kemarau di tahun ini tak melulu panas yang mendera, kadangkala hujan yang disertai angin deras turun, tak sekedar membasahi tapi juga menggenani permukaan tanah.
Harapanku untuk PLN tercinta
Sumber : pln-indonesia.blogspot.com
 Angin yang datang pun berkontribusi dalam memperbesar efek kerusakan yang ditimbulkan oleh hujan di tengah kemarau tersebut. Begitulah El Nino menyapu kawasan Asia bagian Tenggara. Bahkan lebih dahsyat dibanding kemarau di tahun 1997.

Memasuki tahun 2012 pula, aliran listrik di kawasan rumah kami, yang berada di pinggiran kota Palembang, cukup stabil. Hingga bulan September lalu, pemadaman yang terjadi sangat sedikit. Bisa dihitung dengan sebelah tangan. Bersyukur, karena PLN telah melakukan pernaikan demi perbaikan instalasi. Semoga ini menjadi cerminan institusi PLN yang bersih dan semakin profesional.

Ciri pemadaman lebih karena adanya gangguan instalasi yang ada, akibat pelebaran jalan kabupaten. Dan juga akibat pengaruh alam yang terjadi sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini. Bukan lagi isu karena kekurangan daya.

Karakter pemadaman akibat cuaca, biasanya terjadi saat angin mulai bertiup kencang. Saat itulah pemadaman awal. Tak lama -- sebelum tangan sempat meraih korek dan lilin, listrik telah menyala kembali. Itu pertanda, cuaca tidak begitu buruk. Dan jaringan PLN masih sanggup bertahan di tengah cuaca seperti itu.
Namun, bila setelah pemadaman awal terus lampu hidup sekejap. Hanya sempat berkedip kemudian mati lagi. Nah, itu isyarat dari PLN bahwa cuaca buruk yang terjadi, kemungkinan besar tak dapat ditahan oleh infrastruktur PLN yang ada di luar ruang. Dan aliran listrik dimatikan, demi menghindari kemungkinan kerusakan yang ada.

Karakteristik pemadaman listrik yang ketiga, bila ada guruh dan petir yang menyambar yang ditingkahi pula oleh angin deras, lalu listrik mati dan tidak ada tanda-tanda menyala seperti ciri pertama atau sekedar kedipan lampu sebagaimana tanda kedua. Itu artinya, telah terjadi sesuatu yang menimpa instalasi listrik PLN.
Harapanku untuk PLN yang lebih baik
Sumber : ceremende.blogspot.com
Apakah ada kabel yang tertimpa ranting pohon, tiang listrik roboh ditabrak oleh kendaraan yang kalang-kabut melaju di tengah hujan yang deras. Ataukah akibat ada gardu listrik yang tersambar petir. Itu sepenuhnya merupakan akibat fenomena alam.

Saya mendapat jawabannya, dari seorang pemimpin PLN yang memberikan jawabannya di kolom Surat Pembaca sebuah media lokal. Menurutnya, faktor alam menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Seperti kabel yang tertimpa ranting pohon yang mengakibatkan gangguan pada instalasi yang ada. Untuk kejadian seperti ini, menurutnya, akan memakan waktu yang cukup lama. Mengingat,teknisi PLN harus menyelusuri jalur-jalur kabel yang ada. Termasuk bila ada kabel yang terkelupas.

Dari jawaban tersebut, setidaknya dapat saya tarik kesimpulan, bahwa instalasi PLN saat ini beserta pengawasan yang ada, belum mampu berbuat banyak dalam menghadapi kekuatan alam. Dan ini tentu saja, tidak hanya dihadapi oleh perusahaan listrik di dalam negeri saja.

Di luar negeri seperti Amerika sekalipun, bila telah terjadi badai, maka tak ada yang bisa dilakukan, kecuali melakukan pengamatan dan berusaha mengurangi tingkat kerusakan seminimal mungkin.

Tapi hal ini pun seharusnya jangan pula menjadi justifikasi dan senantiasa berlindung pada faktor alam semata. Karena, tak hanya saya dan keluarga saya, setiap orang yang hidup di Republik ini, menghendaki PLN sebagai perusahaan yang memegang hajat hidup orang banyak bisa berbuat lebih. Dalam menjamin keteraliran listrik, baik dalam keadaan tenang maupun dalam keadaan cuaca esktrim. Kiranya, bersihnya di tingkat manajemen, harus pula diimbangi dengan pelayanan yang semakin meningkat dalam waktu-waktu ke depan.

Kiranya cukuplah generasi awal saja yang harus mengalami keadaan Sudah Jatuh Ditimpa Tangga pula. Sudah Gelap, harus Merasakan Badai pula.

Harapanku untuk PLN, tangguhlah di segala medan dan cuaca. Sehingga kami bisa tetap optimis walaupun di luar rumah hujan deras. Semangat PLN dalam memberikan pelayanan kepada pelanggannya – hingga dalam cuaca ekstrim sekalipun, akan memancar dan terserap di setiap anggota rumah.

Akan banyak ragam kegiatan yang dapat dilakukan oleh masyarakat. Sehingga produktivitas tidak terganggu dengan datangnya cuaca buruk karena ada PLN yang menemani.

Mengenang masa kecil, saat masih kanak-kanak dahulu, saat mati lampu di malam hari, lalu hujan turun dengan derasnya. Kami, tujuh beranak berkumpul di ruang tengah. Mengelilingi nyala api lilin dan lampu teplok. Bercerita apa saja. Pas sekali karena suasana yang terasa syahdu. Yang kadang memang, suasana tersebut tidak ketemu bila listrik menyala. Tidak ada suara televisi yang senantiasa menjadi backsound ruang keluarga dari pagi hingga malam.

Anggap saja itu bonus hikmah dalam menanggapi 'musibah' mati lampu. Hikmah yang bermakna romantisme. Tapi, rasanya kalau sekedar ingin mendapatkan suasana hangat dan syahdu, rasanya tidak perlu menunggu mati lampu. Cukup matikan televisi dan mematikan lampu-lampu yang tidak perlu. Lalu biarkan masing-masing bercerita tentang pengalaman mereka hari itu..

Sekalian membantu mengurangi beban puncak di malam hari kan?

2012-08-27

Rekomendasi Pakde : CarMall.com, cara praktis cari mobil baru

Sore itu, seperti biasa Ewok sudah ngabsen duluan di pos kamling, yang ada di perumahan RSS-nya. Tak lama muncul Pakde yang berjalan ke pos, sambil misuh-misuh memegang pinggangnya..

Pakde (P) : Hadoohh-dohh..

Ewok (E) : Hloh, kenapa Pakde?
E : Heh, Pakde disenggol oleh bis kota?

P : Bukan Wok, pinggangku abis 'dibabat' oleh bis AKAP.
    Kemaren Wok, waktu mudik. Udah tau jalannya berlobang, 'diembat'
    juga oleh sopir bis..

E : Wah saya ikut prihatin Pakde..

P : Iya Wok, resiko naik bis ya gitu, pasrah saja dengan tingkah sopirnya.
     Makanya sepulang kemarin tuh, saya kepikiran buat beli mobil baru
     sendiri aja deh.
     Kamu tahu Wok, tempat  cari mobil baru praktis ?

E : Nah, kebetulan sekali Pakde. Ini saya nemu dan udah beberapa kali
     baca-baca informasi di dalamnya. Lengkap banget.
     Udah gitu gampang sekali cari data mobil baru yang dicari.
    Apalagi artikel pendukungnya juga banyak, menarik dan bermanfaat.
    Pas banget buat yang berniat beli mobil baru.

P : Beneran Wok?

E : Ya-iyalah, masak ya iya dong..
    Secara Ewok gitu loch..

P : Weleh-weleh..
    Banyak juga kemajuan kamu sekarang Wok.
    Perasaan baru bulan kemaren kita sama-sama belajar internet..

E : Ah, saya juga pengen maju dong Pakde..

P : Oiya, harus itu..
    Sok atuh, coba liatin ke saya, tampilan webnya.

E : Oke deh, kebetulan saya bawa tablet, mari mendekat..
     Yuk kita kita ketik webnya dulu :

http://id.carmall.com

    Nih pakde.. Gimana, keren nggak?
P : Woah, keren-keren..
 
E : Kita liat menunya sekalian saya kasih tau keunggulannya ya Pakde.

Review Mobil
Klik di bagian Artikel terus masuk ke bagian Review Mobil, maka kita akan menemukan review mobil baru.
Dengan adanya test drive ini, kita akan tahu persis bagaimana rasanya handling dan kenyamanan dalam menggunakan mobil tersebut.

Merek Mobil
Hampir seluruh merek mobil yang beredar di Indonesia, dimuat oleh situs CarMall.com ini. Total ada 31 merek mobil yang ada di daftarnya. Masuk aja ke menu Mobil Baru. Puas-puasin deh baca informasi jenis mobil yang kita inginkan. Di situ Pakde bisa cari informasi mobil baru, tak hanya berdasar merek namun dari Jenis Mobil -- apakah sedan, sedan mewah, SUV, MPV, komersial dan sebagainya, ada delapan kategori mobil. Lalu ada pilihan sub-menu pencarian berdasarkan Budget atau biaya yang bisa disesuaikan dengan dana yang dimiliki oleh Pakde. 
Dan yang paling gress tentu saja, informasi harga mobil baru yang dijamin valid. Karena dikumpulkan dari berbagai sumber dan berdasarkan algoritma yang dipercaya akurat. Dijamin deh, Pakde bakal terpuaskan dengan data dan informasinya.  

Bahkan bagi mereka yang sudah mempunyai mobil pun akan sangat merasakan manfaat dari situs CarMall.com ini, dengan adanya rubrik Tips Mobil, Berita Otomotif dan Ecent & Features. Termasuk menu Direktori Otomotif yang memuat informasi-informasi bermanfaat terkait aksesoris mobil, servis dan perawatan mobil, sampai ke informasi bengkel-bengkel resmi merek yang  bersangkutan. Termasuk kalau Pakde ingin tahu tempat jual dan sewa mobil.  
Pokoknya, segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia otomotif disajikan secara menarik di situs CarMall. Bahkan informasi arus mudik pun ikut masuk dalam berita lebaran kemaren..
    P : Ajib benerr..
        Udah lengkap, keren juga bersih. Trus loadingnya juga cepet yak.

    E : Yap, saya setuju dengan pendapat Pakde..

    P : Whoahh.. Seru-seru banget Wok! Entar saya bookmark dulu
         alamatnya, biar bisa saya buka di lain kesempatan.
         Apa tadi http://id.carmall.com ya?

    E : Yupz.

    Dan asal Pakde tahu ya, CarMall.com adalah bagian dari sgCarMart.com, situs mobil nomor satu di Singapura. Setiap bulan lebih dari dua juta orang mengunjungi alamat websitenya. Apalagi, situs sgCarMart.com ini telah mendapat ganjaran berbagai penghargaan, untuk kategori the Most Popular Automotive Site (Situs Otomotif Paling Populer) selama 6 tahun berturut-turut dari Hitwise, lalu reputasi pengakuan The Spirit of Enterprise 2008 di Singapura dan pengakuan sebagai Successful Entrepreneur Award 2011. Gimana mantap kan?

    P : Wah-wah, mantap-mantap saya sampai merinding nih...
         Makasih banyak informasinya Wok.
         Bener-bener sangat membantu buat saya untuk mengetahui
         harga mobil baru dan tempat cari mobil baru praktis ..

    E : Sama-sama Pakde, toh yang ngajari saya internet kan Pakde juga..
         Ntar kalo dah beli mobil baru, bolehlah saya diajak keliling-keliling
        ya Pakde..

    P : Insya Allah Wok..

    2011-12-30

    Resolusi Juara 2012 : Penghasilan $300 dari internet

    Salah satu milestone yang ingin saya capai di tahun 2012 adalah mendapat penghasilan minimal $300 dari internet. Ya, itu resolusi yang  saya buat, dan insya allah akan saya wujudkan di tahun ini. Jangan tanya mendetail bagaimana caranya. Tapi  saya sudah bisa membayangkan pintu-pintu pendapatan yang memungkinkan perolehan tambahan tersebut.
    MILESTONE Hidup saya hingga umur 45 tahun
    Sekedar mengkilas balik, milestone atau cita-cita besar yang saya buat ada lima buah. Kelimanya mengambil pokok pijakan usia. Tahun 2012, usia saya 30 tahun. Saya berharap bisa mendapatkan penghasilan $300 dari aset di dunia internet. Tahun 2017, atau saat saya berusia 35 tahun, saya ingin mempunyai aset di dunia nyata. Ada tiga jenis bidang aset yang membayang di mata saya. Yakni : Usaha bedeng kontrakan/kost-kostan, Usaha peternakan kambing/sapi dan Usaha Warnet plus.

    Di tahun 2022, usia saya insya allah  masuk 40 tahun. Harapannya, saat itu saya ingin sudah mampu menegakkan rumah sendiri. Cukup untuk dua orang anak dan mungkin juga sebagai tempat berteduh di hari tua. Maklum saat ini masih numpang di rumah orangtua. Nah, lima tahun kemudian yakni di tahun 2027, saya ingin menggenapkan rukun Islam dengan berangkat haji ke tanah suci, semoga Allah mewujudkannya. Amin!

    Istilah milestone sendiri saya dapatkan dari seorang karyawan Telkom, saat mengisi salah satu kegiatan di kantor. Ya, kantor saya yang bergerak sebagai lembaga amil zakat memang bersinergi dengan pihak PT Telkom Regional Palembang. Ujarnya saat itu, kita harus mempunyai visi yang jelas dalam memandang hidup. dalam kesempatan tersebut ia perkenalkan istilah milestone, agar visi dan cita-cita hidup kita terasa nyata dan dekat sehingga terasa mudah diwujudkan.

    Baiklah, mari kita bicarakan tentang resolusi saya sebelumnya yang bersifat short-term. 
    Di penghujung tahun 2011, tepatnya semenjak bulan Oktober, saya diajak menjadi seorang co-translator bagi teman saya yang freelance di beberapa agensi penterjemah online. Dan alhamdulillah, saya bisa belajar kembali bahasa inggris secara intensif terutama untuk kepentingan penterjemahan. Dan yang lumayan lagi, walaupun sebatas membantu, saya kecipratan uang lelah. Rata-rata dalam satu bulan itu mendapat Rp 600.000.

    Alasan kedua, juga berangkat di tahun 2011, saya juga mendapat kursus gratis mengenai internet marketing dari seorang teman yang punya penghasilan kurang lebih $5.000 per bulan (WOW!). Memang sih bidang yang ia garap multi platform. Mulai menjadi publisher adsense, reseller Amazon, jual beli website dan sebagainya. Tapi, karena ia adalah sahabat karib SMA saya dulu, maka saya merasa yakin kesuksesannya akan dapat tiru. Minimal polanya dapat saya tiru dengan menggunakan prinsip ATM (Amati, Tiru, Modifikasi).

    Nah, dari kedua rekan saya tadi saya belajar. Bahwa peluang untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari internet terbuka sedemikian lebar. Banyak sekali pintu-pintu rizki yang menganga dan dapat segera dioptimalkan. Tahun 2011 menjadi ajang saya mengasah ilmu. Baik memperdalam kembali ilmu bahasa inggris saya, maupun ilmu-ilmu penunjang dari teman satunya. Yakni ilmu SEO.

    Maka tahun 2012, adalah tahun pembuktian kerja keras. Pembuktian kesungguhan. Pembuktian bahwa saya bisa meniru pola kesuksesan mereka. Ya, pola kesuksesan, bukan sekedar berharap sukses semata. Melainkan mendapatkan polanya sehingga dapat dengan segera saya tularkan juga kepada orang lain.

    Terbetik di sudut hati saya, seandainya setiap orang mempunyai akses yang sama ke teknologi internet ini dan pengetahuan di dalamnya. Saya yakin, anak-anak muda tak perlu lagi menggelembungkan cita-cita untuk menjadi PNS. Tak perlu lagi luntang-lantung tidak karuan, menganggur seusai tamat sekolah.

    Dan ilmu-limu inilah yang ingin saya tularkan kepada mereka nantinya. Harapannya setelah berhasil, saya bisa berbagi dengan mereka. Karena kenyataanya manusia membutuhkan contoh terlebih dahulu untuk menarik mereka belajar. Agar mereka tertarik. Doakan saja, semoga saya bisa mewujudkan resolusi saya dan juga mewujudkan berbagi pengetahuan kepada mereka yang berusia produktif tersebut. (*)
     

    2011-12-08

    Disabilitas dan Pandangan Masyarakat - Sebuah Renungan

    Seperti pada tulisan saya sebelumnya, mengenai Disabilitas dan Pandangan Masyarakat, ada satu hal yang mengerucut dalam pikiran saya. Apakah kita bisa mewujudkan peranan yang memadai bagi para penyandang disabilitas tanpa bantuan negara? Karena terus terang, kepercayaan saya terhadap pemerintah, dalam hal ini dengan perangkat birokrasinya berada dalam titik nadir. Mendekati minus.

    Tak hanya menyangkut masalah bagi para penyandang disabilitas dan bagaimana pandangan masyarakat saja, melainkan seberapa besar komitmen dan konsisten pemerintah dalam memperhatikan aspek-aspek kehidupan para penyandang disabilitas ini.

    Jangankan untuk mereka para penyandang disabilitas, pemenuhan kebutuhan bagi kaum berpenglihatan normal saja (aparat birokrasi) pemerintah masih acakadut. Sarat kolusi dan korupsi. Sudahlah anggap saja negara ini memang sudah salah urus sejak zaman penjajahan. Jangan berharap muluk-muluk. Negara ini hanyalah ajang perebutan kekuasaan semata. Ideologi hanya uang dan jabatan.

    Mari kita berpikir dengan logika otak sederhana saja sembari merenung. Anggap saja kita saat ini tengah kembali saat sekolah dulu. Bawalah pikiran kita, anda dan saya ke sekat ruangan kelas 1 SD. Di mana saat pikiran kita telah sampai di ruangan kelas, suasananya saat itu tengah pembagian rapor kelas. Riuh-rendah, diselingi pekik dan obrolan para siswa yang sudah tak sabar lagi menerima deret nilai dan tentu saja ranking yang ada di dalam rapor tersebut.

    Saat-saat seperti ini, adalah saat yang merindukan bagi kita semua. Entah kita mendapat ranking atau tidak. Entah nilainya bagus semua, atau merah terbakar. Atau biasa-biasa saja. Yang pasti semua akan menerima rapor dan besoknya akan dimulai libur panjang. Tidak ada yang memikirkan mengapa bisa demikian?

    Mungkin saat itu kita tidak sempat berpikir tentang perbedaan kecerdasan. Tentang perbedaan IQ, EQ, ESQ atau perbedaaan gizi yang diasup sehingga bisa pintar atau  apalah. Tapi yang pasti, saat ini, saat kita tengah membaca tulisan ini dan membayangkan kita terlempar kembali ke masa lalu, sekarang kita baru mengerti. Mengapa ada yang bisa rangking satu. Mengapa ada yang biasa-biasa saja. Mengapa mereka yang berasal dari ekonomi kaya cenderung selamat dari kobaran nilai rapor merah. Dan mengapa anak-anak dari kalangan tak mampu, cenderung apa adanya. Asal sekedar sekolah atau masih untung bisa sekolah di tengah himpitan ekonomi yang seret. Apalagi misalnya dengan kondisi tubuh tak lengkap menyandang disabilitas.

    Mungkin sudah menjadi hukum alam, anak-anak pintar itu sedikit. Yang bodoh pun sedikit. Justru yang paling banyak adalah anak-anak yang berkecerdasan rata-rata. Dari empat puluh siswa yang menghuni satu kelas. dengan sangat mudah akan diperingkat sebagai anak berotak cerdas sebanyak 5 orang. Yang mungkin memelihara angka merah di rapornya ada tiga orang. Sisanya, sebanyak 32 orang nilainya rata-rata dan menyebar. Idealnya, seorang wali kelas seharusnya bisa mengkondisikan para siswanya untuk memiliki kesetiakawanan dengan teman-temannya. Yang pintar membantu yang berotak rata-rata. Yang cerdasnya rata-rata air, bisa membantu menyederhanakan penjelasan dari teman mereka yang sangat cerdas kepada teman-teman yang kebakaran rapor.

    Ya, mungkin ketiga anak dengan rapor terbakar, malu untuk bertanya dengan yang pintar. Minder, takut nanti dijelaskan pun tetap tidak mengerti. Tapi paling tidak mereka bertiga ini punya salah seorang teman dari kalangan siswa berkecerdasan rata-rata. Sehingga, pendistribusian pengetahuan sebagai bentuk kepeduliaan bisa mengalir lancar tanpa hambatan berarti.

    Semoga logikanya nyambung ya. Jadi, miniatur kelas tadi bisa kita analogikan ke kehidupan sosial bermasyarakat di Indonesia Raya yang tercinta ini. Dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia, yang menjadi penyandang disabilitas dan keterbatasan lainnya, menurut catatan Kementrian Sosial ada 3,11%, sedangkan menurut Departemen Kesehatan terdapat 6% sementara WHO menyampaikan jumlah penyandang disabilitas dari negara - negara berkembang yaitu sebesar 10%. Itulah salah satu bentuk kekecewaan saya terhadap negara yang salah urus ini, tak ada data statistik yang akurat. Ah sudahlah, anggap saja hasil sensus WHO-lah yang layak kita pakai.

    Berarti ada 24 juta jiwa penyandang disabilitas. Maka ada 216 juta jiwa yang beranatomi lengkap. Anggap saja -- masih mengikuti analogi dari siswa SD tadi, 12,5% nya yang tidak cukup waktu untuk peduli dengan urusan penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat terhadap mereka, maka masih ada 189 juta jiwa lagi yang bisa didekati untuk peduli kepada para penyandang disabilitas dan menepis pandangan masyarakat yang cenderung negatif.

    Kartunet sebagai miniatur departemen Sosial yang kredibel dan profesional

    2011-12-05

    Seandainya Saya Anggota DPD RI

    Seandainya Saya Menjadi Anggota DPD RI --- 
    Website DPD
    With Love,
    Dear, para wakil Saya Anggota DPD-RI,
    Apa kabar? Semoga selalu sehat dan dikaruniai kesehatan dari Allah swt.

    Duhai wakil saya, izinkan saya menyampaikan harapan, angan-angan atau apalah namanya kepada anda semua. Mungkin saat ini Anda sedang sibuk dengan tugas-tugas yang maha berat. Tapi saya percaya, anda masih sempat membaca surat cinta saya ini. Seandainya Saya Menjadi Anggota DPD RI, saya akan sering-sering turun ke daerah asal, mendatangi para sesepuh masyarakat, bukan untuk meminta restu, tapi untuk mengetahui perkembangan dan aspirasi yang ada di masyarakat, menandai perkembangan potensi yang ada, mengabaikan perbedaan yang muncul serta membesarkan semangat entrepreneur si kalangan anak muda. Setelah itu saya akan mengusahakan semua yang saya dapat tadi, untuk menjadi bagian dari sidang-sidang yang ada di dalam agenda rapat para Anggota DPD RI.

    Saya yakin, Seandainya Saya Menjadi Anggota DPD RI apa yang saya temukan di daerah asal saya, juga ditemui di daerah lain. Hanya pembedanya mungkin kekhasan dan tingkat emergensitasnya saja. Toh, sama-sama berasal dari Indonesia juga kan?

    Saya coba untuk meyakinkan semua yang Menjadi Anggota DPD RI tentang usulan tersebut. Jikapun tidak atau belum berhasil, karena ini sedang membayangkan Seandainya Saya Menjadi Anggota DPD RI, maka saya akan coba dengan pintu lain. Saya akan salurkan ide-ide saya kepada staf ahli saya,  dan dimatangkan dalam bentuk publikasi di media sosial. Tapi tidak di surat kabar apalagi di televisi.

    Sayang rasanya bila harus menyewa space dengan harga begitu mahal. Seandainya Saya Menjadi Anggota DPD RI, saya pikir akan lebih baik menyewa tenaga-tenaga muda yang expert di bidang media sosial untuk menyuarakan temuan saya tadi. Lewat blog, twitter, blog bersama, e-buletin. Sehingga, banyak pihak mengetahui kebutuhan seperti apa yang diinginkan oleh masyarakat di daerah asalnya. Termasuk bagi mereka para perantauan. Karena, saya paham kapasitas dan daya jangkau tangan saya yang tidak akan mampu menyelesaikan semuanya, maka sinergitas dengan banyak pihak menjadi keniscayaan.

    Seandainya setiap anggota DPD RI bersedia menerima sikap ini, Saya yakin bila tujuan ini tulus dan ikhlas - bahkan bila perlu anonim atau menggunakan nama alias saja, perjuangan saya akan mendapatkan bantuan dari kanan-kiri. Terutama dari para anak muda di negeri ini, mereka hanya butuh keteladanan. Selebihnya, bila mereka telah menemukan sosok teladan, dibayar separoh pun mereka tak akan menolak.

    Akan saya pegang erat-erat keyakinan bahwa 'alibi demi kepentingan rakyat, tapi berbiaya mahal, seharusnya tidak dilakukan di tengah kehidupan mereka yang melarat'.
    Boleh kan berandai-andai.. :)
    Nah para wakil Saya Anggota DPD RI tercinta, itu saja harapan saya. Ya, saya hanya bisa berandai. Karena sejatinya bola perubahan daerah ada di tangan Anda. Jangan merasa sendirian, kami warga Indonesia dan juga para pewarta warga, ada di belakang dan mendukung sepenuhnya. Demikian harapan kami yang tertuang dari angan-angan kecil, Seandainya Saya Menjadi Anggota DPD RI.

    2011-11-27

    Disabilitas dan Pandangan Masyarakat : Belajar dari Seorang Ramaditya

    "..saat Anda membuka mata, maka Anda akan kembali melihat dunia Anda. Sedangkan saya tetap dalam kegelapan tak bisa melihat.." 
    Eko Ramaditya Dika
    Namanya Eko Ramaditya Dika, saya mengenalnya pada saat roadshow Breaking the Limit di tahun 2009 yang digawangi oleh Lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa (DD) Republika. Walaupun terlahir disabilitas sebagai tunanetra, semangat yang tinggi memerangi keterbatasannya itu, sempat menjadikan Ramaditya seorang motivator dengan cosplay khas Jedi-nya.

    Saya sempat mewawancarainya saat jeda roadshow tesebut. Dan tidak seperti yang disebutkan di dalam bukunya, BLIND POWER : Berdamai dengan Kegelapan bahwa saat lahir ia hanya mewarisi penglihatan lemah, Low Vision 10%. Saat wawancara, ternyata ia mengaku kalau disabilitas penglihatannya total alias 100% buta. Saat ditanya mengapa ia menulis seperti itu? Ia menjawab, "Saya tak ingin menambah kesedihan ibu saja". Sebuah kompromi seorang penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat yang masih diskriminatif.  
    Ramaditya dan Cover Bukunya
    (Sumber : Indonesiabuku.com)
    Eko Ramaditya Dika, penyuka game komputer dan pemburu musik game ini, menjadi terkenal karena kemampuannya meniru musik game favoritnya, mampu mengoperasikan komputer dan ternyata juga seorang blogger tunanetra.

    Ia sempat membuat heboh dengan klaim bahwa ia turut serta dalam menggubah beberapa musik game buatan salah satu vendor game asal Jepang. Keheboan itu memuncak saat di tahun 2010 ia sendiri membuat pengakuan bahwa apa yang ia klaim itu ternyata bohong belaka. Menurutnya, semua bermula saat salah satu media game online mewawancarai dirinya, dan ia iseng saja mengiyakan saat ditanyakan apakah pernah terlibat dalam pembuatan musik di salah satu musik game.

    Pengakuannya memang sempat membuat heboh, karena orang merasa dibohongi olehnya. Bukunya sendiri sempat ditarik dari peredaran oleh penerbitnya. Dan ia meminta maaf kepada seluruh penggemarnya, rekan wartawan dan blogger. Karena bagaimanapun, ia sama sekali tidak menyangka pernyataannya tersebut memberikan efek branding yang luar biasa bagi pencitraan dirinya. Sebuah tindakan ksatria dari seorang penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat yang masih diskriminatif.

    Kasus pengakuan atas kebohongannya tersebut tidak sempat meluas, karena sifat jantannya untuk mengakui apa yang diperbuat oleh salah seorang penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat justru berdecak kagum. Ramaditya, memang tidak terjerumus terlalu dalam dengan 'kebohongan'nya itu. Tidak sampai bertahun-tahun.

    Saya tidak ingin mengulang lagi tentang sensasi yang ia lakukan. Karena setiap orang pasti pernah berbohong, tak peduli mereka yang berindera lengkap ataupun orang seperti Ramaditya dengan disabilitas dan pandangan masyarakat yang begitu mudah mengagungkan orang lain sepintas saja tanpa sempat melakukan cross-check. Apalagi menjadi godaan setiap orang ingin merasakan keternaran.

    Kutipan di awal tulisan ini, penulis catat dari seminar motivasi yang diisi olehnya. Pada seminar tersebut ia juga mempraktekkan bagaimana ia bermain seruling, bagaimana ia mampu mengetik cepat di laptop dengan tingkat kesalahan pengetikan (typo) nyaris 0% serta bagaimana ia mempraktekkan cara menelpon dan berkirim SMS dengan hapenya yang telah dilengkapi dengan aplikasi screen reader. Sebuah keahlian yang mengagumkan dari seorang penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat yang masih diskriminatif.

    Seminar motivasi tersebut benar-benar membuka mata saya, tentang penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat yang masih memperlakukan mereka secara diskriminatif. Mereka bisa hidup sebagaimana orang lain dan bahkan lebih!

    Selama ini, saya sering membayangkan bagaimana seorang tunanetra mampu menjalani kehidupannya dalam gelap. Bagaimana dalam keterbatasan tersebut ia harus mengandalkan bantuan orang lain. Dan bagaimana kondisinya tersebut sangat potensial untuk mengundang rasa iba orang lain. Sebuah potret buram dari penyandang disabilitas yang senantiasa dipandang masyarakat sebagai pihak yang lemah.

    Sayang, praduga saya itu tentang eksistensi penyandang disabilitas dan begitu juga pandangan masyarakat pada umumnya ternyata keliru. Dari sosok Ramaditya inilah, saya baru tahu, bahwa seorang penyandang disabilitas mampu mandiri. Hanya bermodal walking stick saja, seorang penyandang disabilitas seperti Ramaditya mampu pergi sendiri ke toko komputer, membeli laptop idamannya. Naik biskota seorang diri tanpa khawatir akan tersesat harus turun di mana. Walau pada kenyataannya, beberapa tempat belumlah ramah bagi penyandang disabilitas seperti Ramaditya.

    Tapi, mungkin tidak salah juga bila stereotype kebanyakan orang melabel lemah tak berdaya kepada para penyandang disabilitas. Kenyataan bahwa ada sebagian dari mereka  yang memanfaatkan kekurangan fisik untuk mengundang rasa kasihan orang lain -- seperti yang ditemui di perempatan jalan. Sehingga menjustifikasi pendapat sebagian orang tersebut.

    Selama ini juga saya sering mengacuhkan bahkan mencela penyandang disabilitas, yang 'berani' berjalan sendirian di tempat umum. Di satu sisi saya sering berpikir hal itu akan merepotkan orang lain. Sedangkan di sisi lain, hati saya mengatakan biarkan saja toh hal tersebut bisa menjadi ladang amal orang lain walau hanya sekedar menunjukkan tempat atau menuntunnya membantu menyeberangi jalan.

    Tapi saya tidak pernah berpikir dari sisi mereka. Bahwa pada dasarnya mereka tidak ingin merasa dikasihani atau melulu dibantui. Kenyataan bahwa mereka berani keluar rumah sendirian saja itu sudah menunjukkan bahwa mereka ingin mandiri. Tinggal masalahnya adalah, ketersediaan infrastruktur yang memadai bagi para penyandang disabilitas sehingga mereka bisa menjalani benar-benar mandiri layaknya orang berpenglihatan normal.

    Kemandirian Penyandang Disabilitas dan Pandangan Masyarakat
    Pemikiran tentang kemandirian ini seharusnya bisa menjiwai setiap orang. Dan bahkan sudah seharusnya dimulai dari usia dini. Di mana dalam usia tersebut, anak-anak harus dididik untuk menerima keadaan teman mereka yang tak sesempurna mereka. Walau mungkin dalam keadaan tertentu anak-anak dengan disabilitas harus disekolahkan di tempat yang istimewa.

    Anak-anak harus belajar menerima perbedaan. Apalagi perbedaan fisik tersebut adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Semangat untuk mengakui adanya perbedaan dan tidak menganggap perbedaan tersebut sebagai sesuatu yang tercela, menjadi pola pikir yang harus ditanam sejak dini.

    Bagaimana pun, unia anak-anak adalah cerminan dunia orang dewasa. Selagi orang dewasa yang ada di sekitar mereka masih menunjukkan perilaku negatif terhadap penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat yang masih diskriminatif, atau tidak ada penjelasan khusus yang mengena dengan persoalan ini, maka mereka akan menunjukkan sikap yang sama.

    Kartunet sebagai sebuah komunitas
    Era social media yang tengah populer di ranah internet, merupakan refleksi langsung dari peranan penting dari apa yang disebut komunitas di dunia nyata. Kumpulan orang per orang yang memiliki minat dan tujuan yang sama.
    Tampilan Muka Situs Kartunet.com
    Demikian juga dengan kehadiran kartunet, baik dengan semangatnya sebagai komunitas maupun sebagai lembaga resmi yang mewadahi kebutuhan bersama menyangkut hajat hidup mereka penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat yang masih saja negatif terhadap mereka.

    Layaknya, komunitas blogger yang mampu memberikan edukasi dan tempat berkonsultasi bagi para blogger, begitu juga hendaknya dengan kartunet ini. Sebagai sebuah komunitas berbentuk lembaga nirlaba, kartunet mempunyai kesempatan untuk memainkan peranan strategis.

    Salah satunya adalah memberikan wadah persatuan bagi para tunanetra khususnya, maupun penyandang disabilitas lain pada umumnya. Bagaimanapun, kemandirian para penyandang disabilitas harus disambut hangat. Bukan mentang-mentang mereka sudah berkeinginan mandiri, lantas sesudah itu dilepas begitu saja.

    Kartunet bisa menjadi jembatan untuk memenuhi kebutuhan akan hal itu. Antara para penyandang disabilitas dengan calon donatur. Antara kebutuhan kaum disabilitas dengan pihak pemerintah maupun dengan pihak-pihak yang bisa diajak bekerjasama untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas para penyandang disabilitas dengan keistimewaan skill masing-masing. Dari kedua faktor inilah, seperti yang disinggung oleh Eri Sudewo dalam bukunya Character Building, akan melahirkan kompetensi.
    Contoh road sign khusus penyandang disabilitas
    (Sumber : crestock.com)
    Termasuk di dalamnya, mendorong pengambil kebijakan (pihak eksekutif dan legislatif) untuk mulai memperbesar persentase pemenuhan fasilitas pendukung bagi para penyandang disabilitas di area publik.

    Ke arah yang lain, kartunet juga bisa memberikan edukasi secara kontinyu kepada masyarakat luas tentang keberadaan para penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat yang perlu terus mendapatkan informasi yang benar tentang disabilitas di tanah air. Saya termasuk yang sangat menyetujui dan merasakan manfaatnya saat Ramaditya melakoni roadshow-nya kemaren itu. Saya rasa, banyak yang mempunyai cara berpikir seperti saya, yang menganggap kehadiran mereka adalah beban, sebelum melihat secara dekat kehidupan mereka.

    Karena pada dasarnya, segala sesuatu itu bersumber dari pengetahuan dan sikap untuk saling mengenali. Kembali ke istilah lama namun abadi : Tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak cinta. Tak cinta maka ta'aruf (dikenalkan). Selamat bekerja kepada pengelola kartunet. Serta bergembiralah kepada para penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat akan semakin positif terhadap eksistansi kalian.



    2011-09-13

    Puasa-Puasa Kok Menerobos Lampu Merah

    Sore itu, Selasa (8/8) tim kecil kami, Saya sendiri, Agus Wandi (fundraising) Anton (Fotografer), Afin dan Yuliani (penunjuk jalan) serta dua orang dari catering yang membawa paket nasi. Berangkat menuju lokasi pembagian Paket Berbuka yang merupakan program rutin kantor saya setiap Ramadhan. Dan tahun ini, saya ditunjuk menjadi koordinator. Dengan menggunakan lima motor, kami berempat termasuk dua orang dari pihak catering, berkonvoi menuju tiga titik lokasi pembagian.

    Ketiga titik tersebut terletak di Kecamatan Sako dan Kecamatan Sematang Borang Palembang. Dan sesuai tujuan dari program tersebut, daerah-daerah yang dipilih haruslah daerah pinggiran. Setelah mengukur waktu, jam 16.00 kami konvoi, meninggalkan halaman kantor. Belajar dari hari-hari sebelumnya, waktu pembagian tidak sampai setengah jam per titik. Jadinya, walau baru keluar menjelang orang bubaran kantor, mudah-mudahan bisa tepat waktu.

    Tapi dasar takdir, siapa yang bisa menebak. Baru berjalan sekitar 500 meter, motor yang ditumpangi oleh pasangan suami istri, Afin dan Ani pecah ban. Kami yang berada di depan, menghentikan motor. Lama ditunggu, akhirnya kami disuruh duluan dan janjian saja di depan Kantor Camat Sako.

    Kami pun langsung tancap gas memecah kemacetan parah di sepanjang Simpang Patal hingga Simpang BLK. Jauh rek, ada sekitar 3 km! Walau demikian, kami tetap menjaga kecepatan motor. Dua motor catering saya lihat di spion, terseok-seok menyelip di antara kemacetan kendaraan. Dengan tas bagasi besar di kiri-kanan motor, membuat motor mereka tak bisa lincah mengelak. Sedikit tersaruk-saruk mereka coba mengimbangi motor kami.

    Selepas Simpang BLK, lalu lintas mulai lancar. Kami berdua kerajingan menarik gas dan lupa dengan kedua motor catering tadi. Di Simpang Dogan, saya suruh Agus Wandi duluan. Saya mau menunggu motor catering. Hampir 15 menit yang ditunggu tidak muncul-muncul. Saya khawatir, jangan-jangan mereka pecah ban juga. Atau malah tersesat. “Ah, masak sih bisa sesat di Palembang, kota kecil seperti ini?” bathin saya.
    Akhirnya yang ditunggu, muncul juga. Dari kejauhan, senyum malu yang lebar menghias muka mereka. “Kelewatan Mas, kirain jalan lurus”, ujar salah satu dari mereka. Hah, benar rupanya. Ya udah, saya suruh mereka di depan saya mengiring saja.
    Anton (Fotografer) kusut menunggu di Simpang camat Sako

    Setiba di tempat yang dijanjikan, depan Simpang Kantor Camat Sako, kami berhenti. Menunggu Afin dan Ani tadi. Hampir dua puluh menit kemudian, baru nampak mereka. Saya mulai was-was. Jam sudah pukul 17.10, sedangkan masih ada tiga titik pembagian. Ya sudah, berhubung mereka yang paham dengan lokasi, apa boleh buat.

    Titik pertama di daerah Sako, segera dibagikan. Setelah itu kami segera menuju lokasi kedua di Sri Mulya. Ternyata jarak yang ditempuh cukup jauh juga. Susah untuk mengukur jarak pastinya. Harus lewat jalan yang senantiasa padat menjelang Maghrib. Kemudian belok di pertigaan Simpang Bombat, menyusuri jalan Celentang, terus masuk ke jalan protokol Mayor Zen.

    Nah di sinilah ‘petaka’ itu muncul. Pada waktu masuk ke jalan Mayor Zen, salah seorang dari catering tadi terhalang Bus Trans Musi yang hendak belok ke kanan. Sedangkan tujuan kami ke arah kiri. Bukan perkara gampang untuk mengelak dari ekor bus Trans Musi yang sedemikian panjang. Akhirnya, Akang ini pasrah saja dalam hati, “Nah, bakal kehilangan rombongan ini”.

    Sedangkan kami yang di depan ngebut berpacu dengan waktu buka yang tak sampai hitungan jam lagi. Motor yang dibawa Afin dan Ani, melaju kencang di depan. Disusul oleh Agus Wandi, kemudian salah satu motor catering dan Anton. Saya hanya bisa melihat punggung motor Anton. Tapi di satu sisi, saya teringat dengan catering di bagian belakang. Sehingga, grip gas saya tarik, antara takut dan tidak tega. Takut nanti ketinggalan dengan rombongan di depan. Tidak tega juga kalau sampai ninggalin salah seorang catering di bagian belakang.

    Dari jauh terlihat lampu merah. Haduh! Warna hijaunya mulai berkedip tanda mau segara berganti menjadi merah. Bener-bener gambling di sini, walau kecil kemungkinan lolos dari lampu merah, saya nekat menerabas. Saya tarik gas kuat-kuat, melampaui lampu merah tanpa ampun. Nyaris, sayap motor saya menghantam dua ban sepeda motor yang sudah setengah jalan menyeberang.

    Huff!! Maafkan Aku Tuhan! Lagi on fire..

    Selepas jebakan lampu merah, saya tak melihat lagi motor Anton tadi. Lha, ketinggalan saya. Tapi tidak mungkin saya lebih ngebut lagi. Terus teringat dengan satu motor catering yang ada di belakang. Karena, intip dari spion, motornya tidak pernah kelihatan.

    Saya melaju terus, perasaan cemas mulai hinggap. Walau sesekali saya kebutkan motor, tak kelihatan juga motor rombongan di depan saya tadi. Hingga akhirnya saya tiba Simpang Pusri (disebut demikian karena sudah dekat dengan pabrik PT PUSRI). Ah, ini jelas sudah kehilangan jejak. Saya pun menghentikan sejenak sepeda motor tak jauh dari pasar beduk yang digelar di dekat situ. Saya coba kontak nomor teman-teman yang lain, semuanya nggak ada yang nyambung. Apa mungkin mereka di luar coverage sinyal? Cuma nomor XL punya si Anton yang nyambung, tapi nggak diangkat. Saya kontak lagi, sudah mailbox. Waduh, kayaknya habis batre deh. Kirim SMS lain ke teman yang lain, dengan harapan, kalo ada sinyal sedikit bisa masuk.

    Saya menunggu sambil lihat timeline Twitter dan buat status di Facebook :
    LOST IN SIMPANG PUSRI (MOMEA) !

    Selebihnya menunggu! Wedew, lagi-lagi harus menunggu.

    Saya termangu memperhatikan sejenak di sekeliling saya. Lalu lintas sore itu cukup padat, apalagi menjelang waktu berbuka. Ibu-ibu dan remaja putri tampak sibuk memilih menu berbuka di dalam pasar beduk, sedangkan bapak-bapaknya menunggu di dalam mobil atau di atas motor yang dinaungi pohon jalan yang rindang. Ada yang leyeh-leyeh di atas kursi sopir, ada yang menelungkup di atas dashboard motornya, lemas banget.

    Tiba-tiba, telpon masuk. Saya liat dari Agus Wandi, “Oi kando, di mano?”.

    “Di Simpang Momea dekat PUSRI”, jawab saya kesenangan, karena tidak jadi berbuka di jalan.

    “Noh, kelewatan jauh tuh. Kamu balik lagi ke simpang lampu merah tadi, terus belok kiri”, jelasnya.

    “Eh?”, saya bengong. Wadooh.., ini gara-gara menerobos lampu merah tadi rupanya. Sampai nggak ngeliat mereka pada belok ke kiri.

    “Itu teman catering tadi ada sama ente nggak?”

    “Enggak”. Saya bengong lagi, artinya bukan saya sendiri yang tersesat rupanya. Nggak malu sendirian nih..

    “Iya entar saya cari dia di jalan”, jawab saya sekenanya.

    Saya terpaksa memutari Simpang Pusri (Momea), dan berbalik arah menuju Simpang Lampu Merah ‘keramat’ tadi. Beruntung, saya berpapasan dengan Akang catering di jalan seberangnya.
    Terpaksa lagi saya putar jalan dan menyambangi sang Akang. Kaget campur senang wajahnya melihat saya. Segera setelah mengurangi kecemasan masing-masing dan menertawai nasib kami berdua, kami segera cabut berbalik arah dan menuju simpang lampu merah.

    Berdasar petunjuk via telpon tadi, kami akhirnya menemukan mereka. Rupanya, dari Simpang Lampu Merah masih masuk ke dalam hingga beberapa kilometer. Sehingga, saat saya lirik jam tangan, tinggal lima belas menit menuju waktu berbuka. Waduh, padahal masih ada satu tempat lagi yang harus dikunjungi, yakni daerah Lebung Gajah. Sedangkan wilayah Suka Mulya, telah selesai digarap teman-teman, sembari saya tersesat tadi.

    Pasrah saja sore itu. Mana teman-teman pada nyengir setiap melihat saya. Terbayang, betapa saya akan menjadi olok-olokan teman sekantor keesokan harinya. Apalagi ketika tiba di Masjid yang telah ditunjuk sebagai tempat penyerahan, langit senja mulai menaungi. Saya pasrah saja, tidak bisa berbuka dengan anak dan istri sore itu. Tapi berbuka di masjid bersama teman-teman satu tim.

    Itulah kenangan yang melelahkan namun lucu. Pahit tapi geli. Tapi semuanya terbayar melihat senyum para dhuafa saat menerima paket-paket berbuka tersebut. Apalagi, dua hari berikutnya, tulisan pembagian paket berbuka yang saya buat, dimuat di salah satu harian lokal.
    Masuk koran
    Alhamdulillah ya..
    ---------------------------------


    2011-07-26

    Menyoal Kebebasan Berekpresi di Internet

    Kebebasan Berekspresi di Internet
    Prita Mulyasari dan keluarga
    http://gamil-opinion.blogspot.com
    Kebebasan berekspresi di internet kembali diuji. Berita dikabulkannya kasasi yang diajukan oleh Jaksa dalam kasus Prita Mulyasari oleh Mahkamah Agung, menghentakkan banyak pihak, terutama blogger dan aktivis kebebasan berekspresi. Terbukanya kembali kasus ini seolah membangunkan mereka dari euforia 'kemenangan' gerakan 'Koin keadilan untuk Ibu Prita' dan 'Gerakan satu juta facebooker bebaskan Bibit Hamzah'.

    Sentakan kasus ini seakan kembali menyadarkan semua pihak, bahwa kebebasan menyatakan pendapat masih terbelenggu dan masih harus terus diperjuangkan. Terlalu dini untuk mengatakannya final. Dan terlalu prematur pula bila disebut Indonesia sudah ramah dalan hal kebebasan berekspresi di internet.


    Sejarah panjang negeri ini bermula sebagai Negara agraris. Wajar kemudian bila secara sosio-antropologis, kehidupan yang berlaku menjadi feodal. Dan fakta ini harus diakui, walaupun katanya sekarang sudah dikenal sebagai negara demokratis semenjak keberhasilan penyelengaraan pemilu secara langsung. Eukuh pakewuh itu ada. Tenggang rasa, tipo saliro dan toleransi tetap harus dikedepankan. alasannya, kepentingan yang lebih besar harus tetap terpelihara. Bentuk-bentuk mikro dari penghambatan ini ternyata mendarah daging dan mampu meredam hasrat untuk mengungkapkan segalanya.

    Namun, perubahan tingkat kecerdasan dan taraf kehidupan serta kemudahan berkomunikasi menjadikan hambatan-hambatan tersebut menjadi hambar. Ada namun tak terlalu terasa. Apalagi, saluran ekspresi seakan menemukan bentuknya di dunia internet. Di mana, penetrasinya menunjukkan peningkatan mengagumkan serta mampu menembus ruang-ruang pribadi antar penggunanya.

    Hambatan terbesar justru datang dari atas. Kehadiran Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008, tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang kemudian lebih familiar dikenal sebagai UU ITE, menjadi momok bagi kebebasan berekspresi di sini. Adanya pasal karet tentang kemungkinan pencemaran nama baik, memungkinkan pihak-pihak tertentu memanfaatkannya sebagai pasal yang multitafsir.

    Termasuk dalam kasus Prita Mulyasari versus RS Omni Internasional. Pelayanan rumah sakit yang seharusnya sesuai standar dan etika profesi yang ada ternyata menyisakan celah bagi pasiennya. Dan ini yang dikeluhkan oleh seorang Prita. Bermula dari sekedar curhat ke seorang teman via email lalu menyebar ke semua kolong jagat virtual, mengalir lewat saluran-saluran yang ada.

    Curhat tetaplah curhat, ada pengalaman psikologis tentang ketidakadilan di dalamnya. Namun di mata pihak lain, terutama mereka yang menjadi sasaran tembak dari curhat tersebut, mudah sekali disampirkan sebagai pencemaran nama baik. Sekalipun, dari sisi pribadi seorang Prita, bisa jadi kerugian yang diterimanya sekarang lebih dari sekedar pencemaran nama baik. Dan itulah ‘jebakan’ dari UU ITE di atas. Prita menjadi korban.

    Tapi begitulah. Kebebasan berekspresi di internet mungkin masih kikuk untuk dilakukan terang-terangan bahkan untuk sekedar anonym. Atau mungkin juga terlalu mahal akibatnya untuk diterapkan di sini. Apa boleh buat. Istilahnya, jaga dapur masing-masing. Jangan sampai terlalu senewen hingga mengungkapnya ke ranah publik, yang dapat berakibat kita harus berurusan dengan hukum dan pihak yang lebih kuat.

    Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah duluan dan tengah berhadapan dengan hukum saat ini? Tentu dibutuhkan advokasi dari pihak-pihak terkait. Pasal hukum dan undang-undang masih menjadi makanan pihak eksklusif dengan kemampuan intektual di atas rata-rata saja. Sementara di masyarakat bawah dan menengah, permasalahan hukum tidak dapat dikatakan bersentuhan langsung.

    Sosialisasi atau edukasi mengenai suatu hukum atau undang-undang tak pernah segencar tentang kampanye KB misalnya. Tak seluwes seperti saat vendor telekomunikasi mempromosikan layanan gratis SMS ke sesama. Hal ini tentu perlu dipikirkan kembali oleh pihak legislatif agar produk hukum dan undang-undang dapat tersosialisasikan ke tengah-tengah masyarakat. Tentu saja pembahasaannya bisa dibuat lebih pop lagi. Tidak harus kaku dan ribet. Sebagaimana selama ini, sosialisasi di media-media massa, ditulis blek apa adanya dengan struktur formal. Jangankan dibaca, ditengok pun tidak saat membalik halaman.

    Bagaimana pun masyarakat perlu dibuat melek hukum. Jangan sampai, hukum baru disadarkan ke masyarakat saat ia sudah menghantui dalam bentuk hukuman.

    Kembali ke kasus ibu prita tadi. Tidak bisa dimengerti bagaimana kasus ini bisa terus berlanjut. Padahal publik mengetahui, Prita dan pihak RS Omni Internasional telah sepakat berdamai dan mengakhiri permusuhan serta di tingkat Pengadilan Negeri Tangerang, Prita dinyatakan bebas murni. Mengapa Kejaksaan masih harus mengajukan kasasi. Apakah ini siasat, ataukah trah hukum memang seperti ini? Siasat maksudnya, di saat masyarakat telah menurun antusiasmenya karena merasa sudah menang, maka inilah waktunya untuk menjatuhkan vonis dalam bentuk kasasi. Mudah-mudahan permasalahan ini bisa dijernihkan.

    Hanya mereka yang benar-benar konsen dengan masalah hukum dan kebebasan berekspresi saja yang akan setia terus mengawalnya. Termasuk kemungkinan untuk mengajukan judicial review terhadap pasal-pasal yang ada di dalam UU ITE.
    Kebebasan berekspresi di internet
    Bibit-Chandra 

    (Sumber : matanews.com)
    Namun paling tidak, ada satu fakta yang harus kita perhatikan. Ambil contoh pada kasus Bibit-Chandra. Akibat tekanan masyarakat yang begitu kuat, Presiden menggunakan hak deponering-nya untuk menghentikan kasus hukum kepada kedua pucuk pimpinan KPK tersebut. Dengan alasan, bila kasus ini diteruskan maka akan mengganggu stablitas Negara dan kepentingan umum. Tekanan kuat masyarakat yang massif, mau tak mau akan mempengaruhi posisi presiden dan kestabilan penyelenggaraan negara. Walaupun ada segelintir praktisi hukum yang mencoba mempertanyakan keputusan presiden ini, namun keduanya sekarang sudah dinyatakan bebas.

    Kebebasan berekspresi di Internet
    Logo Koin Keadilan (Sumber : angingmammiri.org)
    Begitu juga saat kasus Prita menemukan momennya, gerakan koin keadilan mampu mengumpulkan koin berton-ton beratnya, senilai lebih dari tujuh ratus juta rupiah serta turut serta mengundang beberapa tokoh nasional turut prihatin dan bersimpatik. Seperti Megawati, Adnan Buyung Nasution. Dan mendesak segera dilakukan islah antara Prita dengan pihak RS Omni Internasional.

    Ini masalah popularitas. Gerakan masif menemukan bentuknya dalam wadah jejaring sosial. Hanya di sinilah banyak massa berkumpul. Mereka mungkin tidak kenal sebelumnya. Namun rasa prihatin dengan rasa keadilan yang ternoda, menjadikan mereka sapu lidi yang kuat, yang mampu mengundang elemen bangsa lain untuk turut serta bersih-bersih sampah keadilan.

    Begitu juga dengan kebebasan berekspresi di internet. Satu suara individu tak akan mampu berbuat banyak. Tak lebih seperti surat pembaca di koran-koran yang halus suaranya, nyaris tak terdengar. Dan menjadi hampa saat mendapat jawaban normatif dari pihak yang dituju.

    Namun, begitu satu suara individu tadi mendapat efek viral berupa forward lewat jalur komunikasi virtual yang ada, maka ia menjadi tekanan yang kuat.

    Kebebasan berekspresi atau saya lebih suka menyebutnya sebagai kebolehan berpendapat, hanya akan memperoleh efek viral jika dan hanya jika bila disuarakan pada masyarakat maya yang berkumpul dalam bentuk milis, grup, atau jejaring sosial.

    Kebebasan berekpresi vs kebolehan berpendapat
    Kondisi menyatakan pendapat mungkin belum familiar di sini. Apalagi jargon seperti 'Bebas Bicara Bung!', 'Kebebasan berekspresi di internet', masih terdengar terlalu berani di alam Indonesia yang sarat aturan moral ini. Bagaimana bila kebebasan bereskpresi diganti jargonnya menjadi 'kebolehan berpendapat'? Mungkin ini terdengar lebih santun. Dan bila setuju, istilah ini akan memberikan turunan penyesuaian di belakangnya.

    Kata 'kebebasan' memberikan definisi yang berarti bebas mau apa saja. Bebas mengkritik, berkomentar, atau apa saja. Terserah apa saja yang menjadi komentar. Sakingnya, hal-hal kecil, tak perlu dan terkesan sepele pun, bisa dikomentari. Lupa, kalau tulisan bisa memberikan efek hiperbolis, lebih besar dari kenyataan yang ada.

    Padahal, kebebasan kita sebagai hak dibatasi pula dengan kewajiban untuk menghormati hak orang lain. Dalam hal kenyamanan dan bebas dari ketersinggungan. Kita baru mampu menerapkan kebebasan namun belum menyempurnakannya dengan bertanggung jawab. Kebebasan tanpa tanggung jawab, hanya akan menyulut sikap anti aturan (anarki). Kekerasan verbal.

    Sedangkan bila kita menggunakan 'kebolehan berpendapat', rasanya lebih sejuk. Sehingga ada semacam kontrol dari dalam diri, bolehkah kita menuliskan hal ini, adakah yang bakal tersinggung dan seberapa siap kita mampu memberikan jawab dan menyiapkan data pendukung bila kemudian kita ditanya otentitas tentang tulisan pendapat kita tadi?

    Ribet? Betul akan ribet. Tapi hal ini lebih baik daripada kita takluk dan tunduk kepada lembaga sensor. Ini bisa menjadi salah satu tips untuk kita, supaya 'aman' mengekspresikan pendapat di internet. Toh, kita kan hanya ingin menyuarakan pendapat supaya menjadi share bagi orang lain, bukan ingin dipenjara?

    Jadi, penjaminan negara atas berserikat dan kemerdekaan menyatakan pendapat, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 28F UUD 1945, harus terlebih dahulu diawali dengan kesadaran akan tanggung jawab atas pendapatnya dan mengerti akan resiko yang mungkin bisa muncul setelahnya.

    Apapun itu, proses pendewasaan memang terus berlangsung. Tak semudah membalik telapak tangan, namun dukungan dari semua pihak serta konsistensi dalam menegakkan peraturan hukum yang ada, semua akan menjadi lahan yang kaya humus untuk menyuburkan proses kebebasan berekspresi di internet, untuk Indonesia yang lebih baik.