2009-09-02

Jangan Ajarkan Kami Berpuasa

Tags



Ini pengalaman teman saya saat ia hendak berbuka ke tempat keluarga.


Ceritanya, ketika akan pergi ke tempat saudaranya itu, ia memutuskan menumpang becak dari jalan besar. Ketika enak-enaknya berada dalam becak, teman saya itu menangkap suara kunyahan begitu jelas dari arah belakang. Ia melihat si abang, sambil mengayuh becak, tengah menyuap potongan terakhir pisang goreng di tangannya. Sementara tangan satunya tetap memegang kemudi. Teman saya tadi jadi timbul geram, "Seenaknya saja makan, nggak lihat apa orang lagi berpuasa.."

Teman saya tadi jadi tambah penasaran bin gondok bukan main, ketika ia mengambil satu lagi pisang goreng dari kantong plastik yang disangkutkan di dekat kemudi becaknya, dan untuk kedua kalinya saya menelan ludah menyaksikan pemandangan yang bisa dianggap tidak sopan dilakukan pada saat kebanyakan orang tengah berpuasa.

"Abang, muslim bukan?” teman saya pun bertanya ragu-ragu. "Ya dik, saya muslim .." jawabnya terengah sambil terus mengayuh. "Tapi kenapa abang tidak puasa? Abang tahu kan ini bulan Ramadhan.Sebagai muslim seharusnya abang berpuasa. Kalau pun abang tidak berpuasa, setidaknya hormatilah orang yang berpuasa. Jadi abang jangan seenaknya saja makan di depan banyak orang yang berpuasa", geram temanku tak terbendung lagi.

Tukang becak itu langsung menghentikan kunyahannya dan membiarkan sebagian pisang goreng itu masih menyumpal mulutnya. Sesaat kemudian ia berusaha menelannya sambil memperhatikan wajah garang sang teman yang sejak tadi menghadap ke arahnya.

"Dua hari pertama puasa kemarin abang sakit dan tidak bisa narik becak. Jujur saja dik, abang memang tidak puasa hari ini karena pisang goreng ini makanan pertama abang sejak tiga hari ini. Tak perlu ajari abang berpuasa, orang-orang seperti kami sudah tak asing lagi dengan puasa," jelas bapak tukang becak itu.
"Maksud bapak?"
"Dua hari pertama puasa, orang-orang berpuasa dengan sahur dan berbuka. Kami berpuasa tanpa sahur dan tanpa berbuka. Kebanyakan orang seperti adik berpuasa hanya sejak Subuh hingga Maghrib,sedangkan kami kadang harus tetap berpuasa hingga keesokan harinya"
"Jadi ...,"
"Orang-orang berpuasa hanya di bulan Ramadhan, padahal kami terus berpuasa tanpa peduli bulan Ramadhan atau bukan. Abang sejak siang tadi bingung dik mau makan dua potong pisang goreng ini, malu rasanya tidak berpuasa. Bukannya abang tidak menghormati orang yang berpuasa, tapi..." kalimatnya terhenti seiring dengan tibanya sang teman di tempat tujuan.

Serentak, perasaan menyesal menyeruak dalam hati sang teman karena merasa telah menceramahinya…
* * *

Sobat, kisah di atas benar-benar terjadi. Bukan karangan saya. Saya tidak ingin menghakimi teman saya itu. Lebih baik ambil hikmahnya dan jadikan cermin untuk amal kita selanjutnya.
Betapa, sering kita merasa bangga dengan ibadah puasa kita. Merasa telah melalui perjuangan sedemikian berat, melalui rintangan puasa di hari terik dan cuaca kemarau yang menyiksa. Menahan dahaga yang mencekik, pahitnya lidah serta lapar yang membelit. Akan tetapi, begitu beduk Maghrib berkumandang maka selesailah ujian puasa kita hari ini. Musnah pula benteng hawa nafsu yang kita bangun seharian penuh, sejak fajar menyingsing. Berganti dengan amuk nafsu yang ingin menjejalkan segala macam hidangan pembuka ke dalam perut. Rasulullah saw, telah mengingatkan, seburuk-buruk tempat dalam tubuh manusia adalah perutnya…

Lantas, bagaimana dengan abang becak tadi. Sudahlah ia harus menanggung malu karena makan di tempat terbuka, ia harus mendapatkan omelan dan cacian dalam hati kita. Meminta kita dihormati. Padahal pernahkah kita menghormati mereka? Pernahkah kita sedikit bersabar mengalah, tatkala becak yang mereka kendarai menghalangi laju kendaraan kita? Pernahkah kita mengetahui, dengan apa mereka makan hari ini?

Padahal inti dari berpuasa adalah merangsang kepedulian sosial kita. Ikut merasakan kepedihan oleh yang mereka rasakan. Tatkala perut lapar minta diisi sedangkan tidak ada lagi uang yang ada di kantong. Tak ada lagi warung yang berbaik hati meminjamkan beras, sekedar untuk mengganjal perutnya dan perut anak-anaknya malam itu…

Kemana kita pada saat itu?

Makasih ya udah mampir ke blog Pakde. Besok-besok dateng lagi..
Monggo diisi feedback komennya di bawah ini
EmoticonEmoticon