Showing posts with label tausyah. Show all posts
Showing posts with label tausyah. Show all posts

2016-02-15

Kisah Teladan Hujan Sang Penjual Koran


Teladan Hujan Sang Penjual Koran
Ilustrasi (Foto: Tribun Lampung)
Kisah Hikmah - Pagi itu, sepulang dari mencari sarapan, aku lihat penjaja koran berteduh di emperan toko. Sejak subuh hujan turun cukup deras, yang membuatnya tidak bisa menjajakan korannya. Terbayang di benakku, tidak ada satu rupiah pun uang yang akan ia peroleh kalau hari terus hujan. Namun, kegalauan yang kurasakan ternyata tidak tampak sedikitpun di wajah Penjual Koran Sang Teladan itu.

Hujan masih terus turun. Kami membisu.

Si penjaja koran pun tetap duduk di emperan toko sambil tangannya memegang sesuatu. Tampaknya seperti sebuah buku. Kuperhatikan dari kejauhan, lembar demi lembar ia baca. Awalnya aku tidak tahu apa yang sedang ia baca. Namun saat kudekati, ternyata Al-Quran yang dibacanya.

Kudekati dan kusapa dia, "Assalamu 'alaikum Pak.."

“Waalaikum salam", ia menoleh sambil menorehkan senyum.

“Bagaimana jualan korannya Pak", tanyaku.

“Alhamdulillah, sudah satu yang terjual,” ucapnya dengan senyum yang belum lepas.

“Wah susah juga ya kalau hujan begini," ku coba membuka cerita.

“Insya Allah ada rizkinya.”

“Terus, kalau hujannya sampai sore?”

“Itu artinya rizki saya bukan jualan koran, tapi banyak berdoa.”

“Kenapa?”

“Karena kata Nabi, saat hujan adalah saat mustajab untuk berdoa. Punya kesempatan berdoa, juga rizki namanya,” ucapnya penuh arti. Tak kulihat segurat jumawa pun dari wajahnya. Sedikit orang yang mampu punya keyakinan seperti ini dalam kondisi sulit.

“Lantas, kalau tidak dapat uang?”, aku terus bertanya.

"Berarti, rizki saya bersabar".

Jleb! Masuk sekali ucapannya ini, menohok kalbu. Aku kejar lagi dengan pertanyaan, “Kalau tidak ada yang dimakan"?

“Berarti rizki saya berpuasa"

“Kenapa Mas bisa berpikir seperti itu?”

“Allah yang di atas, yang memberi  rizki. Apa saja rizki yang diberikan-Nya dan saya mensyukuri. Selama jualan koran, meskipun tidak laku, dan sekalipun harus puasa, tapi saya belum pernah kelaparan," katanya dengan mantap menutup pembicaraan.

Ternyata hujan pagi itu reda. Dan ia pun permisi bersiap-siap untuk berjualan. Ia pamit sambil memasukkan Al Quran ke dalam tas gendongnya.

Tinggallah, Aku termenung menatap punggungnya yang berlalu dari hadapan. Tanpa kusadari kacamataku mulai berembun. Tersaput oleh kucuran tangis. Aku terenyuh. Seakan muncul cermin besar di hadapan sendiri menyimak kalimat tausiah yang diucapkan seorang loper koran.

Ya Tuhan, begitu besarnya Imannya kepada Mu. Rasanya badan ini menciut kerdil. Ada penyesalan di dalam hati. Kenapa kalau hujan aku masih resah-gelisah. Khawatir tidak dapat uang. Khawatir rumahku terendam banjir. Khawatir tidak dapat hadir di undangan.

Khawatir akan penyakit yang berada dalam tubuh. Khawatir akan masa depan anak. Khawatir akan kalah gugatan di pengadilan. Khawatir tidak dapat klien. Khawatir tidak dapat bertemu kawan seprofesi. Dan selaksa kekhawatiran lainnya yang hadir di muka, seakan mencemoohku.

Kembali baru kusadari, rizki bukan semata uang. Bisa bersabar, berpuasa, berdoa, beribadah kesalehan sosial lain apapun itu, adalah juga rizki dari Allah SWT. Rizki hidayah dan bisa bersyukur adalah jauh lebih bermakna daripada pekerjaan dan uang.

Dari apapun juga. 
Copas dari Grup WA (*)

Tag: Teladan Hujan Sang Penjual Koran

2016-01-11

Qishas Ukasyah kepada Rasulullah Saw


Mencintai Rasulullah

Dalam suatu majelis, menjelang akhir hidup beliau, dalam keadaan badan kurang sehat Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan manusia."

Sahabat membisu, tak ada yang menjawab. Rasulullah Saw lantas mengulangi pertanyaannya. Hingga berdirilah salah seorang sahabat bernama Ukasyah, yang berdiri.

"Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa".
Rasulullah SAW berkata: "Sampaikanlah wahai Ukasyah".

Maka Ukasyah pun mulai bercerita, "Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, suatu ketika engkau menunggang kuda. Lalu engkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. Tetapi cambuk tersebut tidak kena pada belakang kuda, tapi justru terkena pada dadaku, karena ketika itu aku berdiri di belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah".

Mendengar itu, Rasulullah SAW berkata: "Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama."

Dengan suara yang agak tinggi, Ukasyah berkata: "Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah."

Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak marah pd Ukasyah. "Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah. Bukankah Baginda sedang sakit..!?"

Ukasyah tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah SAW lalu meminta Bilal mengambil cambuk di rumah anaknya Fatimah. Bilal pun segera berangkat dan meminta cambuk itu dari Fatimah, kemudian Fatimah bertanya: "Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?"
Bilal menjawab dengan nada sedih: "Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untuk memukul Rasulullah"

Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata, "Kenapa Ukasyah hendak pukul ayahku? Ia sedang sakit, kalau mau mukul, pukullah aku anaknya".

Bilal menjawab: "Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua". Bilal kemudian membawa cambuk tersebut ke Masjid lalu diberikan kepada Ukasyah.

Setelah mengambil cambuk, Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah. Tiba-tiba Abu bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ya Ukasyah! Kalau kamu hendak memukul, pukullah aku. Aku orang yang pertama beriman dengan apa yang Rasulullah SAW sampaikan. Akulah sahabatnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku".

Rasulullah SAW: "Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".

Kemudian Umar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata, "Ukasyah! Kalau engkau mau mukul, pukullah aku. Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya, itu dulu. Sekarang tidak boleh ada seorangpun yang boleh menyakiti Rasulullah Muhammad. Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah, maka langkahi dulu mayatku!"

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW, "Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".

Seterusnya berturut-turut berdirilah Ali bin Abi Thalib dan dua cucu kesayangan Rasulullah Saw, Hasan dan Husain mencoba membujuk Ukasyah menawarkan pengganti diri Rasulullah Saw. Namun, diingatkan bahwa urusan tersebut antara Ia dan Ukasyah.

Setiba di hadapan Rasulullah, Uksayah berkata, "Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah"

Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah. Tanpa berlama-lama dalam keadaan lemah, Rasulullah membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yang sangat indah, sedang beberapa batu terikat di perut Rasulullah pertanda Rasulullah sedang menahan lapar.

Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW, cambuk di tangannya ia buang jauh-jauh, kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW seerat-eratnya. Sambil menangis sejadi-jadinya, Ukasyah berkata, "Ya Rasulullah, ampuni aku, maafkan aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu.

Seumur hidupku aku bercita-cita dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka. Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah."

Rasulullah SAW dengan senyum berkata, "Wahai sahabat-sahabatku semua, kalau kalian ingin melihat ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah!"

Semua sahabat meneteskan air mata. Kemudian para sahabat bergantian memeluk Rasulullah SAW dan mencium Ukasyah. Allahumma shalli ala Muhammad.. (*)

2015-11-29

Mastaho’tum

Apa itu Mastatho'tum

Banyak jalan kita mendapatkan kebaikan. Begitu juga saat saya menemukan istilah Mastatho'tum, justru dari seorang Mas Dian Tegal. Internet Marketer yang berpenghasilan ratusan juta tiap bulannya. Dan berikut hakikat istilah apa itu Mastatho'tum.

Adalah Syaikh DR Abdullah Al Azzam, salah seorang ulama pejuang yang sangat disegani. Ia yang mampu mengobarkan semangat juang bagi para mujahidin Afghanistan semasa perjuangan melawan Uni Sovyet.

Suatu hari ia ditanya oleh seorang muridnya, “Ya Syaikh, apakah yang dimaksud dengan mastatho’tum?”

Sang murid menanyakan kata yang terdapat di dalam Al Quran, tepatnya di di Surat At Taghabun ayat 16, yang berbunyi fattaqullaha mastatho’tum. “Bertakwalah kepada Allah sebatas kemampuanmu”.

Apakah yang dimaksud dengan “Sebatas kemampuan” tersebut?

Sang Syaikh lalu mengumpulkan dan membawa murid-muridnya ke lapangan. Ia kemudian meminta semua muridnya untuk berlari mengelilingi lapangan semampu mereka. Tidak ditentukan berapa putaran, hanya diminta berlari saja seusai kemampuan fisik murid-muridnya.

Apa itu Mastatho'tum


Titik dan waktu keberangkatan sama, akan tetapi waktu akhir dan jumlah putaran setiap murid berbeda.

Satu putaran, para murid masih mampu menghela nafas lari. Memasuki putaran kedua, sebagian mulai terlihat kelelahan. Nafas mulai memburu tak karuan. Di putaran ketiga, lebih dari separuh para muridnya mengancungkan tangan tanda menyerah lalu menyingkir ke pinggiran lapangan.

Sebagian kecil masih terus berlari dan di putaran kelima, sudah tidak ada lagi yang sanggup berlari. Menepi kelelahan. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga, semampu mereka.

Setelah semua muridnya menyerah, duduk mengaso di pinggir lapangan. Sang Syaikh tanpa banyak bicara, mulai berlari mengelilingi lapangan. Para murid saling berpandang keheranan. Semua murid kaget dan tidak tega melihat gurunya yang sudah tua itu kepayahan.

Satu putaran, sang syaikh masih berseri-seri. Dua putaran mulai pucat pasi. Tiga putaran mulai kehilangan kendali. Menuju putaran yang ke-4 sang syaikh makin tampak kelelahan, raut mukanya memerah, keringat bertetesan, nafas tersengal-sengal tidak beraturan. Sesekali ia berjalan perlahan, namun beliau tetap berusaha.

Ia terus berlari sekuat tenaga, dari cepat, melambat, melambat lagi, hingga kemudian beliau pun terhuyung tanpa penyangga. Energinya terkuras habis tak tersisa. Beliau jatuh pingsan, tak sadarkan diri.
Para murid lantas berlarian menghambur ke arah sang syaikh yang terkapar di tanah. Mereka lantas ramai-ramai menggotongnya ke tempat yang lebih teduh dan berusaha memberikan pertolongan seadanya.

Tak lama, setelah beliau siuman dan terbangun, ia disodori minum dan seteguk air segar membasahi kerongkongannya. Baru kemudian, murid lainnya bertanya, “Syaikh, apa yang hendak engkau ajarkan kepada kami?”

Setelah mengatur nafas, ia lalu berkata “Muridku, inilah yang dinamakan titik mastatho’tum. Titik di mana saat kita berusaha semaksimal tenaga sampai Allah sendiri yang menghentikan perjuangan kita,” jawab Sang Syaikh dengan mantap.

* * *

Inilah bentuk ikhtiar tertinggi yang dilakukan seorang mahluk untuk memenuhi panggilan Tuhannya. Seseorang melakukan suatu usaha dengan sekuat tenaga dengan kemampuan yang ia miliki sampai titik terendah.

Hakikatnya mastatho'tum ialah memotivasi diri seseorang untuk berusaha atau berikhtiar dengan segala kesanggupannya hingga Allah mengakhiri usaha mereka sesuai dengan kesanggupan yang seseorang miliki. Dengan tujuan agar seseorang tidak menyerah di tengah jalan atau malas dalam berusaha apalagi sampai berputus asa dari Rahmat Allah Ta'alla.

Jangan mudah mengambil kesimpulan bahwa di sanalah batas kemampuan kita. Padahal itu hanyalah sebentuk penutupan (execuse) terhadap kelemahan diri. Berjuang sampai titik akhir, itulah yang dikehendaki dari setiap ikhtiar kita.

Wallahualam. (*)

2015-10-19

Indahnya Makna Salam


“Kalian tak akan masuk surga sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah aku tunjukkan satu amalan bila dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian.” [HR Muslim dari Abi Hurairah]


Makna Salam
Dikisahkan dalam sebuah riwayat, bahwasanya sahabat Mulia Abdullah bin Umar RA pergi ke pasar dan mengucapkan salam pada setiap orang yang dijumpainya. Lantas seseorang bertanya padanya. “Apa yang engkau lakukan di pasar wahai Ibnu Umar? Engkau tidak berniaga, tidak juga membeli sesuatu dan tidak menawarkan dagangan, engkau juga tidak bergabung dalam majelis orang-orang di pasar.”

Ibnu Umar menjawab, ”Sesungguhnya aku pergi ke sana hanya untuk menyebarkan salam pada orang yang aku jumpai.”

Indah sekali makna salam, yang tersirat dalam kisah tersebut. Bahwasanya, di zaman Rasul sendiri ucapan salam : Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh itu sangat luhur dan bernilai tinggi.

Dalam kisah lain, sebagaimana penulis dapat dari tausyah Ustadz Salim A Fillah - juga disebutkan Rasulullah Saw bersama sahabat muhajirin bermaksud berkunjung ke rumah salah seorang Anshar. Sahabat Anshar tersebut memang telah mengundang Rasulullah Saw dan para sahabat untuk menjamu makan siang.

Setibanya di depan pintu rumah, Rasulullah Saw segera mengucapkan salam. Namun, tidak ada yang menjawab. Rasulullah kemudian mengulangi salamnya hingga tiga kali. Tetap tidak ada jawaban. Lantas Rasulullah Saw pun membalikkan badan bersiap hendak meninggalkan rumah tersebut. Karena begitulah adabnya, jika setelah mengucap salam tiga kali tidak dijawab, maka kita dianjurkan untuk segera meninggalkan rumah tersebut.

Barulah kemudian, terdengar suara dari dalam. “Tunggu wahai Rasulullah, jangan pergi dulu. Mari masuk. Maafkan kami, bukannya tidak menjawab salam. Kami sengaja merendahkan suara saat menjawab salam. Agar kami sekeluarga mendapatkan keberkahan dengan salam yang Engkau ucapkan. Dan kami ingin mendapatkan keberkahan itu sebanyak-banyaknya (tiga kali)".

"Masuklah, sudah kami sembelih dan masak seekor kambing”, ujar ahli rumah dengan tersenyum sumringah.

Rasul dan sahabat pun masuk dan menikmati hidangan yang disajikan. Beliau sampai mengucapkan, “Kita harus mempertanggungjawabkan, makanan yang kita makan hari ini”. Saking nikmatnya hidangan yang disajikan di saat siang itu.

Begitulah. Para sahabat sangat menyadari tentang keutamaan menebarkan salam dan menjawabnya. Karena di dalamnya terkandung doa keselamatan dunia dan akhirat. Bagaimana dengan kita?

Makna Assalamualaikum
Hukum Salam  
Ibnu Abdul Barr serta yang lainnya mengutip ijma’ kaum muslimin bahwa hukum mengucapkan salam adalah sunah dan menjawabnya adalah wajib.

Imam Qurthubi berkata, “Para ulama sepakat mengucapkan salam adalah sunah yang sangat dianjurkan, sedangkan hukum menjawabnya adalah wajib, sesuai dengan firman Allah SWT, “Apabila engkau dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah SWT memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An Nisa : 86)

Menurut Imam Nawawi, jika salam diucapkan oleh seorang kepada banyak orang maka hukumnya fardu kifayah (seperti Hukum menyolatkan jenazah), artinya jika hanya ada satu orang dalam jumlah banyak tersebut, yang menjawab salam dari seorang tadi maka gugurah kewajiban tersebut bagi yang lainnya. Tapi jika tak ada yang menjawab seorang pun maka orang-orang yang sedang berkumpul tersebut berdosa semua. Dan bila semuanya menjawab salam tersebut naka itulah puncak kesempurnaan dan keutamaan.

Hikmah dari mengucapkan dan menjawab salam sesama Muslim akan menumbuhkan dan memperkuat rasa cinta di antara muslim. Di antara etika salam yang dapat mewariskan rasa cinta dan menambah kelembutan kasih sayang adalah berjabat tangan ketika berjumpa disertai dengan senyuman, keramahan dan dipenuhi dengan wajah yang berseri-seri.

Rasulullah Saw bersabda, “Siapa saja dari dua orang muslim yang bertemu lantas saling berjabat tangan, maka Allah SWT akan mengampuni dosa keduanya sebelum mereka berpiah.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad.)

Tentu dalam hal ini berjabat tangan yang sesuai dengan syariat Islam, yaitu laki-laki dengan laki-laki, wanita dengan wanita, atau laki-laki dengan wanita (muhrimnya). Salam adalah simbol kasih sayang dan keselamatan. Salam juga merupakan risalah seorang muslim dalam mengekspresikan rasa cintanya kepada orang yang diberi salam.

Rasulullah Saw bersabda, “Demi dzat yang menguasai diriku, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan belum sempurna iman kalian hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian akan saling mencintai? Sebarkan salam diantara kalian.” HR. Muslim

Yang dimaksud menyebarkan salam adalah menebarkan dan mengucapkannya kepada seluruh muslim, baik itu anak kecil, ataupun orang tua, jauh atau dekat, orang yang dikenal ataupun tidak.
Ucapan ”Assalamu’alaikum”, merupakan anjuran agama, dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan umat beragama, dengan salam dapat menjalin persaudaraan dan kasih sayang, karena orang yang mengucapkan salam berarti mereka saling mendo’akan agar mereka mendapat keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.

Meski nampak sederhana, ucapan salam sudah diatur oleh agama kita (Islam). Ucapan Assalamu alaikum السلام عليكم dalam Bahasa Arab, digunakan oleh kaum Muslim. Salam ini adalah Sunnah Nabi Muhammad Saw, intinya untuk merekatkan ukhuwah Islamiyah umat Muslim di seluruh dunia.
Sebelum Islam datang, orang Arab terbiasa menggunakan ungkapan-ungkapan salam yang lain, seperti Hayakallah, artinya semoga Allah menjagamu tetap hidup. Namun ketika Islam datang, ucapan itu diganti menjadi Assalamu ‘alaikum, artinya semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa.

Abu Umammah Ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: ”Orang yang lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang lebih dahulu memberi salam.” (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi )

Abdullah bin Mas’ud Ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Salam adalah salah satu Asma Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan dihadapan Allah. Jika jama’ah suatu majlis tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik dari merekalah (yakni para malaikat) yang menjawab ucapan salam.” (Musnad Al Bazar, Al Mu’jam Al Kabir oleh At Tabrani)

Abu Hurairah Ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “ Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan Salam.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman didalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 86, “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.”

Bedanya agama kita dengan agama lain, setiap Muslim ketika mengucapkan salam kepada saudaranya, dia akan diganjar dengan kebaikan (pahala).


Kaidah Mengucapkan Salam
Dalam kaidah singkat menyingkat pun sudah diatur oleh Allah dan diajarkan kepada Rasulullah. Dalam suatu pertemuan bersama Rasulullah Saw, seorang sahabat datang dan melewati beliau sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum”. Rasulullah Saw lalu bersabda, “Orang ini mendapat 10 pahala kebaikan,” ujar beliau. Tak lama kemudian datang lagi sahabat lain. Ia pun mengucapkan, “Assalamu‘alaikum Warahmatullah.” Kata Rasulullah Saw, “Orang ini mendapat 20 pahala kebaikan.” Kemudian lewat lagi seorang sahabat lain sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullah wa barakatuh.” Rasulullah pun bersabda, “Ia mendapat 30 pahala kebaikan.” [HR. Ibnu Hibban dari Abi Hurairah].

Beberapa kaidah salam yang baik di antaranya; bagi orang yang berkenderaan mengucapkan salam kepada yang berjalan kaki dan pejalan kaki memberi salam kepada yang duduk. Orang yang lebih muda memberi salam kepada yang lebih tua, mereka yang kuat memberi salam kepada yang lemah. Bagi yang kaya memberi salam kepada yang miskin dan seterusnya.

Jika seperti itu, secara sendirinya akan menghilangkan egoisme dalam diri umat sekaligus menjalin interaksi sosial yang baik.

Salam tidak hanya untuk kaum pria saja, Asma’ binti Yazid RA pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah ketika lewat di depan masjid dan sekelompok perempuan sedang duduk-duduk di sana, maka Rasulullah melambaikan tangannya sambil memberi salam. Selanjutnya, dianjurkan juga untuk mengucapkan salam kepada anak-anak, agar membiasakan mereka dengan adab-adab memberi salam. Anas RA Menceritakan bahwa ketika ia melewati anak-anak kecil, kemudian ia mengucapkan salam kepada anak-anak tersebut.

Kaidah salam yang lain juga telah mengatur rendah dan tingginya suara ketika mengucapkan salam. Terutama ketika malam hari, mengucapkan salam harus dengan suara rendah dan lembut selama dapat didengar oleh orang yang masih terjaga.

Dengan kata lain, apabila mengucapkan salam pada malam hari selama bukan urusan yang amat penting dan mendesak, tidak boleh mengganggu orang yang sedang tidur apalagi membangunkannya. Wallahualam. 

2015-06-02

Engkau berhak mendapatkan nyawaku

Suami Isteri

Kisah ini, tentang kehidupan suami istri. Suatu ketika, di antaranya terjadi perselisihan. Saking hebatnya, terjadilah pertengkaran dan adu mulut. Suaminya yang emosi lantas mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan menampar pipi sang istri. Sang istri terhuyung memegang pipinya yang memerah. Tangisnya tumpah. Istri, makhluk yang lembut, yang terlarang untuk disakiti.

Dalam keadaan begitu, tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu depan. Sedangkan, sang istri masih terisak tangisannya.

Sang suami segera menenangkan diri dan kemudian berlalu ke arah depan. Melalui lubang pintu, ia pun melihat siapa tamu yang datang.

Dadanya berdegup. Ternyata yang datang adalah mertua dan keluarga istrinya. Ia mendadak bingung. Tapi ia tak ingin mertuanya menunggu lama dan curiga dengan aap yang terjadi. Ia segera membuka pintu, dan sebisa mungkin merubah rona wajah. Sedangkan sang istri segera berlari ke kamar mandi dan mencuci muka serta memperbaiki penampilan dirinya. Agar dia tidak terlihat seperti sedang menangis.

Begitu masuk ke dalam rumah, sang ibu masih bisa menangkap wajah putrinya yang sembab. Maka dan bertanyalah sang ibu, “Apa yang terjadi denganmu. Apa engkau habis menangis duhai putriku? Kenapa engkau menangis?”.

Suami Isteri

Dengan spontan, sang putri menjawab, "Iya ibu, aku menangis. Aku rindu dengan mu Ibu. Aku sempat berdoa dan ternyata Allah langsung mengabulkannya dan mengirimkan juga ibu datang ke sini, hingga tersampaikanlah rinduku ini.” sembari memeluk ibunya dlm keadaan masih menangis..

Sang suami tercengang. tidak menduga istrinya akan berucap seperti itu. Dalam bayangannya, sang istri pasti akan mengadukan perbuatannya kepada sang Mertua. Jika itu yang terjadi, maka habislah rumah tangganya. Namun, ternyata istrinya justru bersikap sebaliknya.

Ia pun pamit keluar rumah menuju ke pasar. Dibelikannya makanan untuk tamu yang datang, dan dia pun mampir ke toko perhiasan dan membelikan kalung emas senilai 1000 real (sekitar Rp33 juta). Ia lalu bergegas pulang.

Sesampainya di rumah, sang suami kemudian menjamu dan melayani keluarga mertuanya dengan sebaik-baiknya. Lalu, saat sore menjelang, keluarga mertuanya itu pun pulang.

Kemudian ia menuntun istrinya ke kamar lalu diberikan perhiasan tersebut.

Sang istri terhenyak berkata, "Subhanallah, ini kan terlalu mahal untukku wahai suamiku,". Sang suami mnjawab, "Engkau telah menyelamatkan rumah tanggaku, engkau sungguh-sungguh wanita shalihah, engkau wahai istriku, bahkan engkaupun berhak mendapatkan nyawaku”.

Hikmah
Dari kisah di atas, setidaknya kita bisa menarik pesan moral :

1.Diperintahkan untuk merahasiakan permasalahan rumah tangga kepada orang tua, karena itu akan menjadi beban orang tua, setelah seumur hidup kita sudah membebani orangtua. Sejak lahir hingga kita akil baligh.
2.Dianjurkan, hargailah setiap kebaikan yang sudah dilakukan oleh pasangan kita.
3.Dianjurkan, sesekali memberikan hadiah kepada sang istri, sebagai tanda terima kasih kita atas perjuangannya, jerih payahnya mengurus keluarganya. Jika bisa memberikan yang terbaik, jika tidak yang sesuai kemampuan dan bermanfaat untuk sang Istri.

Wallahu a'lam. (fb)

2015-06-01

Persiapan Ramadhan

“Seandainya hamba-hamba mengetahui apa yang ada dalam apa yang ada pada bulan Ramadhan, niscaya umatku berangan-angan agar Ramadhan terus berlangsung sepanjang tahun.”
(Al Hadist)

Persiapan Ramadhan yang Baik


Syaban tahun ini sudah mendekati akhir. Dan Ramadhan semakin mendekat, tinggal hitungan hari saja. Apa yang telah kita persiapkan dan bagaimana kita mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadan?

Dalam menyambut Bulan Ramadhan ini, uamt muslim terbagi dua. Pertama, ikut bergembira dan memberi arti khusus dengan masukknya Ramadhan, namun dengan cara dan semangat yang berbeda.
Kelompok ini, menjadikan datangnya bulan Ramadhan sebagai musim untuk makan, minum, menghidangkan kue-kue, begadang atau menonton televisi. Mereka mempersiapkan makanan jauh-jauh hari sebelum Ramadan, karena khawatir kehabisan atau harganya naik, maka mereka memborong makanan dan minuman.

Kemudian mereka mencari-cari informasi di chanel televisi untuk mengetahui acara apa yang menarik diikuti dan yang layak ditinggalkan. Mereka abai dengan keutamaan ibadah dan sunnah-sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan di dalam bulan Puasa.

Kelompok kedua, sebagian yang lain sadar akan hakekat puasa di bulan Ramadan, maka mereka mempersiapkan dirinya sejak bulan Sya’ban. Bahkan ada yang telah mempersiapkan sebelum itu.
Tulisan berikut mengajak kita untuk mempersiapkan diri dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Agar Ramadhan kali ini, lebih berisi dan lebih bermakna serta lebih berbekas dalam praktek kehidupan selanjutnya.

Di antara persiapan yang terpuji untuk menyambut bulan Ramadan adalah :

Persiapan Ramadhan yang Baik
1. Bertaubat dengan jujur.
Taubat pada dasarnya wajib setiap saat. Akan tetapi karena akan (menyambut) kedatangan bulan yang agung dan barokah ini, maka lebih tepat lagi jika seseorang segera  bertaubat dari dosa-dosanya yang diperbuat kepada Allah serta dosa-dosa karena hak-hak orang lain yang terzalimi.

Agar ketika memasuki bulan yang barokah ini, dia disibukkan melakukan ketaatan dan ibadah dengan dada lapang dan hati tenang.

Allah ta’ala berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS An-Nur: 31).

Baginda Rasulullah Saw bersabda : “Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat (kepada Allah) dalam sehari seratus kali” (HR Muslim)

2. Berdoa.
Diriwayatkan dari sebagian (ulama) salaf, bahwa mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadan, kemudian mereka berdoa lagi lima bulan setelahnya semoga amalnya diterima.

Seorang muslim hendaknya berdoa kepada Tuhannya agar mendapatkan bulan Ramadan dalam keadaan baik, dari sisi agama maupun fisik, juga hendaknya dia berdoa semoga dibantu dalam mentaati-Nya serta berdoa semoga amalnya diterima.

Persiapan Ramadhan yang Baik

3. Gembira dengan semakin dekatnya kedatangan bulan yang agung ini.
Sesungguhnya mendapatkan bulan Ramadan termasuk nikmat Allah yang agung bagi seorang hamba yang muslim. Karena bulan Ramadan termasuk musim kebaikan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Ia adalah bulan Al Quran serta bulan terjadinya peperangan-peperangan yang sangat menentukan dalam (sejarah) agama kita.

Allah berfirman: “Katakanlah, 'Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS Yunus : 58)

4. Menyelesaikan tanggungan (qadha) kewajiban puasa.
Dari Abu Salamah, dia berkata, saya mendengar ‘Aisyah radhiallahu ’anha berkata : “Aku memiliki kewajiban berpuasa dari bulan Ramadan lalu, dan aku baru dapat mengqadanya pada bulan Sya’ban.” (HR Bukhari)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dari keseriusan beliau (mengqadha) pada bulan Sya’ban disimpulkan bahwa hal itu menunjukkan tidak diperkenankan mengakhirkan qadha sampai memasuki bulan Ramadan berikutnya.” (Fathul Bari, 4/191)

5. Membekali diri dengan ilmu agar dapat mengenal hukum-hukum puasa dan mengetahui keutamaan Ramadan.
6. Segera menyelesaikan pekerjaan yang boleh jadi (jika tidak segera diselesaikan) dapat mengganggu kesibukan ibadah seorang muslim di bulan Ramadan.
7. Berkumpul bersama anggota keluarga, dengan istri dan anak-anak untuk menjelaskan hukum-hukum puasa dan mendorong  si kecil untuk berpuasa
8. Mempersiapkan sejumlah buku yang layak untuk dibaca di rumah atau menghadiahkannya kepada imam masjid agar di baca (di depan) jamaahnya pada bulan Ramadan.

9. Berpuasa pada bulan Sya’ban sebagai persiapan untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Dari ‘Aisyah ra : “Rasulullah Saw berpuasa sampai kami mengatakan (mengira) dia tidak pernah berbuka. Dan (lain waktu) beliau tidak berpuasa sampai kami mengatakan (mengira) dia pernah berpuasa. Dan aku tidak melihat Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh selain di bulan Ramadan dan aku tidak melihat Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam memperbanyak berpuasa selain di bulan Sya’ban”. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Usamah bin Zaid radhiallahu ’anhu, dia berkata : “Saya bertanya, Wahai Rasulullah saya tidak pernah melihat anda berpuasa di antara bulan-bulan yang ada seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?” (Beliau) bersabda: “Itu adalah bulan yang sering diabaikan orang, antara Rajab dan Ramadan. Yaitu bulan yang di dalamnya diangkat amal (seorang hamba) kepada Tuhan seluruh alam. Dan aku senang saat amalanku diangkat, aku dalam kondisi berpuasa.” (HR Nasa’i)

Persiapan Ramadhan yang Baik

Dalam hadits di atas dijelaskan hikmah berpuasa pada bulan Sya’ban, yaitu bulan diangkatnya amalan. Sebagian ulama menyebutkan hikmah lainnya, yaitu bahwa puasa (pada bulan Sya’ban) kedudukannya seperti sunnah qabliyah dalam shalat fardhu. Agar jiwa merasa siap dan bersemangat dalam menunaikan kewajiban. Demikianlah yang dikatakan terhadap puasa di bulan Sya’ban sebelum Ramadan.

10.  Membaca Al Quran.
Salamah bin Kuhail berkata: Dahulu dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan bacaan (Al Quran). Adalah Amr bin Qais apabila memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup tokonya, lalu berkonsetrasi membaca Al Quran.

Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman dan bulan Ramadan adalah bulan memanen tanaman."

Dia juga berkata: "Perumpamaan bulan Rajab bagaikan angin, sedangkan perumpamaan Sya’ban bagaikan mendung dan perumpamaan Ramadan bagaikan hujan. Barangsiapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiram pada bulan Sya’ban, bagaimana dia akan memanen di bulan Ramadan."

Mari lakukan Persiapan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Wallahualam. (*)

2015-05-04

Kaya Keluar atau kaya ke Dalam


Syahdan, terjadilah dialog antara seorang murid dengan gurunya. Sudah lama ia belajar dari sang guru. Ia sering memperhatikan, gurunya hidup sederhana. Tidak nampak kekayaannya. Namun tidak pula seperti orang miskin yang serba kekurangan.

Untuk kehidupan sehari-hari, sang guru ahli hikmah nan bijak tersebut, mengenakan pakaian sederhana. Tidak kumal dan tidak pula terlihat kumuh. Namun, saat datang orang memerlukan bantuan, ada saja yang dapat diberikan oleh sang guru. Ia sering terpekur memikirkannya, bagaimana mungkin kehidupannya yang sederhana, namun masih bisa membantu orang lain.

Ia menduga, pasti gurunya ini adalah orang kaya. Tak mungkin ia bisa membantu orang, jika ia sendiri tidak berkecukupan. Lalu, dalam sebuah kesempatan berdua, ia pun menanyakannya kepada sang guru :

"Guru bagaimana cara menjadi orang yang kaya raya?", tanyanya.

Sang guru tersenyum dengan indahnya. "Anakku, ada dua cara menjadi orang yang kaya raya. Ingatlah baik-baik keduanya. Pertama, Kamu bekerja keras di setiap waktu yang kamu punya. Lalu mengumpulkan semua rezeki yang diperoleh ke dalam rumahmu dalam bentuk harta benda, asset dan berbagai kepemilikan lainnya atas namamu.

Dengan begini, kamu akan kaya raya. Punya banyak macam harta yang bisa menjadi jaminan mu di masa yang akan datang. Kamu bisa pergi ke tempat yang kamu sukai. Dan kamu juga bisa memilih akan bertempat tinggal di mana yang engkau senangi. Namun satu hal, kamu tidak akan tahu nasib hartamu itu ke depan. Akankah kekal, atau malah lenyap ditelan musibah”, lanjut sang guru.

“Lalu, cara yang kedua,  sama saja. Yakni dengan bekerja keras. Menyingsingkan lengan baju untuk bekerja. Namun, kamu bisa membagikan sebagian besar dari rezeki yang kamu peroleh untuk di luar rumahmu. Sedangkan yang di dalam rumah hanya yang secukupnya seperlunya saja.

Dan aku lebih menyarankan cara kedua untuk orang sepertimu", jawab Guru.

Murid tersebut lantas mengernyitkan keningnya,"Mengapa demikian Guru? Bukankah harta benda kekayaan kita adalah hak kepemilikan kita?"

"Betul. Tetapi bila semua engkau kumpulkan ke dalam rumahmu, hatimu akan sering terikat kepadanya. Engkau akan cenderung kepadanya karena engkau merasa telah menyayanginya demi apa yang telah engkau lakukan untuk mengumpulkannya.

Namun, bila terjadi kehilangan, - seperti dicuri orang jahat, habis oleh musibah kebakaran, atau terpaksa harus pergi meninggalkannya, maka engkau akan merasa sakit sekali. Berasa menjadi mendadak jatuh miskin dan merasa kehilangan segala-galanya," terang sang Guru.

"Sedang cara yang kedua?"

"Cara yang kedua jika engkau lakukan, akan membuat hatimu tidak terikat kepada harta-harta itu. Karena sebagian besar ada di luar rumahmu. Engkau menyebarkannya kepada para tetangga, orang-orang di luaran sana dan mengatakan bahwa ini pinjaman dari Allah Swt bagi hidup mereka.

Engkau merasa seperti keran air yang hanya dititipi rezeki dan menyalurkan untuk mereka dan engkau tidak akan pernah kehilangannya karena Allah yang menjadi saksi dan penjaganya sedang saat engkau harus meninggalkannya itu semua menjadi amalan sholeh yang tidak putus-putusnya bagimu," urai sang guru.

Murid itu tertunduk dalam renungan. Hari itu ia belajar tentang makna kaya. Kaya yang bisa sejalan antara kaya materi dengan kaya hati. Kaya yang membebaskan, bukan kaya yang mengikatkan hati kepada harta-harta yang dimiliki. Sehingga muncul berat saat harus berbagi. (*)