Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts

2014-03-31

Resensi Buku : Jika Aku Muslimah. Gaul Udah Pasti, Syar’i Harga Mati

Resensi Buku -- Hal pertama yang menarik dari buku bertajuk Jika Aku Muslimah. Gaul Udah Pasti, Syar’i Harga Mati adalah ilustrasi gambar yang digunakan. Full color dan sangat bagus. Karakternya lucu dengan penggunaan pewarnaannya yang unik, seperti menggunakan cat air. Paling tidak menambah khasanah komik tanah air dan yang bernafaskan islami.
Resensi Buku Jika Aku Muslimah. Gaul udah pasti, Syari Haga Mati
Cover Ceria dari Buku Jika Aku Muslimah.
Buku Jika Aku Muslimah. Gaul Udah Pasti, Syar’i Harga Mati ini setebal 108 + vi halaman berpusat pada sepenggal kisah hidup Caca - remaja stereotype kontemporer generasi penggila K-Pop, dan kakak sepupunya, Aisyah. Caca tengah berlibur ke rumah Ayyi - panggilan Aisyah. Ada juga beberapa tambahan cerita mengenai kehidupan Al Ghazali dalam dua cerita terakhir.
 
Aisyah (20) yang digambarkan sudah dewasa. Seorang mahasiswi, sangat baik ahlaknya, berwawasan luas dan berjilbab lebar. Sedangkan Caca, remaja kekinian yang masih suka dandan, cinta boyband Korea dan punya teman yang sama akutnya, Luna dan Lolly. Komplit karakter khas remaja dalam komik Jika Aku Muslimah ini.
Resensi Buku Jika Aku Muslimah. Gaul udah pasti, Syari Haga Mati
 
Buku yang dilabel oleh penebitnya sebagai iCOMIC ini, dibuat oleh Fivi Achmad. Dari segi ilustrasi sangat bagus. Namun, dengan keterbatasan halaman, memang sangat terasa kurang dalam penuntasan cerita pendeknya.
Resensi Buku Jika Aku Muslimah.
Sembilan Komik Pendek dalam Komik "Jika Aku Muslimah".
Ada sembilan cerita yang diangkat di sini. Terutama tentang ajakan menutup aurat, tentang jilbaber yang ‘norak’ dandanannya, pose selfie, ada juga yang menyoal logo freemason serta pacaran.
Kilat saja membaca keseluruhan cerita dalam buku komik ini. Karena, tidak perlu pemahaman lebih untuk menikmatinya. Ada beberapa kritik sosial yang langsung kena sasatan, ada juga fragmen yang terlalu cepat disimpulkan.
Resensi Buku Jika Aku Muslimah.
Seperti bagaimana seorang Caca bisa ‘drastis’ segera menutup aurat secara full dengan satu nasihat saja. Hal yang sama juga berlaku pada kedua temannya Lolly dan Luna yang begitu cepat berjilbab lebar. Semuanya, dari segi cerita terasa tergesa-gesa.
Resensi Buku Jika Aku Muslimah.
Tapi, memang seperti kumpulan komik pendek lainnya. Terbatasnya halaman menjadi sebab bagi pembuatnya untuk melakukan eksplorasi. Lagi pula komik ini diniatkan sebagai sarana penyampai nasihat, dan tidak ada niat untuk menjadi semacam novel grafis.
 
Hal ini secara kasat mata bisa dilihat dengan pencantuman dalil-dalil yang terasa berat di beberapa tempat. Dapat dipastikan mata pembaca akan berlanjut ke halaman berikutnya, daripada berhenti sejenak memperhatikan dalil nan panjang tadi.
Resensi Buku Jika Aku Muslimah.
Mungkin bisa saja penulis ini menterjemahkan dalil yang panjang tadi ke dalam alur cerita, dengan bahasa yang lebih poluler. Sehingga, penyampaiana nasihat secara halus bisa meresap ke alam bawah sadar. Ketimbang secara frontal menyajikan sebagai bagian keseimbangan komposisi halaman saja.
Dan jika memang tidak ingin kehilangan makna redaksi nash-nash yang digunakan, bisa diberi tautan ke catatan kaki di halaman belakang.
 
Namun overall, sebagai penikmat kartun dan ilustrasi saya sangat memuji kehalusan gambar yang dibuat. Demikian sedikit Review Buku Jika Aku Muslimah. Gaul Udah Pasti, Syar’i Harga Mati.
 

2013-07-03

Resensi komik : 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik


 Resensi Buku 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik
Jika dalam dunia kesusasteraan dikenal istilah memparafrasekan puisi menjadi karangan prosa. Maka buku ini bolehlah jika kita sebut 'memparafrasekan' karangan serius menjadi sebuah komik - tepatnya jalinan komik strip.

Adalah penerbit Cendana Art Media yang berinisiatif menerbitkan buku berjudul 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik. Yang tak lain merupakan adaptasi dari hasil penelitian ilmiah yang juga telah diterbitkan dengan judul yang sama.

Di mata saya, Cendana Art Media merupakan penerbit favorit karena konsen mengeluarkan komik-komik buatan asli Indonesia, penyegar dahaga di tengah gempuran komik jepang yang mengepung dari segala penjuru, untuk semua kalangan usia. Terutama seri komik 1001, yang asli mengundang ngakak- tak sebatas senyum saja, karena lucu dan segar banget.

Termasuk juga dalam buku 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik ini. Seusai tuntas membaca buku ini, saya menangkap beban berat kolaborasi dua komikus muda berbakat - Kurnia (Koel) H Winata dan Kickers Arsyad - dalam menerjemahkan kandungan buku 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia karangan Ali Akbar, peneliti Sosial Budaya dan Dosen Arkeologi Universitas Indonesia. Sehingga, humornya nyaris gagal membangkitkan sunggingan senyum saya.

Ya, saya gagal paham. Humor-humor yang berusaha dibuatnya terasa tidak orisinil, kecuali di beberapa bagian saja. Terasa sekali idenya tidak spontan. Mungkin ini disebabkan karena proses pengerjaannya yang terlalu panjang, sehingga spontanitasnya menguap si tengah jalan. Di mana komik ini digarap berdua, yakni Kickers Arsyad dan Kurnia H Winata (story board) serta ada dua komikus kondang di belakangnya yakni Ismail (Sukribo) selaku supervisor dan Beng Rahadian selaku editor dari Cendana Art Media. Komposisi dahsyat sebenarnya.

Mungkin ini resikonya menterjemahkan karangan orang lain. Sehingga, imajinasi terkungkung oleh 'pakem' yang secara alamiah muncul oleh definisi dan pembicaraan yang ada dalam buku induknya.

Atau bisa juga saya keliru, terlalu berharap buku ini dapat memantik tawa melalui humor segar nan spontan. Sehingga, hasil kajian serius survey tentang ciri negatif orang indonesia yang mungkin saja bisa lucu secara verbal, namun kurang 'nendang' dari segi penggarapan ide komik sebagai sebuah sequential art.

Bisa jadi pula, desakan penerbit yang hanya mengizinkan satu sub ide tuntas dalam satu halaman saja. Sehingga, duo komikus ini harus benar-benar jungkir balik memeras ide dan memangkas gambar sepadat mungkin. Dan hasilnya, sekali lagi saya gagal paham untuk mencerna maksud setiap panel komik stripnya. Kecuali, Saya musti balik ke bagian kiri atas untuk membaca judul dari setiap #chapternya barulah menganguk tanda mengerti, apa yang ingin disampaikan oleh komikus.

Atau kemungkinan terakhir, saya musti baca buku induknya dulu, 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia baru bisa nyambung dengan maksud buku ini. Atau memang buku ini hanya menjadi ilustrasi buku induk yang dijual terpisah? Haha-ha.. Saya pasti salah.

Okelah, mungkin sekali lagi saya yang salah karena berharap kelucuan spontan dari buku ini - sebagaimana khasnya buku-buku komik terbitan Cendana Art Media sebelumnya. Karena, buku ini bagus dari segi misi. Yakni ingin menunjukkan 9 ciri negatif orang indonesia #dalam format komik. Yang memuat kritik sosial untuk kita tertawakan bersama. Tawa getir tentunya. Karena boleh jadi, kita menjadi salah satu yang tersindir di dalamnya.

Ada tentang keramahan kita sebagai orang Indonesia terhadap bule yang datang berkunjung ternyata ada maunya. Atau tentang betapa pendidikan korupsi yang tanpa sadar sudah berlangsung bahkan kepada anak tetangga kita sendiri. Semuanya miris terasa.

Semuanya digambarkan dengan kartun yang bersih dan rapi, khas sekali finishing ala Sukribo, komik strip yang muncul setiap pekan di harian Kompas.
 Resensi 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik
 Resensi 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik
 Resensi 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik
 Resensi 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia #Dalam Komik

Jika memang dari ke semua sifat itu, yakni : ramah, malas, tidak disiplin, korupsi, emosional, individualis, suka meniru, rendah diri, boros, percaya tahayul, bodoh, pengoceh, munafik, sombong dan kreatif, ada pada diri anda, maka SELAMAT! berarti anda adalah manusia Indonesia tulen..

Hampir kelupaan, di akhir komik, terselip empat halaman komik tambahan, tentang behind the scene pembuatan komik ini, dari masing-masing perspektif mereka berdua. Di sinilah saya melihat 'karya asli' mereka yang asli dan spontan, walau masih berupa sketsa kasar saja.

Oh ya, saya baru sadar ada 15 ciri yang dibicarakan dalam kumpulan komik strip ini. Tapi mengapa diberi judul 9 ciri saja ya? Ah, sekali lagi saya gagal paham pemirsa..

Selamat membaca!

2013-05-12

Resensi Buku Sila ke-6 : Kreatif Sampai Mati



Resensi Buku  Sila ke-6 : Kreatif Sampai Mati -- Membaca buku setebal 320 halaman ini, serasa membaca majalah Intisari edisi khusus. Sama sekali tak ada 'bau' buku formal di dalamnya. Bagaimana tidak, sejak halaman pengantar hingga halaman terakhir, buku karangan Wahyu Aditya ini penuh dengan ilustrasi kreatif nan sableng. Hura-hura dengan layout orisinil dan hemat dalam pemilihan kata.

Alih-alih memainkan layout buku dengan energi kreatif yang elegan, layaknya buku-buku genre how-to lain yang secara rapi dan teratur menempatkan ilustrasi, caption dan footer, founder Hellomotion Academy ini lebih menjadikan bukunya bak catatan binder kuliah yang dikumpulkan dari perjalanan hidupnya, lengkap dengan coretan ilustrasi ala scratch book, serba spontan. Memang menjadi kreatif itu harus berani keluar dari pakem, istilahnya Out of the Box.

Sila Ke-6 : Kreatif Sampai Mati

Segar benar rasanya menyeruput ide yang digagas Wahyu Adiya (selanjutnya ditulis dengan akun Twitternya aja ya, @maswaditya namanya kepanjangan kalo mau ditulis terus :) .

Publik barangkali mengenal @maswaditya sebagai pendiri Hellomotion Academy dan penggagas festival film pendek dan pop culture Hellofest. Sedang saya mengenalnya lebih dekat baru di buku ini. Sebelumnya pernah kesasar ke web milik Kementerian Desain Republik Indonesia (KDRI) yang katanya belum atau malah tidak (akan pernah) sah.

Entah, magnet apa yang menuntun mata saya melihat bahkan sampai membeli buku Sila ke-6 : Kreatif Sampai Mati ini. Padahal, mati-matian saya tahan nafsu tidak membeli buku komik-komik Indonesia keluaran terbaru di Gramedia eh, ngeliat cover buku ini dari kejauhan dan judulnya yang provokatif, membuat saya ringan saja mengambil dari tumpukan buku yang sebenarnya bagus-bagus juga di sebelahnya.

Bismillah, tak lupa saya ucapkan, semoga saya mendapat manfaat dari buku ini.
Dan benar, buku ini sangat luar biasa!
Baiklah mari kita lihat apa yang luar biasa dari Sila ke-6 : Kreatif Sampai Mati ini.


Yang pertama tentu saja, layout dan penyusunan kontennya. Sesuai dengan judulnya, Kreatif Sampai Mati maka buku ini harus mempertanggungjawabkan jargon kreatif yang diusung, kalo nggak pastilah buku ini akan menuai cibiran.

Sila Ke-6 : Kreatif Sampai Mati
Sejak cover, @maswaditya sudah bikin ulah. Apa karena nggak pede dengan cover buatan sendiri (tentu saja ini tidak mungkin sama sekali!) atau malah berbaik hati memberi kesempatan kepada pembaca yang mengaku-ngaku insan kreatif untuk memanfaatkan space kosong yang ada di lipatan bagian dalam cover, dengan kreasi cover sendiri. Keren!

Kedua, menyimak penuturan @maswaditya bab per bab - yang mana tak perlu dibaca secara berurutan, rasanya enuaaak tenan. Kok bisa? Ya, karena @maswaditya adalah pelaku sejarah yang kreatif memberikan motivasi di dalam buku ini. Praktisi yang pandai memotivasi, tentunya mempunyai nilai sendiri untuk lebih memprovokasi para sidang pembacanya yang budiman.

Sila Ke-6 : Kreatif Sampai Mati

Ketiga, setiap peralihan bab, ada ilustrasi yang super cool. Ibarat Gola Gong yang setia di setiap pangkal bab menyisipkan bait puisi di novel legendarisnya Balada si Roy, maka @maswaditya dengan sengaja dan sadar diri menyisipkan kutipan kata-kata motivasi untuk berkreatif lengkap dengan ilustrasi menawan dan tipografi yang sangat memikat visual. Saya sangat suka!

Sila Ke-6 : Kreatif Sampai Mati

Ke empat, buku ini banyak menceritakan pengalaman teman, pengalaman sendiri hingga kegalauannya tentang logo HUT RI yang tak mengalami perubahan sama sekali, yang justru membangkitkan semangat nasionalismenya untuk mendesain ulang logo HUT RI dan menyebarkannya secara gratis (common Creative). Bahasanya sangat lugas dan jujur ada apanya.


Oya, sebelum kelupaan. Sangat beruntung @maswaditya punya partner sehidup semati yang bersedia memberikan masukan membangun ( atau hampir 'membunuhnya' karena frustasi dikritik melulu) yakni istrinya @helloarie. Tentang hal ini bisa dibaca pada 'Butir 16 Fleksibel Saja' bagian 'Berdampingan dengan Feedback Expert'.

Bagaimana untuk desain cover buku ini saja, @maswaditya harus rela dikritik dengan lapang dada walaupun tentu saja dengan sedikit bocor emosi di sana sini. Termasuk kritikan @helloarie saat proof tulisan buku disodorkan, yang katanya terlalu formal, bapak-bapak dan buian kamu banget! Kalau bukan karena kritikan tulus dari sang istri tentulah buku ini tak jauh beda kadar kreatifnya dibanding buku lain.

Pokoknya semua isi buku menarik! Kamu harus beli Sila Ke-6 : Kreatif Sampai Mati, kalo nggak rugi banget. Jarang-jarang ada 'orang dalam' dari Kementrian Desain Republik Indonesia (KDRI) - bersedia turun gunung berbagi ilmu dan blusukan menceritakan pengalamannya untuk memotivasi manusia kreatif Indonesia.

Salam Kreatif Sampai Mati!

Sumber Foto : http://kdri.web.id/ksm

2012-04-27

Resensi Buku : Brokerpreneur (Yusuf Shembah)


Brokerpreneur - Orang bilang kesuksesan itu bisa ditularkan. Orang juga bilang, baik aura positif maupun aura negatif dua-duanya bisa ditularkan pula. Maka bila kemudian banyak buku-buku motivasi yang bermunculan di toko-toko buku, baik yang ditulis oleh penulis 'spesialis' best seller maupun penulis baru, seharusnya bisa kita apresiasi. Bahwa ada niat baik dari penerbitan buku-buku tersebut.

Begitu pula dengan buku yang berjudul Brokerpreneur : Kerja Kopral Gaji Jenderal karangan Yusuf 'Shembah'. Pendatang baru yang mengenalkan istilah baru pula : Broker-preneur. Bagaimana Cara Jadi Pengusaha Sukses, Meraih Penghasilan Tanpa Produk, Cara Cepat Bangkit dari Kebangkrutan.

Ada semangat baru yang coba ditularkan. Ya, semangat untuk menjadi broker. Atau dalam bahasa kita sehari-hari : makelar. Yakni orang yang menjadi perantara antara pihak penjual dan pembeli, di mana setelah transaksi terjadi maka broker akan mendapatkan fee. Baik dari pihak penjual atau pihak pembeli atau malah kedua belah pihak tergantung perjanjian awalnya.

Tapi, Yusuf Shembah menolak disebut sebagai makelar (biasa).
"Brokerpreneur berasal dari kata broker dan entrepreneur. Cikal bakalnya memang berawal dari profesi makelar. Mengapa saya mendefinisikannya berbeda? -- Brokerpreneur merupakan sebutan saya untuk profesi pengusaha yang tugas utamanya adalah membantu menjualkan produk orang lain. 
Namun yang membedakan seorang brokerpreneur dengan makelar adalah bagaimana menjual sesuatu dengan sistem terpola. Sistem di sini meliputi dari kontrol produksi, membangun branding, kemasan/performance, target market dan kontinyuitas passive income untuk kedua belah pihak." 
(Halaman 8 - 9)

Artinya, tak seperti makelar yang biasanya hanya bermodal mulut saja, seorang brokerpreneur melengkapi dirinya dengan pola marketing yang jelas, terarah dan terukur. Bahkan, Yusuf menganjurkan paling tidak kita sendiri punya kartu nama sendiri dan jangan sungkan untuk mengeluarkan sedikit modal berupa pamflet, brosur atau apalah. Sehingga, terkesan seorang brokenpreneur itu bekerja profesional dan ujung-ujungnya menaikkan posisi tawar dalam menentukan management fee.  

Apa yang dituliskan dalam buku ini, mengingatkan saya pada kredo yang disandarkan pada sosok Purdi Chandra 'Bapaknya entrepreneur muda Indonesia'. Yakni BODOL, BOTOL dan BOBOL. Yang kemudian banyak diterjemahkan oleh para motivator lain.

BODOL, artinya Berani Optimis dengan Dana Orang Lain
BOTOL, artinya Berani Optimis dengan Tangan Orang Lain
BOBOL, artinya Berani Optimis dengan Bisnis Orang Lain

Seorang motivator asli dari palembang, Andi Sapran (owner Entreprenur Padepokan) malah mengkreasikan menjadi Sukses Usaha DOL (dana orang lain),  Sukses Usaha TOL, (tenaga orang Lain), Sukses Usaha BOL (barang orang lain) dan Sukses Usaha NOL (nama orang lain)
Apapun itu, seorang Yusuf Shembah telah berhasil membuka peluang 'obyekan' baru dan semakin mengibarkan semangat berbisnis tanpa modal. Sehingga sebutan makelar pun bisa menjadi lebih bergengsi dengan adanya istilah Brokerpreneur ini.

Selamat membaca!

2012-03-25

Resensi Buku : Buku Pengetahuan Paling Jorok Sedunia


Siapa sangka, kombinasi coretan kekanakan ala Kim I Rang dan kepiawaian Yim Sook Young dalam meramu tulisan mampu memberikan keunikan tersendiri bagi buku bertajuk 'Buku Pengetahuan Paling Jorok Sedunia' ini.

Yim Sook Young, merupakan ahli mikroorganisme lulusan Universitas Goryo, Korea. Background pekerjaannya, Ia telah menulis beberapa buku ilmu pengetahuan untuk anak, sekaligus menjadi reporter di sebuah majalah ilmu pengetahuan anak di Korea. Sedangkan Kim I Rang, seniman lulusan Universitas Hong Ik yang suka berkhayal sambil mencorat-coret. Dan hasilnya, sudah banyak buku yang digambarnya hingga saat ini. (Lihat sumber)
Sumber :  cynthialiona.blogspot.com
Buku setebal 143 halaman full color ini, banyak memberikan informasi mengenai hewan-hewan jorok, aneka penyakit yang jorok, ilmuwan yang jorok, makanan yang jorok, hingga metode pengobatan lampau yang tak masuk akal dan sekali lagi.. jorok!

Jorok di sini, bukanlah asosiasi dari kata vulgar, tabu, pornografi dan semacamnya. Tapi melainkan hal yang kotor-kotor dalam pengertian harfiah.

Harus diakui, gambar-gambar ilustrasi yang disajikan benar-benar gambar jorok! Hal-hal yang menimbulkan sentimen ke-kotor-an dieksploitasi. Harapannya, pembaca dapat merasakan sensasi langsung saat berada dalam situasi tersebut : jijik, mual, sampai gatal-gatal.

Saya sendiri, 60% cukup terpengaruh dengan gambar-gambar ekspresifnya. Dalam artian, cukup merasakan sensasi ke-kotoran-nya, walau cuma sampai level berkata : "Hiii.. Jorok!", tidak sampai mual atau gatal-gatal.

Paling tidak informasi-informasi jorok tersebut berhasil menyadarkan saya. Di antaranya, tentang lalat yang ternyata merupakan vektor paling berbahaya -- diikuti oleh nyamuk, dari banyak kuman, bakteri sampai ke vírus. Cara hidupnya yang berpindah dari satu kotoran ke kotoran yang lain, ditambah anatomi tubuhnya yang berbulu-bulu, memudahkan aneka mikroorganisme menumpang gratis migrasi dari satu tempat kotor ke tempat lain yang dianggap layak bagi proses kehidupan kuman, bakteri dan vírus tadi.

Dari buku ini, saya baru tahu pula kalau ada yang namanya masakan Otak Monyet yang dimakan langsung dari tempurung Kepalanya, Telapak Kaki Beruang kukus – benar-benar telapak kaki yang diiris bukan jejak telapak kaki lho, Laba-laba Bakar bumbu, Kecoa Goreng, Kalajengking yang direndam sampai pingsan dalam Anggur Kaoliang lalu disantap, dan sebagainya (hueks!). Ternyata ada masakan yang biasa dimakan di suatu negeri namun asing di negeri kita. Begitu juga sebaliknya.

Begitu juga dengan informasi bahwa Sejarah Sepatu Hak Tinggi (high heels), bermula dari kebiasaan orang Eropa Abad Pertengahan yang sembarangan membuang kotoran, di pinggir jalan dan bahkan dibuang melalui jendela rumah ke jalanan. Nah, karena saat itu kaum perempuan mengenakan gaun panjang hingga menjuntai ke tanah, maka untuk menghindari kotoran tadi, baik kering maupun basah (hueks!), maka dibuatlah sepatu berhak tinggi tadi.

Pokoknya masih banyak lagi cerita-cerita jorok nan tragis dilengkapi dengan ilustrasi 'lebay' yang mengeksploitasi ke-kotoran-an dengan begitu sempurna dalam Buku Pengetahuan Paling Jorok Sedunia ini!

Buku ini memang jorok! Tapi, tetap-sangat-asyik dibaca. Hal positif pertama yang didapat setelah informasinya yang unik-unik adalah anak saya sekarang mudah sekali diajak makan, membersihkan daki dan menyikat gigi saat mandi. Cukup bilang, 'Awas kalo nggak bersih, banyak kuman yang nempel dan masuk ke perut kamu. Hiiii..'

Berhubung buku ini penuh dengan ilustrasi jorok, maka orangtua harus mendampingi putra-putrinya dalam membaca buku ini. Tujuannya agar tidak terjadi salah persepsi. Lagian, disampul belakang buku ini tertulis besar-besar : BO : Bimbingan Orangtua.

Selamat membaca buku yang asyik ini : Buku Pengetahuan Paling Jorok Sedunia.

2011-10-06

Resensi : "Curhat Tita"

Banyak alternatif buku untuk pelepas penat setelah sibuk beraktivitas. Dan di antara buku-buku yang ada, banyak pula buku alternatif yang berbeda dan unik.

Salah satunya, adalah Curhat Tita yang dibuat oleh Tita Larasati. Dari covernya, Tita mencoba mengusung genre baru, Graphic Diary. Ya, semacam  jurnal bergambar yang menceritakan hal-hal sepele dalam kehidupannya.

Hampir tak ada gambar sempurna yang bisa kita temui di dalam buku ini. Itupun kalau kita memberikan aturan bahwa gambar sempurna adalah yang memiliki satu tarikan garis dominan saja. Tidak terjadi pengulangan garis dari ilustrasi yang terbentuk dan distorsi yang tak perlu.

Karena sesungguhnya, gambar yang dimuat dalam buku setipis 88 halaman ini, adalah hasil seleksi dari sekian banyak coretan sketsa kasar yang dibuatnya saat waktu-waktu perlu dibuangnya. Ia mengaku, selama tinggal di Belanda, waktu yang ia miliki banyak terbuang dalam bentuk kerja : Menunggu! (Killing Time at Heinekenplein)

Menurut penuturannya di bagian selimut bukunya, saat awal-awal tinggal di Jerman (ia sempat magang di Jerman selama satu tahun) ia rutin mengabari keluarga di Indonesia dengan cara mengirimkan coretan sketsa di kertas berukuran A4 melalui mesin faks. Dan tak dinyana, keluarga di Indonesia kemudian mengcopy dan disebarkan ke saudara-saudara dan teman-teman lain. Ketika itulah ia tahu, bahwa curhat dan catatan hariannya juga telah menjadi milik orang lain.

Keseluruhan gambar yang terangkum dalam Curhat Tita ini menggunakan bahasa Inggris, entah apa alasannya. Mungkin ia lebih nyaman mengungkapkan ekspresi hatinya dengan bahasa inggris, karena kosakata bahasa inggris yang cenderung lebih singkat dan straight ke makna sesungguhnya. Salah satunya dalam fragmen : "Things to do when you're a tourist in Amsterdam', ia menganjurkan untuk tak sungkan melebur dengan aktivitas masyarakat yang ditemui. Kalau kebetulan melintas daerah esek-esek (red light district - Ia menyebutkan sedemikian) jangan lupa sambil menetang kaleng bir, atau singgahlah ke toko kopi dan pesanlah minuman atau yang agak unik, berjalan keliling sambil membawa tas segitiga poster museum. Maksudnya mungkin biar kita nggak terlihat aneh.  Dan nasihat paling penting, bawalah peta agar tidak tersesat!

Tita Larasati, merupakan jebolan Desain Produk Industri ITB. Pada awal 1998, ia pergi ke Belanda untuk melanjutkan studi. Setelah mendapatkan gelasr doktor dari Universitas Teknologi Delft, di awal 2007 ia kembali ke Indonesia. Selama tinggal di Belanda, kegemarannya pada komik membuatnya terlibat dalam beberapa acara, pameran dan workshop.

Buku Curhat Tita ini bukanlah buku baru, karena dirilis pada di tahun 2008. Dan karena buku yang saya dapatkan ini merupakan cetakan pertama, jadi saya kurang tahu dan pula kurang informasi, sudah berapa kali mengalami cetak ulang. Kalaupun memang hanya sekali dicetak, yah apa boleh buat berarti karya eksperimental ini kurang disenangi oleh pasar yang terlalu disesaki oleh manga dan kawan-kawan.

Sebagai sebuah karya eksperimen dan berada di luar jalur arus utama yang ada, resiko seperti ini harus diterima. Biasalah, resiko bisnis yang mempertimbangkan selera pasar. Paling tidak bila sebuah karya tak mampu memenuhi selera pasar, ia akan mudah mengambil ceruk sebagai medium ekspresi berkesenian.

Gambar imut dan maha sederhana yang ia buat sebagai tokoh utama dalam setiap ceritanya, merupakan representasi dirinya baik secara fisik maupun cerita yang dialaminya. Muka bulat tomat, dengan dua titik saja yang menandai mata dan hidung yang baru muncul bila ia sedang melihat ke samping serta baju kemeja kotak-kotak, berhasil mewujudkan citra dirinya sepenuhnya.

Saya sendiri mengenal seorang Tita Larasati dari milis komik alternatif. Dan menjadi istimewa di mata saya, karena ia membuat komik yang berbeda dengan mainstream yang ada. Dan itu aku suka! Satu-satunya kekurangan yang ada pada buku Curhat Tita ini adalah kualitas lem covernya yang buruk, sehingga baru baca dua kali saja, covernya sudah renggang mau lepas. Salam komik!


2011-10-05

Resensi "Hidup Itu Indah"

Edan! Maut! Nekat! Gila!

Entah idiom apalagi yang bisa saya sampirkan untuk Komik Opini bertajuk 'Hidup Itu Indah' terbitan Cendana Art Media. Terus terang saja, baru kali ini saya membaca buku yang mampu mengulek-ulek perasaan saya jadi gemas, geram, tersinggung atau malah latah ikut-ikutan untuk memberi label 'sesat' atau yang lebih halus sedikit 'mbeling' untuk pengarangnya!
Awalnya, saya tertarik untuk membaca buku ini karena dipromosikan oleh Mas Beng Rahadian, 'bapaknya' Abdul Selotif di wall Facebook. Beliau ini salah satu kartunis favorit saya. Saya kirain ini karya Mas Beng, tapi ternyata cuma sebatas editornya saja.

Trus, baru terakhir-terakhir ini saya berkesempatan memesannya via bukabuku.com. Penyebabnya, lewat Comical Magz edisi September, terpampang headline 'Aji Prasetyo : Komikus yang Dikafirkan'. Waduh! Saya jadi penasaran, apa yang menyebabkannya mendapat labelisasi seperti itu.

Diawali dengan komik singkat tentang Obituari untuk sahabatnya, buku ini diawali dengan Bab I yang bertajuk Hidup Itu Indah. Saya lahap komik dan narasi opininya dengan bergairah. Semuanya menceritakan tentang aspek sosial, kisah pertemanan, dan kisah-kisah terpinggirkan lainnya. Kenapa bergairah? Karena gambarnya bagus-bagus, tanpa ada rasa manga sama sekali. Berasa lokalnya. Tulisannya pun enak banget dibaca, khas tulisan pemerhati sosial.

Oya, buku ini diberi klasifikasi komik opini. Pas sekali, karena isinya, ya komik - ya opini. Disebut komik yang menyampaikan opini komikusnya. Atau benar-benar opini yang menjauhi bahasa gambar, berupa tulisan artikel. Tapi semuanya tetap menyenangkan untuk dibaca dengan pikiran terbuka.

Kenapa harus terbuka? Karena, begitu anda memasuki Bab II Komoditi itu Bernama Agama, mulailah emosi pembaca dimain-mainkan oleh ide-ide 'liar' sang pengarang, yang ternyata tidak berprofesi murni sebagai komikus.

Semuanya dapet giliran untuk dihujat - tak perlu lagi memakai bahasa halus 'disentil' misalnya. Karena, Aji sendiri tak sungkan membiarkan kalimat-kalimat khas garis keras, dipakai dalam dialog ataupun narasi komiknya. Sebut saja radikal, teroris, bidah dan kafir dan sejenisnya.

Orang yang mempunyai pemikiran semacam FPI atau aktivis muslim fanatik, pastilah akan tertampar keras dengannya. Bahkan, beberapa opini yang diangkatnya, menjungkirbalikkan kemapanan berpikir sekaligus menyerang secara frontal kaum agamawan (Diwakili dalam opini Setan Menggugat atau yang ini Down to Earth Yuk?), politisi (Adalah Tema yang Membosankan) atau bahkan orang media sendiri (Suatu Siang di Depan Televisi; de Reality Show)

Benar-benar harus bisa menerima perbedaan pendapat bila ingin membaca buku ini. Kalau tidak, saya sarankan jangan baca! Masih banyak buku lain yang bisa memberi manfaat untuk Anda.

Tapi ya dasar manusia, semakin dilarang semakin besar keingintahuannya. Ya sudah, silahkan tanggung sendiri akibatnya!

Saya tidak berada dalam posisi untuk mengatakan karya Aji Prasetyo ini salah atau benar. Walau, di bagian hati kecil saya ada beberapa fragmen dan cerita yang benar-benar menyinggung secara frontal. Tapi okelah, saya anggap itu bagian dari kebebasan berpendapat.

Bahwa buku Hidup Itu Indah terlalu nekat (bukan hanya berani) saya jawab IYA! Wilayah yang dibahasnya jelas menyerempet wilayah kritis yang bisa saja 'membahayakan' jiwanya. Oh tidak, saya tidak mengancam. Tapi pilihan Aji untuk mengangkat radikalisasi agama Islam tentu sudah pasti akan menyinggung kelompok dan kalangan tertentu.

Sebenarnya banyak tema yang dibahas oleh Aji secara indah, diluar tema-tema sensitif di atas. Ada tentang Potret pendidikan anak miskin, benturan budaya Barat-Arab-Lokal. Tentang Perang Jawa (Diponegoro) tentang sinetron dan lainnya. Namun tetap saja, kegeraman seorang Aji terhadap aliran Islam garis keras tertentu yang dengan mudahnya mengkafirkan, membidahkan, menghalalkan darah muslim yang tidak sepaham terasa kuat sekali meledak-ledak di sini. Semoga ini sebatas opini yang diharapkan menjadi perhatian semua pihak. Bukan sekedar muntahan kemarahan yang dijiwai oleh kebencian.

Sekali lagi, karya Aji Prasetyo ini anggap saja sebagai sebuah hasil kreativitas, tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Apalagi sampai main vonis. Bersikap elegan tentu lebih baik. Kalau tidak suka, jangan teruskan membacanya. Kalau merasa ada yang perlu diklarifikasi, silahkan langsung ke pengarang. Punya kemampuan menganalisis dan punya teman bisa menggambar komik? Oh, itu malah keren bila mampu mengcounternya dengan buku dan medium yang sama. Saya malah bersedia berkolaborasi (*Promosi gratisan he-he..) Dengan demikian makin banyak karya-karya cerdas yang bisa disandingkan secara sehat dan tak perlu maen bakar atau maen gontok-gontokan.

Menjelang akhir bukunya, Aji Prasetyo cukup cerdas untuk menetralisir emosi pembacanya dengan menghadirkan kisah 'Boneng and The Gang' di bagian akhir. Tidak dalam bentuk komik ataupun kartun, melainkan mirip sebuah cerpen. Salut untuk keberanian seorang Aji dalam beropini!!

Palembang, 05 Oktober 2011