Showing posts with label tausyah. Show all posts
Showing posts with label tausyah. Show all posts

2016-02-15

Kisah Teladan Hujan Sang Penjual Koran


Teladan Hujan Sang Penjual Koran
Ilustrasi (Foto: Tribun Lampung)
Kisah Hikmah - Pagi itu, sepulang dari mencari sarapan, aku lihat penjaja koran berteduh di emperan toko. Sejak subuh hujan turun cukup deras, yang membuatnya tidak bisa menjajakan korannya. Terbayang di benakku, tidak ada satu rupiah pun uang yang akan ia peroleh kalau hari terus hujan. Namun, kegalauan yang kurasakan ternyata tidak tampak sedikitpun di wajah Penjual Koran Sang Teladan itu.

Hujan masih terus turun. Kami membisu.

Si penjaja koran pun tetap duduk di emperan toko sambil tangannya memegang sesuatu. Tampaknya seperti sebuah buku. Kuperhatikan dari kejauhan, lembar demi lembar ia baca. Awalnya aku tidak tahu apa yang sedang ia baca. Namun saat kudekati, ternyata Al-Quran yang dibacanya.

Kudekati dan kusapa dia, "Assalamu 'alaikum Pak.."

“Waalaikum salam", ia menoleh sambil menorehkan senyum.

“Bagaimana jualan korannya Pak", tanyaku.

“Alhamdulillah, sudah satu yang terjual,” ucapnya dengan senyum yang belum lepas.

“Wah susah juga ya kalau hujan begini," ku coba membuka cerita.

“Insya Allah ada rizkinya.”

“Terus, kalau hujannya sampai sore?”

“Itu artinya rizki saya bukan jualan koran, tapi banyak berdoa.”

“Kenapa?”

“Karena kata Nabi, saat hujan adalah saat mustajab untuk berdoa. Punya kesempatan berdoa, juga rizki namanya,” ucapnya penuh arti. Tak kulihat segurat jumawa pun dari wajahnya. Sedikit orang yang mampu punya keyakinan seperti ini dalam kondisi sulit.

“Lantas, kalau tidak dapat uang?”, aku terus bertanya.

"Berarti, rizki saya bersabar".

Jleb! Masuk sekali ucapannya ini, menohok kalbu. Aku kejar lagi dengan pertanyaan, “Kalau tidak ada yang dimakan"?

“Berarti rizki saya berpuasa"

“Kenapa Mas bisa berpikir seperti itu?”

“Allah yang di atas, yang memberi  rizki. Apa saja rizki yang diberikan-Nya dan saya mensyukuri. Selama jualan koran, meskipun tidak laku, dan sekalipun harus puasa, tapi saya belum pernah kelaparan," katanya dengan mantap menutup pembicaraan.

Ternyata hujan pagi itu reda. Dan ia pun permisi bersiap-siap untuk berjualan. Ia pamit sambil memasukkan Al Quran ke dalam tas gendongnya.

Tinggallah, Aku termenung menatap punggungnya yang berlalu dari hadapan. Tanpa kusadari kacamataku mulai berembun. Tersaput oleh kucuran tangis. Aku terenyuh. Seakan muncul cermin besar di hadapan sendiri menyimak kalimat tausiah yang diucapkan seorang loper koran.

Ya Tuhan, begitu besarnya Imannya kepada Mu. Rasanya badan ini menciut kerdil. Ada penyesalan di dalam hati. Kenapa kalau hujan aku masih resah-gelisah. Khawatir tidak dapat uang. Khawatir rumahku terendam banjir. Khawatir tidak dapat hadir di undangan.

Khawatir akan penyakit yang berada dalam tubuh. Khawatir akan masa depan anak. Khawatir akan kalah gugatan di pengadilan. Khawatir tidak dapat klien. Khawatir tidak dapat bertemu kawan seprofesi. Dan selaksa kekhawatiran lainnya yang hadir di muka, seakan mencemoohku.

Kembali baru kusadari, rizki bukan semata uang. Bisa bersabar, berpuasa, berdoa, beribadah kesalehan sosial lain apapun itu, adalah juga rizki dari Allah SWT. Rizki hidayah dan bisa bersyukur adalah jauh lebih bermakna daripada pekerjaan dan uang.

Dari apapun juga. 
Copas dari Grup WA (*)

Tag: Teladan Hujan Sang Penjual Koran

2016-01-11

Qishas Ukasyah kepada Rasulullah Saw


Mencintai Rasulullah

Dalam suatu majelis, menjelang akhir hidup beliau, dalam keadaan badan kurang sehat Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan manusia."

Sahabat membisu, tak ada yang menjawab. Rasulullah Saw lantas mengulangi pertanyaannya. Hingga berdirilah salah seorang sahabat bernama Ukasyah, yang berdiri.

"Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa".
Rasulullah SAW berkata: "Sampaikanlah wahai Ukasyah".

Maka Ukasyah pun mulai bercerita, "Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, suatu ketika engkau menunggang kuda. Lalu engkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. Tetapi cambuk tersebut tidak kena pada belakang kuda, tapi justru terkena pada dadaku, karena ketika itu aku berdiri di belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah".

Mendengar itu, Rasulullah SAW berkata: "Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama."

Dengan suara yang agak tinggi, Ukasyah berkata: "Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah."

Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak marah pd Ukasyah. "Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah. Bukankah Baginda sedang sakit..!?"

Ukasyah tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah SAW lalu meminta Bilal mengambil cambuk di rumah anaknya Fatimah. Bilal pun segera berangkat dan meminta cambuk itu dari Fatimah, kemudian Fatimah bertanya: "Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?"
Bilal menjawab dengan nada sedih: "Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untuk memukul Rasulullah"

Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata, "Kenapa Ukasyah hendak pukul ayahku? Ia sedang sakit, kalau mau mukul, pukullah aku anaknya".

Bilal menjawab: "Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua". Bilal kemudian membawa cambuk tersebut ke Masjid lalu diberikan kepada Ukasyah.

Setelah mengambil cambuk, Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah. Tiba-tiba Abu bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ya Ukasyah! Kalau kamu hendak memukul, pukullah aku. Aku orang yang pertama beriman dengan apa yang Rasulullah SAW sampaikan. Akulah sahabatnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku".

Rasulullah SAW: "Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".

Kemudian Umar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata, "Ukasyah! Kalau engkau mau mukul, pukullah aku. Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya, itu dulu. Sekarang tidak boleh ada seorangpun yang boleh menyakiti Rasulullah Muhammad. Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah, maka langkahi dulu mayatku!"

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW, "Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".

Seterusnya berturut-turut berdirilah Ali bin Abi Thalib dan dua cucu kesayangan Rasulullah Saw, Hasan dan Husain mencoba membujuk Ukasyah menawarkan pengganti diri Rasulullah Saw. Namun, diingatkan bahwa urusan tersebut antara Ia dan Ukasyah.

Setiba di hadapan Rasulullah, Uksayah berkata, "Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah"

Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah. Tanpa berlama-lama dalam keadaan lemah, Rasulullah membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yang sangat indah, sedang beberapa batu terikat di perut Rasulullah pertanda Rasulullah sedang menahan lapar.

Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW, cambuk di tangannya ia buang jauh-jauh, kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW seerat-eratnya. Sambil menangis sejadi-jadinya, Ukasyah berkata, "Ya Rasulullah, ampuni aku, maafkan aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu.

Seumur hidupku aku bercita-cita dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka. Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah."

Rasulullah SAW dengan senyum berkata, "Wahai sahabat-sahabatku semua, kalau kalian ingin melihat ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah!"

Semua sahabat meneteskan air mata. Kemudian para sahabat bergantian memeluk Rasulullah SAW dan mencium Ukasyah. Allahumma shalli ala Muhammad.. (*)

2015-11-29

Mastaho’tum

Apa itu Mastatho'tum

Banyak jalan kita mendapatkan kebaikan. Begitu juga saat saya menemukan istilah Mastatho'tum, justru dari seorang Mas Dian Tegal. Internet Marketer yang berpenghasilan ratusan juta tiap bulannya. Dan berikut hakikat istilah apa itu Mastatho'tum.

Adalah Syaikh DR Abdullah Al Azzam, salah seorang ulama pejuang yang sangat disegani. Ia yang mampu mengobarkan semangat juang bagi para mujahidin Afghanistan semasa perjuangan melawan Uni Sovyet.

Suatu hari ia ditanya oleh seorang muridnya, “Ya Syaikh, apakah yang dimaksud dengan mastatho’tum?”

Sang murid menanyakan kata yang terdapat di dalam Al Quran, tepatnya di di Surat At Taghabun ayat 16, yang berbunyi fattaqullaha mastatho’tum. “Bertakwalah kepada Allah sebatas kemampuanmu”.

Apakah yang dimaksud dengan “Sebatas kemampuan” tersebut?

Sang Syaikh lalu mengumpulkan dan membawa murid-muridnya ke lapangan. Ia kemudian meminta semua muridnya untuk berlari mengelilingi lapangan semampu mereka. Tidak ditentukan berapa putaran, hanya diminta berlari saja seusai kemampuan fisik murid-muridnya.

Apa itu Mastatho'tum


Titik dan waktu keberangkatan sama, akan tetapi waktu akhir dan jumlah putaran setiap murid berbeda.

Satu putaran, para murid masih mampu menghela nafas lari. Memasuki putaran kedua, sebagian mulai terlihat kelelahan. Nafas mulai memburu tak karuan. Di putaran ketiga, lebih dari separuh para muridnya mengancungkan tangan tanda menyerah lalu menyingkir ke pinggiran lapangan.

Sebagian kecil masih terus berlari dan di putaran kelima, sudah tidak ada lagi yang sanggup berlari. Menepi kelelahan. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga, semampu mereka.

Setelah semua muridnya menyerah, duduk mengaso di pinggir lapangan. Sang Syaikh tanpa banyak bicara, mulai berlari mengelilingi lapangan. Para murid saling berpandang keheranan. Semua murid kaget dan tidak tega melihat gurunya yang sudah tua itu kepayahan.

Satu putaran, sang syaikh masih berseri-seri. Dua putaran mulai pucat pasi. Tiga putaran mulai kehilangan kendali. Menuju putaran yang ke-4 sang syaikh makin tampak kelelahan, raut mukanya memerah, keringat bertetesan, nafas tersengal-sengal tidak beraturan. Sesekali ia berjalan perlahan, namun beliau tetap berusaha.

Ia terus berlari sekuat tenaga, dari cepat, melambat, melambat lagi, hingga kemudian beliau pun terhuyung tanpa penyangga. Energinya terkuras habis tak tersisa. Beliau jatuh pingsan, tak sadarkan diri.
Para murid lantas berlarian menghambur ke arah sang syaikh yang terkapar di tanah. Mereka lantas ramai-ramai menggotongnya ke tempat yang lebih teduh dan berusaha memberikan pertolongan seadanya.

Tak lama, setelah beliau siuman dan terbangun, ia disodori minum dan seteguk air segar membasahi kerongkongannya. Baru kemudian, murid lainnya bertanya, “Syaikh, apa yang hendak engkau ajarkan kepada kami?”

Setelah mengatur nafas, ia lalu berkata “Muridku, inilah yang dinamakan titik mastatho’tum. Titik di mana saat kita berusaha semaksimal tenaga sampai Allah sendiri yang menghentikan perjuangan kita,” jawab Sang Syaikh dengan mantap.

* * *

Inilah bentuk ikhtiar tertinggi yang dilakukan seorang mahluk untuk memenuhi panggilan Tuhannya. Seseorang melakukan suatu usaha dengan sekuat tenaga dengan kemampuan yang ia miliki sampai titik terendah.

Hakikatnya mastatho'tum ialah memotivasi diri seseorang untuk berusaha atau berikhtiar dengan segala kesanggupannya hingga Allah mengakhiri usaha mereka sesuai dengan kesanggupan yang seseorang miliki. Dengan tujuan agar seseorang tidak menyerah di tengah jalan atau malas dalam berusaha apalagi sampai berputus asa dari Rahmat Allah Ta'alla.

Jangan mudah mengambil kesimpulan bahwa di sanalah batas kemampuan kita. Padahal itu hanyalah sebentuk penutupan (execuse) terhadap kelemahan diri. Berjuang sampai titik akhir, itulah yang dikehendaki dari setiap ikhtiar kita.

Wallahualam. (*)

2015-10-19

Indahnya Makna Salam


“Kalian tak akan masuk surga sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah aku tunjukkan satu amalan bila dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian.” [HR Muslim dari Abi Hurairah]


Makna Salam
Dikisahkan dalam sebuah riwayat, bahwasanya sahabat Mulia Abdullah bin Umar RA pergi ke pasar dan mengucapkan salam pada setiap orang yang dijumpainya. Lantas seseorang bertanya padanya. “Apa yang engkau lakukan di pasar wahai Ibnu Umar? Engkau tidak berniaga, tidak juga membeli sesuatu dan tidak menawarkan dagangan, engkau juga tidak bergabung dalam majelis orang-orang di pasar.”

Ibnu Umar menjawab, ”Sesungguhnya aku pergi ke sana hanya untuk menyebarkan salam pada orang yang aku jumpai.”

Indah sekali makna salam, yang tersirat dalam kisah tersebut. Bahwasanya, di zaman Rasul sendiri ucapan salam : Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh itu sangat luhur dan bernilai tinggi.

Dalam kisah lain, sebagaimana penulis dapat dari tausyah Ustadz Salim A Fillah - juga disebutkan Rasulullah Saw bersama sahabat muhajirin bermaksud berkunjung ke rumah salah seorang Anshar. Sahabat Anshar tersebut memang telah mengundang Rasulullah Saw dan para sahabat untuk menjamu makan siang.

Setibanya di depan pintu rumah, Rasulullah Saw segera mengucapkan salam. Namun, tidak ada yang menjawab. Rasulullah kemudian mengulangi salamnya hingga tiga kali. Tetap tidak ada jawaban. Lantas Rasulullah Saw pun membalikkan badan bersiap hendak meninggalkan rumah tersebut. Karena begitulah adabnya, jika setelah mengucap salam tiga kali tidak dijawab, maka kita dianjurkan untuk segera meninggalkan rumah tersebut.

Barulah kemudian, terdengar suara dari dalam. “Tunggu wahai Rasulullah, jangan pergi dulu. Mari masuk. Maafkan kami, bukannya tidak menjawab salam. Kami sengaja merendahkan suara saat menjawab salam. Agar kami sekeluarga mendapatkan keberkahan dengan salam yang Engkau ucapkan. Dan kami ingin mendapatkan keberkahan itu sebanyak-banyaknya (tiga kali)".

"Masuklah, sudah kami sembelih dan masak seekor kambing”, ujar ahli rumah dengan tersenyum sumringah.

Rasul dan sahabat pun masuk dan menikmati hidangan yang disajikan. Beliau sampai mengucapkan, “Kita harus mempertanggungjawabkan, makanan yang kita makan hari ini”. Saking nikmatnya hidangan yang disajikan di saat siang itu.

Begitulah. Para sahabat sangat menyadari tentang keutamaan menebarkan salam dan menjawabnya. Karena di dalamnya terkandung doa keselamatan dunia dan akhirat. Bagaimana dengan kita?

Makna Assalamualaikum
Hukum Salam  
Ibnu Abdul Barr serta yang lainnya mengutip ijma’ kaum muslimin bahwa hukum mengucapkan salam adalah sunah dan menjawabnya adalah wajib.

Imam Qurthubi berkata, “Para ulama sepakat mengucapkan salam adalah sunah yang sangat dianjurkan, sedangkan hukum menjawabnya adalah wajib, sesuai dengan firman Allah SWT, “Apabila engkau dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah SWT memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An Nisa : 86)

Menurut Imam Nawawi, jika salam diucapkan oleh seorang kepada banyak orang maka hukumnya fardu kifayah (seperti Hukum menyolatkan jenazah), artinya jika hanya ada satu orang dalam jumlah banyak tersebut, yang menjawab salam dari seorang tadi maka gugurah kewajiban tersebut bagi yang lainnya. Tapi jika tak ada yang menjawab seorang pun maka orang-orang yang sedang berkumpul tersebut berdosa semua. Dan bila semuanya menjawab salam tersebut naka itulah puncak kesempurnaan dan keutamaan.

Hikmah dari mengucapkan dan menjawab salam sesama Muslim akan menumbuhkan dan memperkuat rasa cinta di antara muslim. Di antara etika salam yang dapat mewariskan rasa cinta dan menambah kelembutan kasih sayang adalah berjabat tangan ketika berjumpa disertai dengan senyuman, keramahan dan dipenuhi dengan wajah yang berseri-seri.

Rasulullah Saw bersabda, “Siapa saja dari dua orang muslim yang bertemu lantas saling berjabat tangan, maka Allah SWT akan mengampuni dosa keduanya sebelum mereka berpiah.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad.)

Tentu dalam hal ini berjabat tangan yang sesuai dengan syariat Islam, yaitu laki-laki dengan laki-laki, wanita dengan wanita, atau laki-laki dengan wanita (muhrimnya). Salam adalah simbol kasih sayang dan keselamatan. Salam juga merupakan risalah seorang muslim dalam mengekspresikan rasa cintanya kepada orang yang diberi salam.

Rasulullah Saw bersabda, “Demi dzat yang menguasai diriku, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan belum sempurna iman kalian hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian akan saling mencintai? Sebarkan salam diantara kalian.” HR. Muslim

Yang dimaksud menyebarkan salam adalah menebarkan dan mengucapkannya kepada seluruh muslim, baik itu anak kecil, ataupun orang tua, jauh atau dekat, orang yang dikenal ataupun tidak.
Ucapan ”Assalamu’alaikum”, merupakan anjuran agama, dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan umat beragama, dengan salam dapat menjalin persaudaraan dan kasih sayang, karena orang yang mengucapkan salam berarti mereka saling mendo’akan agar mereka mendapat keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.

Meski nampak sederhana, ucapan salam sudah diatur oleh agama kita (Islam). Ucapan Assalamu alaikum السلام عليكم dalam Bahasa Arab, digunakan oleh kaum Muslim. Salam ini adalah Sunnah Nabi Muhammad Saw, intinya untuk merekatkan ukhuwah Islamiyah umat Muslim di seluruh dunia.
Sebelum Islam datang, orang Arab terbiasa menggunakan ungkapan-ungkapan salam yang lain, seperti Hayakallah, artinya semoga Allah menjagamu tetap hidup. Namun ketika Islam datang, ucapan itu diganti menjadi Assalamu ‘alaikum, artinya semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa.

Abu Umammah Ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: ”Orang yang lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang lebih dahulu memberi salam.” (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi )

Abdullah bin Mas’ud Ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Salam adalah salah satu Asma Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan dihadapan Allah. Jika jama’ah suatu majlis tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik dari merekalah (yakni para malaikat) yang menjawab ucapan salam.” (Musnad Al Bazar, Al Mu’jam Al Kabir oleh At Tabrani)

Abu Hurairah Ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “ Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan Salam.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman didalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 86, “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.”

Bedanya agama kita dengan agama lain, setiap Muslim ketika mengucapkan salam kepada saudaranya, dia akan diganjar dengan kebaikan (pahala).


Kaidah Mengucapkan Salam
Dalam kaidah singkat menyingkat pun sudah diatur oleh Allah dan diajarkan kepada Rasulullah. Dalam suatu pertemuan bersama Rasulullah Saw, seorang sahabat datang dan melewati beliau sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum”. Rasulullah Saw lalu bersabda, “Orang ini mendapat 10 pahala kebaikan,” ujar beliau. Tak lama kemudian datang lagi sahabat lain. Ia pun mengucapkan, “Assalamu‘alaikum Warahmatullah.” Kata Rasulullah Saw, “Orang ini mendapat 20 pahala kebaikan.” Kemudian lewat lagi seorang sahabat lain sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullah wa barakatuh.” Rasulullah pun bersabda, “Ia mendapat 30 pahala kebaikan.” [HR. Ibnu Hibban dari Abi Hurairah].

Beberapa kaidah salam yang baik di antaranya; bagi orang yang berkenderaan mengucapkan salam kepada yang berjalan kaki dan pejalan kaki memberi salam kepada yang duduk. Orang yang lebih muda memberi salam kepada yang lebih tua, mereka yang kuat memberi salam kepada yang lemah. Bagi yang kaya memberi salam kepada yang miskin dan seterusnya.

Jika seperti itu, secara sendirinya akan menghilangkan egoisme dalam diri umat sekaligus menjalin interaksi sosial yang baik.

Salam tidak hanya untuk kaum pria saja, Asma’ binti Yazid RA pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah ketika lewat di depan masjid dan sekelompok perempuan sedang duduk-duduk di sana, maka Rasulullah melambaikan tangannya sambil memberi salam. Selanjutnya, dianjurkan juga untuk mengucapkan salam kepada anak-anak, agar membiasakan mereka dengan adab-adab memberi salam. Anas RA Menceritakan bahwa ketika ia melewati anak-anak kecil, kemudian ia mengucapkan salam kepada anak-anak tersebut.

Kaidah salam yang lain juga telah mengatur rendah dan tingginya suara ketika mengucapkan salam. Terutama ketika malam hari, mengucapkan salam harus dengan suara rendah dan lembut selama dapat didengar oleh orang yang masih terjaga.

Dengan kata lain, apabila mengucapkan salam pada malam hari selama bukan urusan yang amat penting dan mendesak, tidak boleh mengganggu orang yang sedang tidur apalagi membangunkannya. Wallahualam. 

2015-06-02

Engkau berhak mendapatkan nyawaku

Suami Isteri

Kisah ini, tentang kehidupan suami istri. Suatu ketika, di antaranya terjadi perselisihan. Saking hebatnya, terjadilah pertengkaran dan adu mulut. Suaminya yang emosi lantas mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan menampar pipi sang istri. Sang istri terhuyung memegang pipinya yang memerah. Tangisnya tumpah. Istri, makhluk yang lembut, yang terlarang untuk disakiti.

Dalam keadaan begitu, tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu depan. Sedangkan, sang istri masih terisak tangisannya.

Sang suami segera menenangkan diri dan kemudian berlalu ke arah depan. Melalui lubang pintu, ia pun melihat siapa tamu yang datang.

Dadanya berdegup. Ternyata yang datang adalah mertua dan keluarga istrinya. Ia mendadak bingung. Tapi ia tak ingin mertuanya menunggu lama dan curiga dengan aap yang terjadi. Ia segera membuka pintu, dan sebisa mungkin merubah rona wajah. Sedangkan sang istri segera berlari ke kamar mandi dan mencuci muka serta memperbaiki penampilan dirinya. Agar dia tidak terlihat seperti sedang menangis.

Begitu masuk ke dalam rumah, sang ibu masih bisa menangkap wajah putrinya yang sembab. Maka dan bertanyalah sang ibu, “Apa yang terjadi denganmu. Apa engkau habis menangis duhai putriku? Kenapa engkau menangis?”.

Suami Isteri

Dengan spontan, sang putri menjawab, "Iya ibu, aku menangis. Aku rindu dengan mu Ibu. Aku sempat berdoa dan ternyata Allah langsung mengabulkannya dan mengirimkan juga ibu datang ke sini, hingga tersampaikanlah rinduku ini.” sembari memeluk ibunya dlm keadaan masih menangis..

Sang suami tercengang. tidak menduga istrinya akan berucap seperti itu. Dalam bayangannya, sang istri pasti akan mengadukan perbuatannya kepada sang Mertua. Jika itu yang terjadi, maka habislah rumah tangganya. Namun, ternyata istrinya justru bersikap sebaliknya.

Ia pun pamit keluar rumah menuju ke pasar. Dibelikannya makanan untuk tamu yang datang, dan dia pun mampir ke toko perhiasan dan membelikan kalung emas senilai 1000 real (sekitar Rp33 juta). Ia lalu bergegas pulang.

Sesampainya di rumah, sang suami kemudian menjamu dan melayani keluarga mertuanya dengan sebaik-baiknya. Lalu, saat sore menjelang, keluarga mertuanya itu pun pulang.

Kemudian ia menuntun istrinya ke kamar lalu diberikan perhiasan tersebut.

Sang istri terhenyak berkata, "Subhanallah, ini kan terlalu mahal untukku wahai suamiku,". Sang suami mnjawab, "Engkau telah menyelamatkan rumah tanggaku, engkau sungguh-sungguh wanita shalihah, engkau wahai istriku, bahkan engkaupun berhak mendapatkan nyawaku”.

Hikmah
Dari kisah di atas, setidaknya kita bisa menarik pesan moral :

1.Diperintahkan untuk merahasiakan permasalahan rumah tangga kepada orang tua, karena itu akan menjadi beban orang tua, setelah seumur hidup kita sudah membebani orangtua. Sejak lahir hingga kita akil baligh.
2.Dianjurkan, hargailah setiap kebaikan yang sudah dilakukan oleh pasangan kita.
3.Dianjurkan, sesekali memberikan hadiah kepada sang istri, sebagai tanda terima kasih kita atas perjuangannya, jerih payahnya mengurus keluarganya. Jika bisa memberikan yang terbaik, jika tidak yang sesuai kemampuan dan bermanfaat untuk sang Istri.

Wallahu a'lam. (fb)

2015-06-01

Persiapan Ramadhan

“Seandainya hamba-hamba mengetahui apa yang ada dalam apa yang ada pada bulan Ramadhan, niscaya umatku berangan-angan agar Ramadhan terus berlangsung sepanjang tahun.”
(Al Hadist)

Persiapan Ramadhan yang Baik


Syaban tahun ini sudah mendekati akhir. Dan Ramadhan semakin mendekat, tinggal hitungan hari saja. Apa yang telah kita persiapkan dan bagaimana kita mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadan?

Dalam menyambut Bulan Ramadhan ini, uamt muslim terbagi dua. Pertama, ikut bergembira dan memberi arti khusus dengan masukknya Ramadhan, namun dengan cara dan semangat yang berbeda.
Kelompok ini, menjadikan datangnya bulan Ramadhan sebagai musim untuk makan, minum, menghidangkan kue-kue, begadang atau menonton televisi. Mereka mempersiapkan makanan jauh-jauh hari sebelum Ramadan, karena khawatir kehabisan atau harganya naik, maka mereka memborong makanan dan minuman.

Kemudian mereka mencari-cari informasi di chanel televisi untuk mengetahui acara apa yang menarik diikuti dan yang layak ditinggalkan. Mereka abai dengan keutamaan ibadah dan sunnah-sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan di dalam bulan Puasa.

Kelompok kedua, sebagian yang lain sadar akan hakekat puasa di bulan Ramadan, maka mereka mempersiapkan dirinya sejak bulan Sya’ban. Bahkan ada yang telah mempersiapkan sebelum itu.
Tulisan berikut mengajak kita untuk mempersiapkan diri dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Agar Ramadhan kali ini, lebih berisi dan lebih bermakna serta lebih berbekas dalam praktek kehidupan selanjutnya.

Di antara persiapan yang terpuji untuk menyambut bulan Ramadan adalah :

Persiapan Ramadhan yang Baik
1. Bertaubat dengan jujur.
Taubat pada dasarnya wajib setiap saat. Akan tetapi karena akan (menyambut) kedatangan bulan yang agung dan barokah ini, maka lebih tepat lagi jika seseorang segera  bertaubat dari dosa-dosanya yang diperbuat kepada Allah serta dosa-dosa karena hak-hak orang lain yang terzalimi.

Agar ketika memasuki bulan yang barokah ini, dia disibukkan melakukan ketaatan dan ibadah dengan dada lapang dan hati tenang.

Allah ta’ala berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS An-Nur: 31).

Baginda Rasulullah Saw bersabda : “Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat (kepada Allah) dalam sehari seratus kali” (HR Muslim)

2. Berdoa.
Diriwayatkan dari sebagian (ulama) salaf, bahwa mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadan, kemudian mereka berdoa lagi lima bulan setelahnya semoga amalnya diterima.

Seorang muslim hendaknya berdoa kepada Tuhannya agar mendapatkan bulan Ramadan dalam keadaan baik, dari sisi agama maupun fisik, juga hendaknya dia berdoa semoga dibantu dalam mentaati-Nya serta berdoa semoga amalnya diterima.

Persiapan Ramadhan yang Baik

3. Gembira dengan semakin dekatnya kedatangan bulan yang agung ini.
Sesungguhnya mendapatkan bulan Ramadan termasuk nikmat Allah yang agung bagi seorang hamba yang muslim. Karena bulan Ramadan termasuk musim kebaikan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Ia adalah bulan Al Quran serta bulan terjadinya peperangan-peperangan yang sangat menentukan dalam (sejarah) agama kita.

Allah berfirman: “Katakanlah, 'Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS Yunus : 58)

4. Menyelesaikan tanggungan (qadha) kewajiban puasa.
Dari Abu Salamah, dia berkata, saya mendengar ‘Aisyah radhiallahu ’anha berkata : “Aku memiliki kewajiban berpuasa dari bulan Ramadan lalu, dan aku baru dapat mengqadanya pada bulan Sya’ban.” (HR Bukhari)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dari keseriusan beliau (mengqadha) pada bulan Sya’ban disimpulkan bahwa hal itu menunjukkan tidak diperkenankan mengakhirkan qadha sampai memasuki bulan Ramadan berikutnya.” (Fathul Bari, 4/191)

5. Membekali diri dengan ilmu agar dapat mengenal hukum-hukum puasa dan mengetahui keutamaan Ramadan.
6. Segera menyelesaikan pekerjaan yang boleh jadi (jika tidak segera diselesaikan) dapat mengganggu kesibukan ibadah seorang muslim di bulan Ramadan.
7. Berkumpul bersama anggota keluarga, dengan istri dan anak-anak untuk menjelaskan hukum-hukum puasa dan mendorong  si kecil untuk berpuasa
8. Mempersiapkan sejumlah buku yang layak untuk dibaca di rumah atau menghadiahkannya kepada imam masjid agar di baca (di depan) jamaahnya pada bulan Ramadan.

9. Berpuasa pada bulan Sya’ban sebagai persiapan untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Dari ‘Aisyah ra : “Rasulullah Saw berpuasa sampai kami mengatakan (mengira) dia tidak pernah berbuka. Dan (lain waktu) beliau tidak berpuasa sampai kami mengatakan (mengira) dia pernah berpuasa. Dan aku tidak melihat Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh selain di bulan Ramadan dan aku tidak melihat Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam memperbanyak berpuasa selain di bulan Sya’ban”. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Usamah bin Zaid radhiallahu ’anhu, dia berkata : “Saya bertanya, Wahai Rasulullah saya tidak pernah melihat anda berpuasa di antara bulan-bulan yang ada seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?” (Beliau) bersabda: “Itu adalah bulan yang sering diabaikan orang, antara Rajab dan Ramadan. Yaitu bulan yang di dalamnya diangkat amal (seorang hamba) kepada Tuhan seluruh alam. Dan aku senang saat amalanku diangkat, aku dalam kondisi berpuasa.” (HR Nasa’i)

Persiapan Ramadhan yang Baik

Dalam hadits di atas dijelaskan hikmah berpuasa pada bulan Sya’ban, yaitu bulan diangkatnya amalan. Sebagian ulama menyebutkan hikmah lainnya, yaitu bahwa puasa (pada bulan Sya’ban) kedudukannya seperti sunnah qabliyah dalam shalat fardhu. Agar jiwa merasa siap dan bersemangat dalam menunaikan kewajiban. Demikianlah yang dikatakan terhadap puasa di bulan Sya’ban sebelum Ramadan.

10.  Membaca Al Quran.
Salamah bin Kuhail berkata: Dahulu dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan bacaan (Al Quran). Adalah Amr bin Qais apabila memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup tokonya, lalu berkonsetrasi membaca Al Quran.

Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman dan bulan Ramadan adalah bulan memanen tanaman."

Dia juga berkata: "Perumpamaan bulan Rajab bagaikan angin, sedangkan perumpamaan Sya’ban bagaikan mendung dan perumpamaan Ramadan bagaikan hujan. Barangsiapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiram pada bulan Sya’ban, bagaimana dia akan memanen di bulan Ramadan."

Mari lakukan Persiapan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Wallahualam. (*)

2015-05-04

Kaya Keluar atau kaya ke Dalam


Syahdan, terjadilah dialog antara seorang murid dengan gurunya. Sudah lama ia belajar dari sang guru. Ia sering memperhatikan, gurunya hidup sederhana. Tidak nampak kekayaannya. Namun tidak pula seperti orang miskin yang serba kekurangan.

Untuk kehidupan sehari-hari, sang guru ahli hikmah nan bijak tersebut, mengenakan pakaian sederhana. Tidak kumal dan tidak pula terlihat kumuh. Namun, saat datang orang memerlukan bantuan, ada saja yang dapat diberikan oleh sang guru. Ia sering terpekur memikirkannya, bagaimana mungkin kehidupannya yang sederhana, namun masih bisa membantu orang lain.

Ia menduga, pasti gurunya ini adalah orang kaya. Tak mungkin ia bisa membantu orang, jika ia sendiri tidak berkecukupan. Lalu, dalam sebuah kesempatan berdua, ia pun menanyakannya kepada sang guru :

"Guru bagaimana cara menjadi orang yang kaya raya?", tanyanya.

Sang guru tersenyum dengan indahnya. "Anakku, ada dua cara menjadi orang yang kaya raya. Ingatlah baik-baik keduanya. Pertama, Kamu bekerja keras di setiap waktu yang kamu punya. Lalu mengumpulkan semua rezeki yang diperoleh ke dalam rumahmu dalam bentuk harta benda, asset dan berbagai kepemilikan lainnya atas namamu.

Dengan begini, kamu akan kaya raya. Punya banyak macam harta yang bisa menjadi jaminan mu di masa yang akan datang. Kamu bisa pergi ke tempat yang kamu sukai. Dan kamu juga bisa memilih akan bertempat tinggal di mana yang engkau senangi. Namun satu hal, kamu tidak akan tahu nasib hartamu itu ke depan. Akankah kekal, atau malah lenyap ditelan musibah”, lanjut sang guru.

“Lalu, cara yang kedua,  sama saja. Yakni dengan bekerja keras. Menyingsingkan lengan baju untuk bekerja. Namun, kamu bisa membagikan sebagian besar dari rezeki yang kamu peroleh untuk di luar rumahmu. Sedangkan yang di dalam rumah hanya yang secukupnya seperlunya saja.

Dan aku lebih menyarankan cara kedua untuk orang sepertimu", jawab Guru.

Murid tersebut lantas mengernyitkan keningnya,"Mengapa demikian Guru? Bukankah harta benda kekayaan kita adalah hak kepemilikan kita?"

"Betul. Tetapi bila semua engkau kumpulkan ke dalam rumahmu, hatimu akan sering terikat kepadanya. Engkau akan cenderung kepadanya karena engkau merasa telah menyayanginya demi apa yang telah engkau lakukan untuk mengumpulkannya.

Namun, bila terjadi kehilangan, - seperti dicuri orang jahat, habis oleh musibah kebakaran, atau terpaksa harus pergi meninggalkannya, maka engkau akan merasa sakit sekali. Berasa menjadi mendadak jatuh miskin dan merasa kehilangan segala-galanya," terang sang Guru.

"Sedang cara yang kedua?"

"Cara yang kedua jika engkau lakukan, akan membuat hatimu tidak terikat kepada harta-harta itu. Karena sebagian besar ada di luar rumahmu. Engkau menyebarkannya kepada para tetangga, orang-orang di luaran sana dan mengatakan bahwa ini pinjaman dari Allah Swt bagi hidup mereka.

Engkau merasa seperti keran air yang hanya dititipi rezeki dan menyalurkan untuk mereka dan engkau tidak akan pernah kehilangannya karena Allah yang menjadi saksi dan penjaganya sedang saat engkau harus meninggalkannya itu semua menjadi amalan sholeh yang tidak putus-putusnya bagimu," urai sang guru.

Murid itu tertunduk dalam renungan. Hari itu ia belajar tentang makna kaya. Kaya yang bisa sejalan antara kaya materi dengan kaya hati. Kaya yang membebaskan, bukan kaya yang mengikatkan hati kepada harta-harta yang dimiliki. Sehingga muncul berat saat harus berbagi. (*)



2015-04-28

Penghitungan Zakat Untuk Penghasilan Tidak Tetap


Zakat profesi menyasar para muzakki yang telah memiliki penghasilan di atas nishab. Biasanya haul (waktu) untuk membayar zakat adalah saat mereka menerima gaji. Dan biasanya pula mereka akan menerima penghasilan dengan jumlah yang sama setiap bulannya.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang berprofesi tertentu, yang penghasilannya tidaklah tetap setiap bulannya? Seperti tenaga paruh waktu (freelance), konsultan yang penghasilannya tergantung dengan jumlah klien yang ditangani setiap bulannya? Atau profesi ‘serabutan’ yang mengerjakan banyak pekerjaan, namun penghasilan tidak diterima dalam waktu yang bersamaan?

Berikut penjelasannya :

Zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi (berupa gaji, upah atau honor) jika sudah mencapai nilai tertentu (nishab). Profesi yang dimaksud mencakup profesi pegawai negeri sipil (PNS) atau swasta, dan lain-lain.

Harta yang kita peroleh dari apa-apa yang kita usahakan apabila telah mencapai nisab atau haul maka hal itu wajib dizakati, termasuk gaji. Perintah zakat atas profesi/ gaji adalah perintah adanya keumuman lafaz Surat Al Baqarah ayat 267 :  "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik".

Ulama menjelaskan zakat wajib dipungut dari gaji ada dua pendapat ulama dalam hal ini.
Pertama; zakat profesi/gaji dianalogikakan dengan zakat pertanian, dikeluarkan zakatnya saat menuai panen/mendapatkan hasil/gaji/upah sebulan sekali, dengan syarat cukup nishab (520 kg beras), jika harga beras yang biasa dikonsumsi Rp 8.000 maka nishabnya 520 x Rp8.000 = Rp 4.160.000.

Dengan demikian, jika penghasilan yang diperoleh, dalam jangka waktu 1 bulan itu dikumpulkan, dan totalnya telah melewati batas nishab di atas, maka penghasilannya wajib dizakati sebesar 2.5 % atau minimal Rp104.000.

Kita ambil contoh, seorang freelance yang bulan ini total penghasilannya bulan ini adalah Rp4,5 juta maka zakat yang wajib dikeluarkan adalah 2,5% x Rp 4,5 juta sebesar Rp 112.500.

Jika bulan selanjutnya, ternyata penghasilannya tidak lebih dari Rp4,16 juta, maka ia tidak terkena kewajiban zakat. Namun sangat dianjurkan untuk bersedekah, tanpa batasan minimum jumlah uang yang akan dikeluarkan.
Karena, bersedekah itu besar fadilahnya. "Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensuci-kan jiwa itu". (QS Asy-Syams: 9)

Lebih jelasnya dibawah ini ada contoh lain dari perhitungan zakat gaji dan profesi yang tidak tetap dikeluarkan tiap bulan tergantung pendapatan gaji perbulan:

Yongki, seorang fotografer freelance. Setiap bulannya, jika ramai ia mampu membukukan penghasilan bersih hingga Rp5 juta perbulan. Maka, ia sudah terkena zakat. Ia wajib membayar zakat sebesar Rp2.5% x Rp5 juta atau sebesar Rp 125.000,-

Lalu, di bulan Ramadhan, order foto pernikahan hanya ada satu. Ia pun beralih berdagang buah kurma dan aneka pernak-pernik Ramadhan. Di akhir bulan berjalan, hasil dari jualan itu ditambah satu kali order foto pernikahan, ia membukukan penghasilan hanya Rp4 juta.

Itu artinya, penghasilan di bulan itu tidak terkena nishab. Maka ia tidak wajib membayar zakat. Namun, hal tersebut tidak mengurungkan niatnya untuk berinfak setiap harinya ke celengan mushalla dekat rumahnya, dari sebagian penghasilannya berjualan.

Kedua; zakat profesi/ gaji dianalogikakan dengan zakat emas/perdagangan ditunaikan setahun sekali dengan nishab emas 85 gram asumsi harga emas sekarang Rp. 500.000/ gram. Nishabnya setara setara dengan Rp. 42.500.000,-

Ini cara kedua untuk mengeluarkan zakat, bagi mereka yang berpenghasilan tidak tetap. Bisa ditotal selama satu tahun, dan dibayar sekaligus. Pembedanya adalah, nilai nishabnya mengacu pada nilai emas seberat 85 gram emas. Di mana, seluruh penghasilan yang diterima dijumlahkan, jika telah melebihi perhitungan nishab di atas, Rp42,5 juta maka wajib dikenakan zakat sebesar 2.5% atau nilai minimal nominal Rp.1.062.500,-

Masih dari contoh Yongki di atas, katakanlah penghasilannya rata-rata perbulan adalah sebesar Rp5 juta/bulan dengan fluktuasi penghasilan yang tidak lebih besar dari 20%, maka di akhir tahun akan didapat jumlah penghasilan sebesar Rp60 juta rupiah.

Hal tersebut berarti, penghasilan Yongki telah memenuhi nishab dan wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2.5% x Rp60 juta yakni sebesar Rp1,5 juta rupiah. Dan dibayarkan setelah tutup tahun (genap 12 bulan perhitungan).

Kondisi ini bisa dipakai, dan tergantung dengan kekuatan finansial sang muzakki. Pasalnya, membayar ratusan ribu per bulan tentu lebih ringan daripada membayar jutaan di akhir tahun. Karena akan memberatkan dan bisa saja di akhir tahun terjadi sesuatu pada kondisi darurat keuangan, sehingga dapat mengakibatkan tak mampu membayar zakat.

Semoga membantu, Wallahualam.
(dari berbagai sumber)

2015-04-20

Saat Imam Syafei Menginap di Rumah Imam Ahmad

Kisah Imam Syafei dan Imam AhmadSuatu ketika, Imam Syafei rindu dan ingin berjumpa dengan salah seorang anak muridnya yang cerdas lagi shalih. Siapa lagi kalau bukan Imam Ahmad bin Hambal. Sebagaimana kisahnya  ditemukan dalam kitab Min A’lamis Salaf (Edisi Indonesia : 60 Biografi Ulama Salaf ) karya Syaikh Ahmad Farid.

Syahdan, dalam kunjungannya itu Imam Syafei memutuskan untuk menginap. Kunjungan ulama besar lagi berilmu itu, ternyata meninggalkan kesan bagi putri Imam Ahmad bin Hambal. Ia melihat, sang imam guru dari ayahnya itu, dalam jamuan makan malam, Imam Syafei makan banyak dan lahap sekali.

Lalu, setelah masuk kamar untuk beristirahat, Putri Imam Ahmad pun tidak melihat Imam Syafii shalat malam. Dan yang lebih mengejutkan, ia tidak melihat sama sekali Imam Syafei berwudhu saat akan melangsungkan Shalat Subuh.



Karena heran dengan ‘perilaku’ ulama sekaliber Imam Syafei, membuat Putri Imam Ahmad pun bertanya terheran-heran dan menyampaikannya kepada ayahnya.

“Wahai Ayah, benarkah ini Imam Syafei yang sering Kau ceritakan?”.
Imam Ahmad menjawab, “Benar putriku!”“
“Ada tiga hal yang saya perhatikan darinya dan tampaknya tidak wajar ada pada seorang imam besar seperi Imam Syafei”, lanjut putrinya.

“Oya, apakah itu?”

“Pertama saat kami suguhkan makanan kepadanya, dia makan banyak sekali. Saya heran, bagaimana ia bisa makan sebanyak itu. Bukankah, kita harus menjaga perut dari makan yang terlalu banyak?
Kedua, saat dia masuk kamar, saya tidak melihat dia menjalankan shalat malam. Baru menjelang Subuh ia terbangun. Ketiga, saat shalat Shubuh dengan kita, dia sama sekali tidak berwudhu, padahal baru bangun tidur.” kata putrinya.

Imam Ahmad tersenyum dan diam saja, tentu ada penjelasan dari sang guru tentang apa yang ditanyakan oleh putrinya itu.

Dalam satu kesempatan, biidznillah, saat Imam Syafei berpapasan dengan Imam Ahmad bin Hanbal, lantas Imam Syafii berkata kepadanya tentang tiga hal yang dipertanyakan putrinya.
 .
“Wahai, Ahmad!”, kata Imam Syafei. “Aku makan banyak sekali saat bertamu dan menginap di rumahmu.Karena aku tahu bahwa makan-makananmu dari harta yang halal. Sesungguhnya engkau adalah orang mulia, dan makanan orang mulia adalah obat, dan makanan orang kikir adalah penyakit. Saya tidak makan untuk sekedar kenyang, sesungguhnya aku memakan makananmu untuk obat.”, jawab Imam Syafei.

“Adapun mengenai aku tidak shalat malam. Itu benar. Karena setiap kali aku meletakkan kepalaku untuk tidur, saya melihat seakan di depanku ada Al Quran dan Al Hadits, Allah membukanya untukku dengan 72 masalah ilmu fiqh. Aku berharap ummat memanfaatkannya. Dan saking asyik dan menikmati pengajaran ilmu malam itu, aku jadinya tidak menemukan kesempatan untuk shalat malam,” lanjut Imam Syafei.


Kemudian Imam Syafei juga berkata, “Terkait dengan shalat Shbuh yang tanpa wudhu, Demi Allah saya tidak tidur kecuali sebelumnya saya memperbarui wudhu. Sepanjang malam saya tidak tidur, maka saya shalat Shubuh dengan kalian dengan wudhu shalat Isya’”.

Subhanallah. Sungguh indah kisah dua orang yang dimuliakan oleh Allah karena ilmunya. Keilmuan mereka tak sebatas teori saja, namun sudah menetap dan mendarah daging dalam amalan sehari-hari. Semoga kita bisa mengmabil hikmah dari kisah di atas, wallahualam. (*)

2015-03-16

Kisah Nabi Sulaiman dan Rezeki Cacing Buta

Kisah Nabi Sulaiman dan Rezeki Cacing Buta

Nabi Sulaiman alayhissalam termasuk Nabi yang dianugerahkan Allah ta'ala beberapa keistimewaan. Seperti mampu menundukkan angin. Memerintah bangsa jin. Termasuk bisa mendengar dan memahami bahasa binatang, serta mampu pula berbincang dengan mereka. Berikut kisah Nabi Sulaiman dan Rezeki Cacing Buta.

Dalam sebuah riwayat, disebutkan suatu waktu Nabi Sulaiman alayhissalam tengah duduk di pinggir sebuah danau. Sejenak ia menebarkan pandangan ke sekeliling danau yang begitu hijau dan rindang. Banyak pepohonan kecil dan semak-semak yang tumbuh.


Beberapa hewan kecil dan serangga tampak sibuk dengan aktivitas masing-masing. Mencari makan di antara rerumputan. Suara mereka terdengar jelas oleh Sulaiman alayhissalam. Para hewan tersebut memuji dan bertasbih kepada Allah Swt atas rezeki yang mereka terima. Sulaiman pun ikut bertasbih memuji Allah Taala yang telah memberikan kelebihan dan nikmat yang banyak kepada dirinya.

Ia lalu memperhatikan iring-iringan semut, yang panjang berbaris, timbul tenggelam seiring dengan dataran batu kecil yang mereka lalui. Mata Sulaiman alayhissalam terus memperhatikan usaha gotong royong para semut yang begitu giat mengumpulkan makanan.
Kisah Nabi Sulaiman dan Rezeki Cacing Buta

Tiba-tiba mata beliau tertumbuk pada seekor semut yang tiba-tiba berjalan memisah dari rombongan. Sebutir gandum tampak terpikul di pundaknya. Ia berjalan menuju tepian danau. Dan di sana telah menunggu seekor kodok.

Tak berapa lama, kodok itu  membuka mulut dan sang semut yang membawa gandum tadi lantas masuk ke dalam mulut. Lalu sang kodok kemudian menyelam ke dasar danau, dalam waktu yang cukup lama.

Nabi Sulaiman alayhissalam merasa takjub dengan pemandangan barusan yang ia lihat. Barulah ia coba memikirkan apa yang sedang terjadi, tiba-tiba air danau terdengar berkecipak. Sang kodok melompat ke batu yang ada di pinggir kolam, dan membuka mulutnya.

Peristiwa aneh terjadi, sang semut keluar dalam keadaan sehat wal afiat. Sedangkan gandum yang ia bawa tadi, tak nampak lagi bersamanya.

Nabi Sulaiman alayhissalam lantas terheran-heran. Ia lalu memanggil semut dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi barusan. "Wahai semut kemarilah. Dari tadi aku melihat engkau dan kodok, apa sesungguhnya yang kalian lakukan. Dan apa yang kamu lakukan selama berada di mulut katak?” tanya dia heran.

"Salam ya Nabiyullah. Sesungguhnya di dalam danau ini terdapat sebuah batu yang cekung berongga dan di dalamnya ada seekor cacing buta," jawab semut.

Cacing buta itu tidak kuasa keluar dari cekungan batu itu untuk mencari penghidupannya. "Dan sesungguhnya Allah taala telah mempercayakan kepadaku urusan rezekinya," lanjut semut.
Kata si semut, Allah telah memberikan amanah kepadaku untuk membawakan rezeki bagi sang cacing yang sudah buta itu.

"Lalu, dengan bantuan kodok yang juga mendapat amanah sebagai pengantar bagiku ke dasar danau, aku pun bisa membawakan makanan untuk sang cacing. Dengan kuasa Allah taala, maka air ini tidaklah membahayakan bagiku".

Nabi Sulaiman alayhissalam pun bertambah keimanan di dalam dadanya. Ia lantas bertanya kembali; "Apakah kamu mendengar suara tasbih cacing itu?”

"Ya, cacing itu mengucapkan: Wahai Dzat Yang tidak melupakan aku di dalam danau yang dalam ini dengan rezeki-Mu, janganlah Engkau melupakan hamba-hamba-Mu yang beriman dengan rahmat-Mu."

Nabi Sulaiman alayhissalam lantas bersujud syukur kepada Allah subhana wataala dan larut dalam tafakurnya.

Demikianlah, Allah mengatur rezeki segenap makhluknya, termasuk manusia. Sebagaimana pesan Al Quran dalam surat Hud ayat 6; "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya."

Jika cacing buta yang terjepit di dalam batu di dasar danau sekalipun, Allah subhana wataala telah menjamin rezekinya, apatah lagi kita manusia yang mempunyai kemampuan usaha dan daya pikir. Tak sepantasnya kita meniadakan Allah subhana wataala dalam urusan mencari rezeki. Sebagaimana hikmah yang dapat kita tarik dari Kisah Nabi Sulaiman dan rezeki cacing buta di atas. Wallahualam. (*)

2014-11-03

Kisah Pemuda yang Mengejar Wanita Sempurna

Wanita Sempurna

Tersebutlah sebuah kisah tentang seorang pemuda yang hidup di Perth, Australia. Setelah menyelesaikan studi S1 dan bekerja di tempat yang cukup untuk menghidupinya, ia pun merasa sudah saatnya untuk mencari pasangan hidup yang sempurna.

Maka, ia pun mulai mencari-cari informasi untuk mendapatkan perempuan yang ia kira layak untuk menjadi istrinya. Wanita yang sempurna, baik dari segi fisik, kemampuan hingga hubungan sosial. Ia pun menjelajah ke seluruh negeri. Untuk menemukan sosok wanita sempurna sebagaimana yang ia idamkan.

Hari demi hari, berminggu-minggu ia mencari, ia pun bertemu dengan banyak gadus yang sangat cantik-cantik. Ada yang langganan masuk menjadi cover girl majalah perempuan.  Ada pula wanita yang tetap mempesona walauppun wajahnya tak tersentuh polesan make-up berarti. Ada juga wanita yang cantik memikat dengan dandanan aduhai dan dengan make up tebal, kecantikannya memikat luar biasa.

Sang pemuda pun coba mendekati mereka satu per satu. Namun sayang, setelah didekati dan dicari informasi dari orang-orang dekatnya, sang pemuda tak ingin menikahinya. Karena, walaupun kecantikannya sempurna dan memikat hati siapa saja yang melihatnya, wanita itu tidak bisa memasak!

Apalah artinya, punya istri yang cantik dan pandai berdandan namun tidak bisa memasak apalagi ogah ke dapur! 

Pemuda itu melanjutkan pencariannya. Banyak sudah gadis-gadis muda yang ia temui. Namun kegagalan pertama, membuat ia berhati-hati dan coba mengedepankan kriteria bisa memasak menjadi prioritas nomor satu.

Setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan akhirnya ia menemukan informasi tentang seorang gadis yang ternyata bahkan lebih cantik lagi dari gadis pertama tadi. “Mungkin inilah wanita idamanku”, bathin sang pemuda.

Apalagi wanita tersebut juga sangat pandai memasak. Bahkan salah seorang rekannya,bahkan memuji masakannya enak seperti masakan restoran terbaik di Australia atau bahkan lebih baik lagi dari yang bisa dicicipi dari restoran keluarga. Gadis ini bahkan menjalankan usaha restorannya sendiri. 

Ia pun kemudian mengajak untuk bertemu sang gadis untuk sekedar saling mengenal satu sama lain. Setelah mengantarkan ke meja dan membuka percakapan. Betapa kagetnya sang pemuda saat di tengah pembicaraan, sang gadis sering terlihat bengong dengan topik percakapan yang ia buat. 

Rupanya, sang gadis tidak cukup pandai merespon pembicaraannya. Ia pun tak jadi menikahi gadis itu, yang dinilainya tidak sempurna untuknya. Menurutnya, gadis itu tak cukup pintar untuk bisa menjadi istrinya. Apa jadinya, walaupun makan makanan yang enak namun tidak nyambung saat diajak bicara di meja makan.

Maka ia pun pergi dan kembali mencari gadis idamannya dengan menambahkan kriteria lagi, pandai memasak dan pintar untuk diajak berkomunikasi.  

Pencarian dengan diliputi rasa lelah mulai membayang. Namun tidak ia rasakan begitu saja. Kembali berhari-hari, berminggu-minggu hingga berbulan-bulan ia mencari gadis idaman sesempurna kriterianya. 

Voila! Akhirnya ia menemukan sosok gadis yang langsung memikat perhatiannya. Tak hanya cantik gadis yang ini pun pandai memasak. Buktinya, ia memiliki tiga usaha restoran. Restoran ala Thai, ala Jepang dan ala Italia. Semuanya ia yang memimpin peracikan bumbu dan menjaga kualitas rasanya.

Gadis ini pun sangat cerdas karena di tengah kesibukannya ia mempunyai beberapa deret gelar akademis dan sertifikat keahlian dari lembaga internasional. 

Saat berkesempatan menyapa, betapa sang pemuda dapat merasakan gadis ini begitu hebat, baik dan welas asih. Pembicaraan yang berlangsung pun mudah nyambung. Senyumnya memikat dan masakannya pun sangat enak. Sangat sempurna.

Sang Pemuda pun memutuskan bahwa inilah calon istriku yang sangat sempurna. Maka ia pun mencoba melamar dalam suatu kesempatan. 

Namun sayang, sang gadis meminta maaf. Karena ia sendiri tengah mencari sosok pria yang sempurna, mapan dan mampu menjadi pendamping yang seimbang untuk kehidupan pribadi serta karirnya. Dan hal itu tidak sang gadis lihat dari sang pemuda! (*)

2014-09-22

Arloji yang Hilang


Arloji
Arloji yang Hilang -- Alkisah di dalam hutan, ada sekelompok tukang kayu yang sedang bekerja. Mulai dari menebang kayu, memotong dahan, menggergaji gelondongan batangnya dan membentuk profil. Ada salah seorang dari mereka bernama Pak Amat, yang sedang giat membelah gelondongan kayu. Keringatnya mengalir tanda ia tengah bekerja keras di perusahaan kayu ternama itu.

Saat sedang membungkuk, tiba-tiba arlojinya meloncat keluar dari kantung bajunya. Membentur sebentar di selasar kayu lalu jatuh terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu.

Ia segera mematikan peralatan dan beranjak ke arah timbunan serbuk penggergajian kayu tadi. Ia merunduk dan mulai mengaduk-aduk. Keningnya yang telah basah oleh keringat, berkernyit ia tidak berhasil menemukan arlojinya.

Arloji itu sangat berharga dan bersejarah. Arloji itu pemberian dari seorang sahabatnya yang sekarang tinggal di Amsterdam, Belanda. Ia teramat sangat mencintai arloji tersebut. Karenanya, ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Kembali ia  membolak-balik timbunan sisa-sisa kayu. 
Arloji
Pencariannya pun meluas, hingga radius lima meter dari tempatnya bekerja semula. Sambil mencari tak hentinya bibirnya mengeluh, mengapa ia ceroboh sekali sampai harus menghilangkan arloji itu.

Teman-teman Pak Amat yang melihatnya kebingungan, ikut membantu mencari. Tapi anehnya, mereka tidak menemukan arloji itu! Setelah cukup lama mencari. Pak Amat putus asa. 

Saat makan siang, mereka para pekerja berpencar mencari makan dan meninggalkan sementara bengkel kayu tersebut. Pak Amat berjalan gontai. Ia sama sekali tidak semangat untuk makan di siang itu. Pikirannya masih berkecamuk memikirkan arlojinya yang hilang itu.

Tak lama setelah Pak Amat dan para pekerja meninggalkan tumpukan sisa penggergajian tadi, datang seorang anak kecil. Rupanya, anak kecil ini lama memperhatikan Pak Amat dan teman-temannya mencari arloji. Ia diam sejenak lalu menjongkok dan mencari dalam tumpukan serbuk yang sama. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut.
Arloji
Segera ia hampiri Pak Amat yang lagi lesu sendirian dan menyerahkan arloji kesayangannya itu. Pak Amat terlonjak kegirangan dan amat gembiranya. Saking gembiranya, ia menawarkan separuh makan siangnya untuk dinikmati bersama anak itu.

Seusai makan, Pak Amat yang masih sumringah karena arlojinya berhasil ditemukan, bertanya penuh heran kepada sang anak. “Bagaimana bisa kau menemukan arloji itu? Sedangkan kau lihat, aku dan teman-temankku tadi sudah memeriksa dan membolak-balik segala sampah yang ada di sana..”, tanya Pak Amat.

Sang anak sambil menyeka bekas minum di bibirnya lantas bercerita. “Entahlah. Aku lihat kalian mencari sesuatu. Dan salah seorang dari kalian berkata arloji. Aku tertarik ingin membantu. Tapi aku menunggu kalian pergi dulu. Saat sepi, aku bisa mendengar suara arloji itu berdetik. Tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada", jawab anak itu polos.

Teman, apa yang disampaikan sang anak adalah tentang keheningan. Dan tahukah kita bahwa keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Kita lebih sering terjerumus dalam seribu satu macam 'kesibukan dan kegaduhan', sadar ataupun tidak.

Hikmah yang ingin disampaikan dalam cerita di atas adalah, saat menghadapi persoalan. Ada baiknya kita coba menjaga jarak terhadap persoalan untuk menenangkan diri kita terlebih dahulu. Sebelum kemudian mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan. Mendengarkan detik arloji yang hilang sebelum menemukannya kembali. 

2014-08-05

Ajaklah Ibumu Makan Malam

“Seorang ibu bisa mengurus sepuluh orang anak, tapi sepuluh orang anak belum tentu mampu mengurus seorang ibu”.

Membahagiakan Ibu
Suatu hari seorang wanita duduk santai bersama suaminya, dan bertanya, ”Tidakkah engkau ingin keluar makan malam bersama ibumu?”.

Suaminya kaget.

Wanita itu berkata pada suaminya, ”Selama kita bersama tak pernah engkau bersama ibumu walau sejenak saja, hubungilah dia. Ajak makan malam berdua. Luangkan waktumu untuknya”.

Suaminya terlihat bingung, seakan-akan ia lupa pada ibunya.

Maka hari itu juga ia menelpon ibunya, menanyakan kabar dan berkata “ Ibu, bagaimana kalau kita keluar makan malam. Saya akan menjemput ibu, bersiaplah”.

Ibunya heran, ” Anakku, apakah terjadi sesuatu padamu?”. Jawabnya,”Tidak ibu”.
Ibunya kembali bertanya, ”Saya keluar bersamamu anakku?”

Ibunya seorang janda, ayahnya telah lama wafat, dan anak lelakinya teringat padanya setalah 21 tahun pernikahannya. Hal yang sangat menggembirakannya.

Saat laki-laki itu menjemputnya, wanita tua itu sudah menantinya di depan pintu. Terlihat benar wajah bahagia dari sang ibu saat menaiki mobilnya. 

Ia berujar, “Anakku, aku telah memberi tahu keluarga dan tetangga di sekitar rumah ku kalau aku akan makan malam bersama anakku. Dan mereka menunggu ceritaku sepulang nanti”.

Setiba di restoran, mereka lalu memesan makan. Sang anak melihat, ibunya membaca daftar menu dan sesekali melirik kepada anaknya. Sang anak paham, ibunya sudah tua dan matanya tak awas lagi melihat menu-menu yang ada.
Membahagiakan Ibu
Ia tawarkan kepada sang ibu untuk membacakan menu yang ada. Ia segera mengiyakan dan berkata, “ Saya mengingat sewaktu kau masih kecil dulu, saya yang membacakan daftar menu untukmu, sekarang kau membayar utangmu anakku. Kau bacakanlah untukku”

Maka sang anak mulai membacakan untuknya, dan demi Allah semburat kebahagiaan membuncah mengguncang dadanya.

Tak lama kemudian, datanglah makanan pesanan mereka. Sang anak mulai memakannya. Tapi tidak dengan ibunya. Ia sama sekali tak menyentuh makanannya. Ia hanya duduk memandang anaknya dengan tatapan bahagia. Karena rasa gembira ia merasa tak selera untuk makan.
Membahagiakan Ibu
Dan ketika selesai makan, mereka pun pulang, dan sungguh. Dalam hati sang anak menggumam, “Sungguh, tak pernah kurasakan kebahagian seperti ini setelah bertahun-tahun. Saya telah melalaikan ibuku 21 tahun lamanya”.

Setiba di rumah, sang anak bertanya lagi kepadanya : “ Ibu, bagaimana jika waktu lain kita makan keluar lagi?”

Beliau menjawab,” Saya siap kapan saja kau memintaku!”

Maka haripun berlalu, sang anak sibuk dengan pekerjaannya lupa dengan janjinya sampai terdengar kabar bahwa Ibunya jatuh sakit. Dan beliau selalu menanti malam yang telah dijanjikan.

Hari terus berlalu dan sakitnya kian parah. Dan sang Ibu akhirnya meninggal tanpa malam kedua yang dijanjikan padanya.

Setelah beberapa hari, seseorang menelpon sang anak. Ternyata dari restoran yang dulu didatanginya bersama sang ibu. Dia berkata,” Anda dan istri Anda memiliki pesanan kursi dan hidangan makan malam yang telah dibayar”.

Maka mereka pun pergi ke restoran itu. Pelayan di sana mengatakan bahwa seluruh pesanan makanan di meja sudah dilunasi dan menyampaikan sepucuk surat yang ternyata dari ibunya,

“Anakku, sungguh saya tahu bahwa tak akan hadir bersamamu untuk kedua kalinya. Namun, saya telah berjanji padamu, maka makan malamlah dengan uangku, saya berharap istrimu telah menggantikanku untuk makan malam bersamamu”

Pria itu menangis membaca surat dari ibunya. “Dimana saya selama ini? Di mana cintaku untuk Ibu? Selama 21 tahun….”. (*)

2014-07-17

Suspended Coffees - Kopi yang Ditangguhkan

Suspended Coffees Stories
Memberi tak selalu harus berhadapan. Memberi pun tak musti tahu siapa yang akan diberi, dan siapa yang akan memberi. Ikhlas memberi tak akan mensyaratkan apapun. Tak menawar siapa dan bagaimana. Seperti kisah di bawah ini :

Di sebuah kota, seorang pemuda datang bersama temannya ke kedai kopi kecil. Mereka menuju ke meja kasir untuk memesan kopi dan kue. Setelah itu mereka pergi ke meja dan mulai mengobrol.
Di tengah asyik berbincang, matanya melihat dua orang yang menuju ke counter dan bilang kepada pegawai di sana. “Kami pesan lima kopi. Dua untuk kami, tiga tolong ditangguhkan, suspended Coffes. Mereka membayar pesanan dan membawa dua kopi pesanannya lalu pergi.

Suasana kedai yang cukup hening, membuat pemuda tadi bisa mendengar percakapan mereka. Ia lalu bertanya kepad rekan di sampingnya, “Apa itu suspended coffee?”.

Suspended Coffees StoriesTemannya mengulas senyum dan mengangkat bahunya dan berkata, “Tunggu dan lihat saja”.
Sang Pemuda menjadi semakin penasaran. Tak beberapa lama, datang lagi pengunjung lain. Dua orang gadis datang. Masing-masing memesan satu kopi, membayar di kasir lalu pergi. Antrian berikutnya, tiga orang berbaju parlente, dugaan sang pemuda, ketiganya adalah pengacarar, memesan tujuh gelas kopi dan kue. Tiga untuk mereka dan yang empat ditangguhkan.

Pemuda makin penasaran, ia menebak-nebak dalam hati. Apa yang dimaksud dengan transaksi kopi ditangguhkan itu?

Tak berapa kemudian, datang seseorang dengan pakaian lusuh. Ia pengemis, atau mungkin Tuna Wisma. Ia berdiri sejenak di depan pintu kedai lalu masuk. Dengan sangat sopan ia menghampiri penjaga toko dan bertanya, “Apakah Anda punya kopi yang ditangguhkan?”.

Sang pelayan tersenyum dan mengangukkan kepala. “Apakah anda ingin dibungkus atau minum di sini?” tanya sang pelayan.

“O, terima kasih, saya bungkus saja”.

“Baiklah, tunggu sebentar”. Sang Pelayan dengan cekatan segera membungkus kopi yang ditangguhkan dan dua potong kue.

Sang tuna wisma menerimanya dengan senyum berbinar. Setelah mengucapkan terima kasih ia membungkukkan badannya dan berlalu dari kedai tersebut.

Pemuda itu terpana, tenggorokannya terasa tercekat. Kisah memberi yang sederhana. Seseorang membayar di muka pesanan kopinya kemudian diniatkan untuk membantu orang yang tidak mampu membeli minuman hangat.

Suspended Coffees Stories
Tradisi kopi ditangguhkan ini dimulai di Kota Naples, Italia. Dan sekarang telah menyebar ke seluruh dunia bahkan di beberapa tempat kita dapat memesan tidak hanya kopi ditangguhkan, tetapi juga sandwich atau makanan kecil lainnya.

Alangkah indahnya, bila pemilik kedai kopi atau toko di setiap kota melakukan hal ini sehingga mereka yang kurang beruntung dapat menemukan rasa kebersamaan dan perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Sekali pun tidak dikenal sama sekali. Semua bias dimulai dari sebuah Suspended Coffees - Kopi yang Ditangguhkan (*) 
 

2014-02-03

Mencecap Kebersamaan dengan Rasulullah Saw

Rindu Rasulullah

Sungguh.

Ketika menceritakan kembali tentang Rasulullah Saw, dada kaum mukmin pasti akan bergetar. Mungkin ada kerinduan di sana. Mungkin ada keinginan untuk menteladani perilakunya, yang boleh jadi sampai hari ini separuh pun belum bisa kita samai sama sekali. Atau juga, rasukan kesedihan itu tiba-tiba mengambang di pelupuk mata. Bagaimana rangkaian perjuangan dan penderitaan, berpilin-berkelindan sepanjang hidup Rasulullah Shalallahualaihi wasallam. Namun hal tersebut tak pula mengendurkan kasih sayangnya kepada kita, umatnya. Bahkan menjelang akhir hayatnya pun, yang terdengar lirih dari bibirnya, ummati-ummati..

Ingatlah, saat menjelang Rasulullah Shallahu alaihi wasallam wafat, Nabi Shallahu alaihi wasallam memanggil para sahabatnya untuk berkumpul. “Wahai kaum Muslimin siapakah di antara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil Qhisos, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang itu lebih baik dari pada nanti aku akan menanggung semuanya di akherat.

Semua sahabat terdiam ,lalu berdirilah Sahabat yang bernama Ukasyah Ibnu Muhsin, “Saya Ya Rosul. Saya akan menuntut hukuman Qhisas kepadamu. Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat mencium paha mu. Saat itu engkau melecutkan Tongkat kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambungku” ucap ‘Ukasyah dengan lantang
.
    “Baiklah Ya Ukasyah. Aku akan terima hukuman Qhisas ini”, jawab Rasululullah Shallahu alaihi wasallam, lalu Ia menyuruh bilal mengambil tongkat Nya di rumah Fatimah, anaknya. Bilal pun bergegas menuju Rumah Fatimah.
    “Apa yang akan dilakukan Ayahku dengan tongkatnya wahai Bilal”, tanya Fatimah.
    “Ada seoarang sahabat yang akan melakukan Qhisos Kepada Rasulullah Shallahu alaihi wasallam,” jawab Bilal.
    Dengan nada marah Fatimah menjawab, ”Siapa gerangan yang tega mengqhisos kepada Rasulullah“!! 
    Bilal tidak menjawab dan bergegas pergi untuk menyerahkan tongkat tersebut kepada Rasulullah Shallahu alaihi wasallam.
    Lalu Rasulullah Shallahu alaihi wasallam menyerahkan tongkat tersebut kepada Ukasyah bin muhsin, untuk segera melakukan qhisas terhadap Rasulullah Shallahu alaihi wasallam.
    Lalu tiba-tibalah berdirilah Sahabat Abu bakar dan Umar, “Hai Ukasyah biar aku saja yang menggantikan Rasulullah Shallahu alaihi wasallam untuk diqhisas. Kau pilih bagian mana saja sesukamu untuk kau pukul tongkat itu ke tubuhku,” kata Abu Bakar radiyallahu anhu yang sejak tadi menahan amarah karena tidak tega melihat Rasulullah akan di sakiti.
    “Jangan Hai Abu Bakar, Allah telah menempatkan kedudukan dan niatmu di akherat nanti. Duduklah,” jawab Rasulullah Shallahu alaihi wasallam.
    Bangkitlah Sayyidina Ali, ”Aku kemana-mana selalu bersama Rasulullah Shallahu alaihi wasallam, maka qishas lah aku. Jangan kau qhisas Rasulullah,” kata Sayyidina Ali radiyallahu anhu.
    “Duduklah hai Ali. AllAh juga telah menempatkan kedudukan dan niatmu,” jawab Rasulullah Shallahu alaihi wasallam.
    Lalu, tampillah cucu-cucu kesayangan Rasulullah Shallahu alaihi wasallam, Hasan dan Husein di tengah kerumunan Sahabat. “Kamu tahu, kami adalah cucu-cucu Rasulullah, biar kami saja yang kau qhisas. Itu sama saja dengan kau mengqhisas Rasulullah Shallahu alaihi wasallam ” kata Hasan-Husein.
    “Duduklah kalian Wahai dua bola mataku.” kata Rasulullah Shallahu alaihi wasallam.
    Suasana begitu tegang dan mengharukan, karena semua sahabat tidak tega manusia mulia yang mereka cintai akan dicambuk dengan tongkat oleh Ukasyah.
    Lalu Ukasyah meminta kepada Rasulullah Shallahu alaihi wasallam untuk membuka bajunya. “Wahai Rasulullah Shallahu alaihi wasallam sewaktu kau memukulku dengan tongkat, waktu itu aku sedang tidak pakai baju. Jadi aku minta kepada engkau untuk melepaskan bajumu,” kata Ukasyah.
    Lalu Rasulullah Shallahu alaihi wasallam membuka bajunya terlihatlah tubuh Rasulullah Shallahu alaihi wasallam yang putih bersih memancarkan cahaya, tiba-tiba Ukasyah memeluk tubuh putih tersebut sambil menciumnya dengan linangan air mata ukasyah yang menempel di tubuh Rasulullah Shallahu alaihi wasallam sambil berkata, “Ya Rasulullah Shallahu alaihi wasallam siapa yang tega memukulmu. Aku hanya ingin memeluk dan mencium tubuh sucimu agar tubuhku bisa terlindungi dari jilatan api neraka.”
    Para sahabat yang sejak tadi manangis meyaksikan peristiwa tersebut berkumandang takbir.
    Rasulullah pun berkata, “Wahai para sahabatku kalau kau ingin melihat penghuni surga dialah orangnya.“ kata Rasulullah Shallahu alaihi wasallam sambil memeluk Ukasyah.
    Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah dan para sahabat yang lain berebut mencium Ukasyah. Pekikan takbir kembali menggema. “Wahai Ukasyah berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian pasti, bergembiralah engkau, karena engkau menjadi salah satu yang menemani Rasul Allah di surga,” kata para sahabat.
* **
    Siapa yang tidak sedih ketika kita mengenang kembali peristiwa tersebut. Bagaimana mungkin, para sahabat yang jelas-jelas hidup dalam satu masa dengan beliau, masih mengharap dapat terus dekat dengannya bahkan mencuri-curi kesempatan untuk memeluk dan menciumnya, saking cinta dan kagumnya mereka.
    Sedangkan kita yang terpisah jauh selama berabad-abad, hanya mampu membayangkan sosok beliau dan merindukan bisa berjumpa di hari akhir kelak. Sungguh, tanpa tauladan yang baik dari beliau, takkan mungkin para sahabat bisa ter-tarbiyah seperti itu. Tidaklah mengherankan jika kemudian Allah azza wa jalla memberikan gelar uswatun hasanah kepada Rasulullah Shallahu alaihi wasallam.
    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)
    Boleh jadi kita terpisah oleh waktu, namun dalam sebuah riwayat disebutkan, dalam suatu majelis pertemuan Rasulullah Shallahu alaihi wasallam bersama para sahabatnya. Suasana tiba-tiba hening.
    “Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?” Sayyidina Abu Bakar radiyallahu anhu akhirnya bertanya memecah kesunyian.
    “Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan),” suara Rasulullah bernada rendah.
    “Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain pula.
    Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Baginda bersuara,
    “Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasul Allah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka.”
    Atau dalam kesempatan yang lain, Rasulullah Shallahu alaihi wasallam berujar kepada para sahabatnya.
    “Siapakah yang paling ajaib imannya?” tanya Rasulullah.
    “Malaikat,” jawab sahabat.
    “Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka senantiasa dekat dengan Allah,” jelas Rasulullah.
    Para sahabat terdiam seketika. Kemudian mereka berkata lagi, “Para nabi.”
    “Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka.”
    “Mungkin kami,” selah seorang sahabat.
    “Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian,” pintas Rasulullah menyangkal hujjah sahabatnya itu.
    “Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya saja yang lebih mengetahui,” jawab seorang sahabat lagi, mengakui kelemahan mereka.
    “Kalau kamu ingin tahu siapa mereka, mereka ialah umatku yang hidup selepasku. Mereka membaca Al Quran dan beriman dengan semua isinya. Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku. Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah berjumpa denganku,” jelas Rasulullah.
    “Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka,” ucap Rasulullah lagi setelah seketika membisu. Ada berbaur kesayuan pada ucapannya itu.
* * *
    Begitulah. Bukan jarak dan masa yang menjadi ukuran. Bukan bertemu wajah itu syarat untuk membuahkan cinta yang suci. Pengorbanan dan kesungguhan untuk mendambakan diri menjadi kekasih kepada kekasih-Nya itu, diukur pada hati dan terbuktikan dengan kesungguhan beramal dengan sunnahnya.
    Dan insya Allah umat akhir zaman itu adalah kita. Pada kita yang bersungguh-sungguh mau menjadi kekasih kepada kekasih Allah itu, wajarlah bagi kita untuk mengikis cinta-cinta yang lain. Cinta yang dapat merenggangkan hubungan hati kita dengan Baginda Rasulullah saw.    

2012-10-01

Nasehat Ramadhan : Bahagia saat Hati dinaungi Keimanan

Nasehat Ramadhan 01 --  Sungguh bahagia seorang hamba yang hatinya dinaungi dengan keimananan. Sungguh terhormat seorang hamba yang selalu mengingat Allah. Sungguh mulia mereka yang bersyukur atas rahmat Allah yang diberikan kepadanya, umur yang panjang, jiwa dan pikiran yang sehat, kehidupan tentram, dan kenikmatan lainnya.
Nasehat Ramadhan Ini

Semalam, Allah mematikan sementara diri kita di saat tidur untuk istirahat guna melepas lelah dan kepenatan tubuh setelah beraktifitas sepanjang hari. Dan pagi ini, Allah membangunkan kita dengan cinta Nya. Maka kita pun bangun dan memulai hari ini dengan bersemangat. Apalagi ini hari pertama kita berpuasa, di mana setiap orang pun merasakan kebahagiaan dalam menyambut dan menjalankan puasa pertama pada Ramadhan kali ini.

Untuk itu, tidak sekadar kita bertanya, “Apa kabar Anda hari ini?” tentu saja kita semua berharap bahwa kondisi kita selalu baik-baik saja di setiap hari nya, dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Tahukah kamu duhai saudaraku, keadaan baik pada diri seseorang itu tidak semata dilihat dari fisiknya namun mencakup kesehatan ruhani.

Sehingga pernah seorang sahabat Rasulullah Saw menyapa sahabat lainnya, “Bagaimana keadaan imanmu hari ini, duhai sahabatku?” Mungkin kita tidak serta merta langsung menjawab, akan ada proses berfikir yang cukup lama, apakah iman kita baik atau tidak setelah menjawabnya.

Sudah semestinya keimanan ada dalam hati setiap orang. Karena dengan iman, seseorang menjadi bertanggung jawab, ikhlas melaksanakan segala kewajibannya dengan sebaik mungkin. Baik kewajiban dalam hal keduaniaan maupun akhirat.

Sebagai seorang muslim, Allah memberikan amanah kepada kita, salah satunya sebagai Habibullah (hamba Allah), yang kemudian timbullah konsekuensi pada diri kita untuk menyembah Nya. Mari kita Bangun Keimanan dalam Diri Kita Allah Swt adalah pencipta yang sangat mencintai makhluknya sudah barang tentu kita pun mengimaninya.

Tausyah dan Nasehat Ramadhan
Yakni dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Nya, dan tidak sekali-kali menyukutukan Dia dengan yang lainnya. Selain itu kita pun memiliki rukun iman lainnya yang bukan hanya untuk dihafal tapi bisa juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain beriman kepada Allah, kita juga harus beriman kepada makhluk Ghaib maka percayai bahwa selain manusia, Allah menciptakan malaikat, jin, dan setan di dunia ini. Mereka semua diciptakan tidak lain untuk beribadah pada Allah. Jika kita merasa beriman kepada utusan Nya yakni Nabi dan Rasul, maka ikutilah jalan mereka, sunnah-sunnahnya.

Dan jika kita merasa beriman kepada kitab-kitab Nya (al Quran) maka bacallah, pelajari, berusaha pahami, dan ambil hikmah serta terapkan dalam keseharian kita, jangan hanya memajangnya di rak buku tanpa pernah memegangnya. Bagi kita yang juga beriman kepada hari akhir, mengapa kita tidak terus memperbaiki diri?

Buanglah segala keburukan yang ada pada diri kita karena hari akhir (kematian atau kiamat) kapan saja bisa terjadi pada diri kita, dan semua nya akan diminta pertanggung jawabannya. Serta bagi kita yang merasa berima kepada takdir, maka percayalah segala sesuatu yang ada di dunia ini berjalan atas kehendakNya.

Jadi, terimalah apa yang terbaik menurutNya. Duhai saudaraku, orang beriman akan selalu menjaga kehormatannya dan kehormatan muslim lainnya, diakan membentengi dirinya dari sifat buruk. Mereka akan menjaga pandangannya dari sesuatu yang menimbulkan syahwat, menjaga hati dengan nilai Islam, menjaga lisannya dari perkataan yang dapat melukai hati orang lain, menjaga hartanya dari barang haram.

Nasehat Ramadhan untuk Anda Mereka juga seorang yang menghormati orang lain, sopan santun dalam bertingkah laku, dan tidak menjelekkan muslim lainnya. Allah memberi balasan terhadap orang-orang yang beriman. Sebagaimana firmannya, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rejeki buah-buahan dalam surga-surga itu….” (QS Al Baqarah [2] : 25)

Dengan melihat janji yang ditetapkan Allah, jadikan sebagai motivasi diri untuk menjadi seorang muslim yang beriman. Karena kematian bisa datang kapan saja, sehingga kita pun harus mempersiapkan apa yang menjadi bekal kita untuk akhirat kelak.

Di hari pertama puasa inilah, kita berudaha memupuk semangat kita agar bisa sampai di penghujungnya 30 Ramadhan. Kita berharap, semua muslim di dunia diberikan tenaga dan kekuatan pada fisik untuk terus menjalankan puasa dan beraktifitas selama Ramadhan. Demikian nasehat Ramadhan di hari pertama ini semoga bermanfaat!

Wallahualam bishawab.